Senja di Dusun Lemahbang, Desa Kemiri, tidak pernah datang dengan tergesa ia selalu datang dengan cerita. Ia hadir perlahan, melukis langit dengan guratan warna kekuningan yang menakjubkan tepat setelah waktu Asar berlalu. Di jam-jam ini, sekitar pukul empat sore. Udara dingin khas dataran tinggi Jabung mulai turun, menyusup ke balik jaket dan menyentuh kulit.
Namun, di sebuah mushola kecil, dingin itu seolah tak punya kuasa. Ada kehangatan lain yang menjalar, bukan dari api perapian, melainkan dari lingkar kebersamaan para ibu yang tengah merawat tradisi. Di sinilah kami, mahasiswa KKM yang masih asing, mencoba larut dalam rutinitas Diba’an warga yang sarat akan makna.
Jika diukur dengan angka, kegiatan ini mungkin dianggap sepi. Tidak ada ribuan jemaah, tidak ada pengeras suara yang menggelegar ke seluruh penjuru desa. Yang hadir hanyalah segelintir—kurang lebih 5 hingga 12 orang ibu-ibu yang dengan setia meluangkan waktu di sela kesibukan mereka setiap hari Senin.
Akan tetapi, justru di situlah letak kekuatannya. "Kecil, namun tak hilang." Frasa ini mungkin paling tepat menggambarkan suasana majelis ini. Jumlah yang sedikit itu justru menciptakan ikatan emosional yang jauh lebih kuat. Kegiatan ini bukan sekadar ritual menggugurkan kewajiban, melainkan sebuah bentuk eksistensi dan penghargaan warga Dusun Lemahbang terhadap nilai religius yang mereka junjung. Konsistensi (istiqomah) mereka adalah bukti bahwa syiar tidak melulu soal keramaian, tapi soal kedalaman hati.
Satu hal yang membuat kami tertegun adalah bagaimana para ibu ini melantunkan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak ada patokan nada kaku seperti rekaman kaset; mereka memiliki "cengkok" dan kombinasi nada tersendiri. Kreatifitas yang tak memabatasi jenis suara maupun kesukaan apapun.
Itu adalah bentuk kreativitas murni, sebuah proses alami yang lahir dari kebiasaan bertahun-tahun. Suara mereka sahut-menyahut, kadang tinggi melengking, kadang rendah syahdu, menciptakan harmoni yang unik. Tak ada satupun yang menghakimi jenis suara apapun dan bagaimanapun.
Suasana yang tadinya damai tiba-tiba terasa mencekam ketika salah satu ibu, dengan senyum ramah yang "mematikan", menyodorkan mikrofon ke arah kami. "Monggo, Mbak KKN," (Silakan, Mbak KKN, gantian), ucapnya lembut.
Detik itu, waktu serasa berhenti. Jantung kami berdegup lebih kencang dari senandung di mic. Ketegangan bukan karena kami tidak hafal bacaannya, melainkan karena ketidaksiapan kami menghadapi ragam nada kreatif yang mereka bawakan. Ada kepanikan yang tertahan di wajah teman-teman saya; mata yang saling melirik tajam, memberikan sinyal SOS tanpa suara. Nada apa yang harus kami pakai? Apakah kami akan merusak harmoni indah ini dengan suara sumbang kami?
Rasanya hampir ingin menangis saking gugupnya. Namun, melihat tatapan tulus dan menyemangati dari para ibu, kami memberanikan diri. Meski dengan suara bergetar dan nada yang mungkin terdengar kaku di telinga mereka, kami mencoba ikut serta. Dan di sanalah letak indahnya: mereka tidak menghakimi, justru tersenyum lebar mengapresiasi usaha kami.
Kegiatan rutin ini berakhir satu setengah jam sebelum Maghrib, saat matahari benar-benar pamit ke peraduannya. Kami pulang dengan perasaan campur aduk: lega karena telah melewati "ujian mic", namun juga penuh haru.
Diba'an di Dusun Lemahbang mengajarkan kami bahwa hal-hal yang terlihat kecil dan sepele di mata dunia, bisa jadi adalah hal yang paling berharga bagi sebuah komunitas. Di tengah dinginnya udara Jabung, kami menemukan kehangatan yang tak akan kami lupakan.