Kelompok 184 Nuswara UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan ziarah ke makam Ki Ageng Ndokowono yang berlokasi di Dusun Klandungan, Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, pada Jumat (27/12/2025). Kegiatan ini dilakukan melalui pembacaan tahlil dan doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum sekaligus upaya mengenal dan melestarikan tradisi keagamaan serta budaya lokal.
Ki Ageng Ndokowono, yang dalam tradisi lisan masyarakat setempat juga dikenal dengan sebutan Mbah Gedhe Ndokowono, merupakan tokoh pejuang pada masa Mataram Kuno yang memiliki peran penting dalam sejarah awal wilayah Landungsari. Ia diceritakan sebagai salah satu prajurit yang hidup pada masa pergolakan besar, ketika letusan Gunung Merapi serta tekanan politik dan militer dari Sriwijaya pada sekitar tahun 924–925 M memaksa pusat pemerintahan Mataram Kuno dipindahkan ke Jawa Timur di bawah kepemimpinan Mpu Sindok.
Dalam situasi tersebut, Ki Ageng Ndokowono bersama sejumlah pengikutnya memilih berpencar untuk mencari wilayah baru yang aman sebagai tempat perlindungan. Perjalanan itu membawanya ke kawasan di sisi timur Gunung Kawi, yang kemudian dibuka dengan cara babat alas dan diberi nama Landungsari, yang bermakna panjang atau luas. Dari wilayah inilah kehidupan baru dibangun melalui aktivitas bercocok tanam dan menetap sebagai kaum tani.
Setelah berhasil membuka lahan dan memperoleh hasil panen pertama, Ki Ageng Ndokowono melaksanakan ritual syukur sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keselamatan dan rezeki yang diperoleh. Tradisi inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Upacara Adat Opak’an, sebuah tradisi budaya yang hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat Dusun Klandungan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus wujud rasa syukur atas hasil bumi.
Upacara Adat Opak’an secara historis mulai diselenggarakan pada masa pemerintahan Sri Denan sebagai Kepala Dusun Klandungan sekitar tahun 1890–1900. Tradisi ini dilaksanakan setiap bulan Selo dalam kalender Jawa, atau satu bulan sebelum bulan Suro, dengan menghadirkan opak lanang dan opak wedok yang terbuat dari hasil pertanian dan perikanan masyarakat setempat.
Keberadaan makam Ki Ageng Ndokowono hingga kini tidak hanya menjadi situs ziarah, tetapi juga berfungsi sebagai ruang budaya yang merekatkan nilai sejarah, spiritualitas, dan kearifan lokal. Melalui tradisi Opak’an, masyarakat Landungsari terus menjaga warisan nilai perjuangan, kesederhanaan, serta hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.
Kegiatan ziarah makam Ki Ageng Ndokowono yang dilaksanakan KKM 184 Nuswara UIN Malang menjadi bagian dari upaya penguatan nilai religius dan pemahaman sejarah lokal di tengah masyarakat. Selain pembacaan tahlil dan doa bersama, kegiatan ini dimanfaatkan untuk mengenalkan peran tokoh lokal serta tradisi budaya yang masih lestari. Ziarah tersebut juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa dalam memahami keterkaitan antara agama, sejarah, dan kehidupan sosial. Melalui kegiatan ini, KKM 184 Nuswara menegaskan komitmennya menghadirkan pengabdian masyarakat yang edukatif dan berorientasi pada pelestarian nilai lokal.