2 months ago

Mahasiswa KKM 36 Ardhacitta Hadiri Diskusi Lintas Agama di Pertapaan Karmel Ngadireso

Header Image
NURMADJIDA MARDJABESSY

230301110019 • KKM Reguler Semester Ganjil • G.36

ARDAHCITTA – (21/01/2026) Mahasiswa KKM 36 Ardhacitta UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menghadiri kegiatan Diskusi Lintas Agama yang mengusung tema “Berbeda adalah Anugerah: Menyemai Nilai-Nilai Kebersamaan dalam Keberagaman dan Keberagamaan.” Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 21 Januari 2026, mulai pukul 07.30 WIB hingga selesai, bertempat di Rumah Pertapaan Karmel Ngadireso, Kecamatan Poncokusumo.



Diskusi ini menghadirkan Sr. Marie A., P. Karm selaku Pimpinan Rumah Pertapaan Karmel, Moh. Mahpur sebagai Aktivis Lintas Agama sekaligus Kepala Pusat Pengembangan Moderasi Beragama (PKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, serta Ning Nazila sebagai ulama perempuan. Kegiatan berlangsung dalam suasana yang terbuka, hangat, dan penuh rasa saling menghormati.



Dalam pemaparannya, Moh. Mahpur menyampaikan bahwa merawat toleransi keagamaan merupakan sebuah proses yang perlu dibangun secara sadar dan berkelanjutan. Ia menuturkan, “Saya sebagai orang tua melatih anak-anak saya untuk tidak memilih-milih ketika menjadi manusia.” Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam membangun keberanian untuk berdialog. “Harus ada anak muda yang berupaya melawan pikiran kita sendiri. Kita perlu berani duduk bersama agama-agama lain dan berdiskusi lintas agama,” ujarnya.



Sr. Marie A. menyampaikan bahwa perbedaan adalah anugerah yang patut disyukuri. “Saya mensyukuri keberagaman yang ada dalam kehidupan saya. Siapa pun agamanya yang ingin datang ke sini, kami membuka pintu pertapaan kami,” tuturnya. Ia menjelaskan bahwa secara umum masyarakat dapat mengikuti kegiatan yang ada, kecuali kegiatan tertentu yang bersifat khusus internal Katolik.



Ia juga menjelaskan bahwa Rumah Pertapaan Karmel didirikan sebagai “oasis”, yaitu tempat persinggahan bagi siapa saja yang ingin merasakan ketenangan dan keheningan. “Tempat ini bukan untuk mengkatolikan orang. Kami membuka diri sebagai tempat persinggahan agar siapa pun bisa mendapatkan kesegaran dan kedamaian, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya,” jelasnya. Ia juga menyampaikan rasa syukur atas anugerah Tuhan serta komitmennya untuk membuka tangan kepada siapa pun dalam semangat kasih dan kebaikan.



Sementara itu, Ning Nazila mengaitkan perbedaan dengan kajian psikologi perkembangan. Ia menjelaskan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan suci, namun dalam proses pertumbuhannya dipengaruhi oleh nilai, moral, lingkungan, pola asuh, serta latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Hal inilah yang membentuk karakter dan cara pandang setiap individu. “Jangan sampai kita memaksakan idealisme kita kepada orang lain. Dalam Islam, perbedaan adalah rahmah,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa pertemuan lintas agama ini merupakan bentuk ta’aruf atau saling mengenal untuk membangun sikap saling menghargai serta menguatkan semangat Bhinneka Tunggal Ika.



Pada sesi tanya jawab, Ahmad Faizur Ramadhan menanyakan bagaimana cara menyampaikan misi perdamaian kepada mahasiswa maupun masyarakat yang masih memiliki pandangan keagamaan yang kaku, terutama ketika nilai toleransi sudah diajarkan namun belum sepenuhnya diterapkan. Pertanyaan juga diajukan terkait isu kepemimpinan perempuan di Rumah Pertapaan Karmel serta peran guru dalam menanamkan sikap toleransi kepada anak-anak.



Menanggapi pertanyaan tersebut, Moh. Mahpur menjelaskan bahwa pola pikir yang kaku sering kali terbentuk dari lingkungan terdekat seperti keluarga dan pendidikan. Ia mengajak peserta untuk menyadari hal tersebut dan melakukan perubahan secara bertahap. “Melawan kekakuan itu tidak mudah, karena sering kali terasa nyaman. Maka perlu dibiasakan secara perlahan melalui pengalaman dan perjumpaan,” jelasnya.



Menjawab pertanyaan tentang kepemimpinan perempuan, Sr. Marie A. menjelaskan bahwa Rumah Pertapaan Karmel merupakan rumah pusat Putri Karmel yang dalam struktur yayasannya dipimpin oleh perempuan. Ia menyampaikan bahwa terdapat sekitar 50 suster yang mengabdikan diri di tempat tersebut. Struktur kepemimpinan tersebut bersifat internal dan tidak berkaitan langsung dengan hierarki gereja secara umum.



Sementara itu, Ning Nazila menegaskan bahwa sebelum menanamkan sikap toleransi kepada anak-anak, seorang guru perlu memahami terlebih dahulu makna toleransi dan memiliki pengalaman nyata dalam menerapkannya. “Sebelum mengajarkan toleransi kepada anak-anak, kita sebagai guru harus memahami terlebih dahulu apa itu toleransi dan memiliki pengalaman, sehingga lebih mudah dalam mengajarkannya,” tuturnya.



Keikutsertaan KKM 36 Ardhacitta dalam kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen mahasiswa dalam mendukung penguatan moderasi beragama dan membangun kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman. Melalui dialog ini, diharapkan nilai-nilai kebersamaan, saling menghargai, dan persaudaraan dapat terus tumbuh dalam kehidupan bermasyarakat.