Menanamkan Nilai Karakter Islami Melalui Gema Isra Mi’raj di Masjid Miftahul Jannah
MALANG – Momentum peringatan hari besar Islam seringkali menjadi ruang efektif untuk melakukan edukasi karakter bagi generasi muda. Hal inilah yang tercermin dalam rangkaian acara Tabligh Akbar Isra Mi’raj yang diselenggarakan di Masjid Miftahul Jannah pada Minggu, 14 Januari 2024. Dengan mengusung tema “Meneladani Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW untuk Meningkatkan Iman dan Akhlak Anak serta Masyarakat”, kegiatan ini tidak hanya sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah langkah nyata dalam pembinaan mentalitas religius sejak dini.
Peresmian yang Simbolis dan Sarat Doa
Acara dimulai dengan suasana khidmat yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, sesepuh masjid, hingga para mahasiswa KKM Pentaswara. Kehadiran para mahasiswa ini memberikan warna tersendiri dalam pengorganisasian acara yang lebih dinamis namun tetap menjaga marwah kesantunan.
Puncak dari sesi pembukaan ditandai dengan prosesi pemotongan pita secara simbolis. Dilakukan oleh perwakilan sesepuh masjid bersama koordinator mahasiswa, pemotongan pita tersebut menjadi representasi dari dimulainya perjuangan kecil anak-anak dalam mengasah keberanian mereka melalui perlombaan keagamaan. Prosesi ini ditutup dengan untaian doa bersama, memohon agar kegiatan ini menjadi wasilah (perantara) datangnya keberkahan bagi seluruh warga di lingkungan Masjid Miftahul Jannah.
Mengasah Keberanian Melalui Adzan dan Tartil
Memasuki agenda inti di hari pertama, perhatian jamaah tertuju pada panggung utama yang diisi oleh para peserta cilik. Dua cabang lomba yang dipertandingkan adalah Lomba Adzan dan Lomba Tartil Al-Qur’an. Penyelenggara tampaknya ingin menitikberatkan pada aspek dasar ibadah, yakni panggilan shalat dan interaksi dengan kitab suci.
Satu per satu peserta maju dengan penuh percaya diri. Pada cabang lomba adzan, suara lantang para peserta terdengar merdu memenuhi setiap sudut ruang masjid, merefleksikan kefasihan mereka dalam melantunkan kalimat-kalimat suci. Sementara itu, pada lomba tartil, suasana mendadak hening dan penuh kekhusyukan saat ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan dengan teknik tajwid yang terjaga.
Tim juri yang terdiri dari mahasiswa KKM dan tokoh agama setempat melakukan penilaian secara komprehensif. Indikator penilaian tidak hanya terpaku pada keindahan vokal semata, namun juga mencakup adab saat di panggung, ketepatan makhraj, serta kelancaran bacaan.
Apresiasi sebagai Motivasi Berkelanjutan
Salah satu aspek menarik dari kegiatan ini adalah pendekatan panitia dalam memberikan apresiasi. Menjelang penutupan hari pertama, seluruh peserta mendapatkan bingkisan (goodie bag) sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi dan keberanian mereka. Langkah ini diambil untuk menanamkan pemahaman bahwa dalam proses belajar agama, partisipasi dan usaha jauh lebih berharga daripada sekadar predikat juara.
Senyum puas dan binar bahagia terlihat jelas saat sesi foto bersama antara peserta, panitia, dan dewan juri. Dokumentasi tersebut menjadi penutup yang manis sekaligus pengingat bahwa masjid harus selalu menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak-anak.
Melalui kegiatan ini, diharapkan ghirah (semangat) keagamaan di lingkungan Masjid Miftahul Jannah terus terjaga. Lebih dari sekadar kompetisi, acara ini diharapkan mampu menjadi pemantik bagi generasi muda untuk lebih mencintai masjid dan menjadikan nilai-nilai yang dibawa oleh Rasulullah dalam peristiwa Isra Mi’raj sebagai pedoman dalam berakhlak di kehidupan sehari-hari.