Mempererat Tali Silaturahmi: KKM 45 Ikuti Tradisi Tahlilan Rutin di Desa Kemiri
Jabung, Malang – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 45 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang memulai langkah awal pengabdian mereka dengan membaur bersama masyarakat melalui kegiatan spiritual dan sosial. Pada Jumat malam lalu, tim KKM 45 berkesempatan mengikuti rutinan Tahlil warga yang diselenggarakan di rumah salah satu penduduk di Desa Kemiri, Kecamatan Jabung.
Kegiatan tahlilan ini merupakan tradisi turun-temurun yang masih dijaga dengan sangat baik oleh warga setempat. Bagi kami, mahasiswa KKM 45, ini bukan sekadar menjalankan program kerja (proker), melainkan momen penting untuk "Sowan" dan memperkenalkan diri secara langsung kepada masyarakat di lingkungan yang paling akrab.
Menyelami Kearifan Lokal Lewat Doa Bersama
Suasana hangat menyambut kedatangan kami di salah satu rumah warga. Tanpa sekat, mahasiswa duduk bersila melingkar bersama para tokoh agama, sesepuh, dan pemuda desa. Lantunan selawat dan doa tahlil yang menggema menciptakan atmosfer yang tenang dan khidmat.
Menurut kami, mengikuti rutinan ini adalah strategi terbaik untuk:
Adaptasi Budaya: Memahami etika dan tata cara bersosialisasi warga Desa Kemiri.
Pendekatan Personal: Mengobrol santai pasca acara doa bersama memudahkan kami untuk menyampaikan rencana program kerja ke depan.
Membangun Kepercayaan: Kehadiran fisik mahasiswa di kegiatan rutin warga menunjukkan kesungguhan kami untuk menjadi bagian dari komunitas selama masa KKM.
Lebih dari Sekadar Rutinitas Spiritual
Bagi masyarakat Desa Kemiri, tahlilan hari Jumat bukan hanya tentang mengirim doa bagi kerabat yang telah tiada, tetapi juga menjadi wadah musyawarah warga. Di sela-sela hidangan khas pedesaan yang disajikan, kami berdiskusi ringan mengenai kondisi desa dan potensi-potensi yang bisa dikembangkan bersama.
"Kami merasa sangat terhormat bisa diterima di tengah-tengah warga. Tahlilan ini adalah jembatan hati antara mahasiswa dan masyarakat agar ke depannya komunikasi kami lebih lancar," ujar salah satu perwakilan Kelompok 45.
Penutup
Langkah awal di Desa Kemiri ini memberikan kesan mendalam. Kami belajar bahwa pengabdian masyarakat tidak selalu dimulai dengan proyek besar, tetapi bisa dimulai dengan duduk bersama, menundukkan kepala dalam doa, dan berbagi senyum di teras rumah warga.