3 months ago

Meneladani Perjalanan Agung Rasulullah: Peringatan Isra Mi'raj di Desa Sidorejo

Header Image
NABILA PUTRI NOVIANTI

230302110018 • KKM Reguler Semester Ganjil • G.12

Isra Mi'raj bukan sekadar peristiwa sejarah yang dihafal dari lembaran kitab sirah, melainkan perjalanan agung yang terus hidup dalam kesadaran umat Islam lintas generasi. Ini merupakan kisah tentang iman yang diuji, ketaatan yang dimuliakan, dan shalat yang ditetapkan sebagai tiang kehidupan. Kesadaran inilah yang coba dihidupkan kembali dalam peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad yang diselenggarakan di Desa Sidorejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, pada Ahad, 18 Januari 2026, bertepatan dengan 29 Rajab 1447 Hijriah.



Kegiatan ini diprakarsai oleh Kelompok KKM 12 Bhavanaloka UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang berkolaborasi dengan Kelompok KKM 51 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan melibatkan masyarakat, tokoh agama, serta perangkat desa. Kolaborasi ini tidak hanya menjadi wujud pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, tetapi juga menjadi ikhtiar bersama dalam mengembangkan tradisi keislaman yang telah mengakar kuat di tengah kehidupan desa.



Pagi yang Penuh Harap: Menanam Nilai Sejak Dini 



Sejak pagi hari, suasana Desa Sidorejo telah terasa berbeda. Anak-anak, orang tua, dan para undangan mulai berdatangan dengan wajah penuh antusias. Rangkaian acara pagi dibuka secara resmi dengan penuh khidmat, menandai dimulainya peringatan Isra Mi'raj sebagai momentum refleksi spiritual dan pendidikan keagamaan.



Sambutan-sambutan yang disampaikan menjadi pengantar makna, mengajak hadirin untuk tidak memandang Isra Mi'raj sebagai cerita yang jauh dari realitas, melainkan sebagai sumber nilai yang relevan bagi kehidupan sehari-hari. Nilai ketaatan, kedisiplinan shalat, serta kesadaran akan hubungan vertikal dan horizontal manusia menjadi pesan utama yang ditekankan.



Suasana religius semakin menguat saat ayat suci Al-Qur'an dilantunkan. Bacaan Al-Qur'an tidak hanya membuka acara secara simbolik, tetapi juga menegaskan bahwa setiap kegiatan keislaman harus berpijak pada wahyu sebagai sumber utama nilai dan pedoman hidup.



Menariknya, kegiatan pagi tidak berhenti pada aspek ritual semata. Penampilan Tari Gunung Jati turut dihadirkan sebagai bentuk ekspresi budaya yang selaras dengan nilai religius. Tarian ini menjadi simbol bahwa Islam tidak meniadakan budaya lokal, melainkan memuliakannya selama tetap berada dalam koridor adab dan nilai kebaikan.



Setelah itu, peserta lomba mendapatkan briefing lomba sebagai bagian dari edukasi dan pembinaan. Agenda berlanjut dengan pelaksanaan lomba yang ditujukan bagi anak-anak, yakni lomba mewarnai, Adzan dan hafalan surat-surat pendek Al-Qur'an. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak mencintai Al-Qur'an dan Isra Mi'raj dengan cara yang menyenangkan, kreatif, dan sesuai dengan dunia mereka. Hafalan bukan hanya soal ingatan, tetapi tentang menanamkan ayat-ayat Allah di hati sejak dini.



Malam Puncak Spiritualitas: Refleksi dan Doa Bersama



Ketika malam tiba, rangkaian acara berlanjut dengan suasana yang lebih khusyuk dan reflektif. Agenda malam diawali dengan pengumuman pemenang lomba serta pembagian hadiah sebagai bentuk apresiasi atas usaha, keberanian, dan semangat belajar para peserta. Penghargaan ini diharapkan menjadi motivasi agar anak-anak terus tumbuh dalam kecintaan terhadap ilmu dan Al-Qur'an.



Nuansa spiritual semakin terasa dengan penampilan hadrah, yang menghadirkan lantunan shalawat dan pujian kepada Rasulullah . Irama hadrah tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi sarana dzikir kolektif yang menyatukan hati jamaah dalam kecintaan kepada Nabi Muhammad .



Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Kepala Desa Sidorejo, yang menegaskan pentingnya menjaga tradisi keagamaan sebagai pondasi moral dan sosial masyarakat desa. Dalam sambutannya, ditekankan bahwa kegiatan keagamaan seperti Isra Mi'raj bukan sekadar agenda tahunan, melainkan sarana membangun karakter masyarakat yang beriman, berakhlak, dan beradab.



Puncak acara diisi dengan ceramah agama oleh Kyai Haji Muhammad Yakub Ridwan. Dalam tausiyahnya, beliau menguraikan makna Isra Mi'raj sebagai perjalanan spiritual yang sarat hikmah. Shalat ditegaskan sebagai hadiah langsung dari Allah kepada Rasulullah dan umatnya dimana ibadah yang tidak boleh dipandang ringan, karena di sanalah letak kualitas iman seorang Muslim. Ceramah disampaikan dengan bahasa yang menyejukkan, humoris, dan menyentuh realitas kehidupan masyarakat.



Rangkaian acara ditutup dengan doa penutup yang juga dipimpin oleh Kyai Haji Muhammad Yakub Ridwan. Dalam keheningan doa, seluruh hadirin menundukkan hati, memohon keberkahan, keselamatan, serta keteguhan iman bagi diri, keluarga, dan Desa Sidorejo secara keseluruhan.



Merawat Tradisi, Menatap Masa Depan



Peringatan Isra Mi'raj di Desa Sidorejo ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai keislaman dapat terus hidup melalui kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat. Dengan menghargai tradisi masa lalu, namun tetap menghadirkan pendekatan edukatif dan kontekstual, kegiatan ini diharapkan mampu menanamkan nilai iman yang tidak hanya dirayakan, tetapi juga diamalkan.



Lebih dari sekadar acara, Isra Mi'raj ini menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju Allah selalu dimulai dari kesadaran diri, ketaatan dalam shalat, serta komitmen menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah perjalanan yang mungkin tidak setinggi Sidratul Muntaha, namun bermakna dalam setiap langkah kehidupan.