3 months ago

Meneguhkan Kebersamaan Antar Kelompok KKM melalui Event Tempoe Doeloe di Wisata Umbulan Desa Ngadireso

Header Image
MUHAMMAD SYAIFULLAH

230605110129 • KKM Reguler Semester Ganjil • G.38

Di tengah arus modernisasi yang kian berkembang, eksistensi budaya lokal menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Tradisi, kesenian, serta kearifan lokal bukan sekadar rangkaian seremoni tahunan, melainkan representasi identitas kolektif yang membentuk karakter suatu masyarakat. Dalam konteks inilah, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 38 menghadiri Event Tempoe Doeloe di kawasan Wisata Umbulan, Desa Ngadireso, atas undangan KKM Kelompok Paramita Yasa (Kelompok 32) sebagai bentuk kolaborasi dan penguatan solidaritas antar kelompok KKM.



Kegiatan yang dimulai sejak pukul 07.00 WIB hingga selesai tersebut menjadi momentum kebersamaan lintas kelompok dalam satu ruang budaya yang sarat makna. Kehadiran Kelompok 38 bukan sekadar memenuhi undangan formal, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran sosial yang kontekstual. Event Tempoe Doeloe menghadirkan beragam aktivitas, mulai dari bazar makanan tradisional, pertunjukan tarian daerah, hingga interaksi langsung antara masyarakat dan mahasiswa yang berlangsung dalam suasana penuh antusiasme.



Secara substantif, partisipasi dalam kegiatan budaya seperti ini memiliki nilai strategis dalam kerangka pengabdian masyarakat. Mahasiswa memperoleh pengalaman empiris tentang bagaimana budaya lokal dirawat, dipresentasikan, dan dijadikan sebagai ruang pemberdayaan masyarakat. Bazar makanan tradisional, misalnya, tidak hanya menjadi aktivitas ekonomi kreatif, tetapi juga menjadi simbol pelestarian kuliner khas daerah. Sementara itu, pertunjukan tarian tradisional mencerminkan kesinambungan nilai historis dan estetika yang diwariskan lintas generasi.



Antusiasme masyarakat Desa Ngadireso memperlihatkan bahwa budaya memiliki daya rekat sosial yang kuat. Interaksi yang terbangun antara warga, Kelompok 32 sebagai penyelenggara, dan Kelompok 38 sebagai tamu undangan menciptakan ruang dialog yang mempertemukan perspektif akademik dengan realitas sosial di lapangan. Momentum ini memperkuat kesadaran bahwa pengabdian masyarakat tidak selalu hadir dalam bentuk program struktural, tetapi juga dapat diwujudkan melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan sosial-budaya.



Kolaborasi antara Kelompok 38 dan Kelompok Paramita Yasa Kelompok 32 mencerminkan semangat kolektif dalam menjalankan misi pengabdian. Undangan tersebut menjadi simbol solidaritas antar mahasiswa KKM sekaligus memperluas jejaring kolaborasi yang konstruktif. Dalam konteks pendidikan tinggi, pengalaman lintas kelompok seperti ini menjadi ruang pembelajaran nonformal yang memperkaya wawasan sosial dan kultural mahasiswa.



Kegiatan ini berada di bawah arahan dan bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok 38, Kivah Aha Putra, M.Pd.I., yang senantiasa menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam dinamika sosial masyarakat secara komprehensif. Bimbingan tersebut memastikan bahwa setiap partisipasi mahasiswa tidak bersifat seremonial semata, melainkan memiliki nilai reflektif dan relevansi akademik yang jelas dalam kerangka tridarma perguruan tinggi.



Sebagai bentuk tanggung jawab akademik, seluruh rangkaian kegiatan didokumentasikan secara sistematis untuk dimasukkan ke dalam laporan akhir KKM. Dokumentasi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai administrasi program, tetapi juga sebagai catatan refleksi atas proses pembelajaran sosial dan budaya yang dialami mahasiswa selama masa pengabdian.



Partisipasi Kelompok 38 dalam Event Tempoe Doeloe menjadi pengingat bahwa pembangunan masyarakat tidak hanya bertumpu pada aspek fisik, tetapi juga pada pelestarian nilai, identitas, dan kebersamaan. Melalui undangan kolaboratif ini, mahasiswa belajar bahwa merawat tradisi berarti menjaga memori kolektif sekaligus meneguhkan peran generasi muda sebagai penjaga dan penggerak kebudayaan lokal.