Pernikahan sering kali dianggap sebagai garis finis dari sebuah pencarian cinta, namun bagi remaja, melangkah ke jenjang tersebut tanpa persiapan matang ibarat terjun ke medan perang tanpa senjata. Fenomena pernikahan dini yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah menjadi alarm keras bagi kualitas generasi mendatang, tidak terkecuali di wilayah pedesaan yang kental dengan nilai tradisi. Melalui program pengabdian masyarakat di Dusun Besuki, Desa Wringinanom, kelompok KKM ARMONIA 23 UIN Malang hadir untuk menanamkan pola pikir "Cerdas Berencana" kepada para siswa SMP dan SMA sebagai upaya preventif memutus rantai pernikahan di bawah umur.
Kegiatan strategis ini dipimpin langsung oleh Fadel Muhammad, selaku Ketua KKM ARMONIA 23, yang menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa di Desa Wringinanom harus membawa dampak nyata bagi pembangunan karakter pemuda setempat. Fadel menyampaikan bahwa visi besar dari program ini adalah menciptakan agen perubahan dari kalangan remaja itu sendiri. Menurutnya, fondasi sebuah desa yang maju sangat bergantung pada bagaimana generasi mudanya mempersiapkan masa depan mereka dengan penuh perhitungan, bukan sekadar mengikuti arus sosial yang ada.
Sasaran utama sosialisasi ini adalah remaja usia sekolah (SMP-SMA) di lingkungan Dusun Besuki, karena pada fase inilah mereka mulai membentuk jati diri dan sering kali dihadapkan pada persimpangan antara melanjutkan pendidikan atau menikah muda. Cerdas berencana bukan sekadar slogan, melainkan ajakan bagi siswa SMP-SMA untuk memahami bahwa tubuh dan mental mereka masih membutuhkan waktu untuk tumbuh dengan sempurna. Mahasiswa KKM ARMONIA 23 ingin memastikan bahwa remaja Desa Wringinanom tumbuh menjadi pribadi yang memprioritaskan kematangan diri sebelum memikul tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga atau ibu rumah tangga.
Dalam sesi inti sosialisasi, Maulidatul Fikriyah hadir sebagai pemateri yang mengupas tuntas risiko di balik pernikahan dini dari berbagai sudut pandang. Beliau menekankan bahwa secara biologis, tubuh remaja belum sepenuhnya siap untuk proses reproduksi yang aman, sehingga pernikahan di usia sekolah sangat berisiko terhadap kesehatan ibu dan peningkatan angka stunting pada anak. Edukasi yang disampaikan oleh Maulidatul Fikriyah membuka mata para peserta bahwa menunda usia pernikahan hingga mencapai usia ideal bukanlah tentang menghambat kebahagiaan, melainkan tentang menghargai hak reproduksi dan kesehatan jangka panjang.
Selain aspek kesehatan, kematangan emosional menjadi pilar yang ditekankan bagi para remaja di Dusun Besuki melalui pendekatan yang interaktif dan humanis. Remaja SMP dan SMA yang masih dalam fase pertumbuhan cenderung memiliki emosi yang fluktuatif, sehingga sangat rentan terhadap konflik jika dipaksakan memikul beban rumah tangga terlalu dini. Melalui bimbingan ini, para siswa didorong untuk mengalihkan energi mereka pada pengembangan potensi diri, hobi yang produktif, dan organisasi. Kedewasaan seharusnya tidak diukur dari status pernikahan, melainkan dari kemampuan individu dalam mengelola emosi dan menyelesaikan masalah secara bijak.
Aspek pendidikan dan ekonomi juga menjadi poin krusial yang dibahas dalam diskusi bersama remaja Wringinanom. Menuntaskan wajib belajar 12 tahun hingga menapaki jenjang perguruan tinggi adalah investasi terbaik yang bisa dilakukan oleh remaja di Dusun Besuki untuk memutus lingkaran kemiskinan sistemik. Dengan memilih untuk cerdas berencana, siswa SMP dan SMA memiliki kesempatan untuk meraih cita-cita dan memiliki keterampilan kerja yang memadai. Hal ini menjadi krusial agar saat mereka membangun keluarga nanti, mereka telah memiliki kemandirian ekonomi yang mampu menopang kesejahteraan rumah tangga secara berkelanjutan.
Sebagai penutup, langkah yang diambil oleh KKM ARMONIA 23 UIN Malang di Desa Wringinanom adalah upaya kolektif untuk menciptakan fondasi bangsa yang kokoh dari lingkup terkecil. Pernikahan bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling siap. Dengan sinergi antara arahan Fadel Muhammad dan pemaparan materi dari Maulidatul Fikriyah, diharapkan remaja di Dusun Besuki mampu menjadi generasi yang visioner. Dengan perencanaan yang matang, kita tidak hanya menyelamatkan masa depan remaja dari risiko sosial, tetapi juga sedang mempersiapkan lahirnya keluarga-keluarga berkualitas yang akan membawa Desa Wringinanom menjadi wilayah yang lebih maju, cerdas, dan berdaya.