LOMBOK TENGAH – Berbicara mengenai pariwisata dan potensi desa di Lombok Tengah, perhatian publik seringkali tersedot ke wilayah selatan dengan pesona sirkuit dan pantainya. Namun, jika melangkah ke arah utara, tepatnya di Kecamatan Pringgarata, terdapat sebuah desa yang menawarkan pesona berbeda. Desa itu bernama Desa Sepakek.
Selama menjalani masa pengabdian Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di desa ini, kami menemukan bahwa Desa Sepakek bukan sekadar permukiman penduduk biasa. Desa ini adalah perpaduan utuh antara kemakmuran alam agraris, jejak sejarah infrastruktur masa lampau, serta kehidupan sosial masyarakat yang sangat harmonis di tengah perbedaan keyakinan.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai profil, potensi, dan fakta-fakta unik yang ada di Desa Sepakek.
Negeri Air yang Tak Pernah Kering
Hal paling mencolok yang membedakan Desa Sepakek dengan desa-desa lain di Lombok Tengah bagian selatan adalah ketersediaan airnya. Jika di wilayah lain air sering menjadi kendala saat musim kemarau, Desa Sepakek justru dianugerahi kelimpahan sumber daya air sepanjang tahun.
Secara geografis, desa ini dikelilingi oleh jaringan sungai kecil dan saluran irigasi teknis yang airnya sangat jernih dan deras. Suara gemericik air yang mengalir di parit-parit pinggir jalan desa menjadi musik alami yang menenangkan setiap hari. Keberadaan air yang melimpah ini menjadikan tanah di Desa Sepakek sangat subur dan lembap.
Lanskap desa didominasi oleh hamparan persawahan terasering yang luas. Sejauh mata memandang, pengunjung akan disuguhkan pemandangan hijau yang menyejukkan mata, dengan latar belakang perbukitan yang asri. Udara di sini relatif lebih sejuk dibandingkan dataran rendah lainnya, menjadikan Sepakek tempat yang ideal untuk melepas penat dari hiruk-pikuk perkotaan.
Jurang Sate: Terowongan Kuno di Balik Bukit
Salah satu aset paling ikonik dan bernilai sejarah yang dimiliki Desa Sepakek adalah kawasan yang dikenal warga setempat sebagai Jurang Sate.
Meski namanya terdengar seperti nama kuliner, Jurang Sate sejatinya adalah sebuah situs infrastruktur pengairan kuno. Di lokasi ini, terdapat sebuah terowongan air yang menembus bukit cadas. Berdasarkan penuturan tokoh masyarakat dan pengamatan fisik, terowongan ini diperkirakan merupakan peninggalan masa lampau—kemungkinan besar dibangun pada masa kolonial atau masa Kerajaan Karangasem yang berkuasa di Lombok—sebagai solusi rekayasa irigasi.
Fungsi utama Jurang Sate sangat vital, yakni mengalirkan debit air yang besar dari sumber mata air di hulu bukit menuju hamparan sawah di wilayah hilir desa. Tanpa terowongan ini, mungkin pertanian di Desa Sepakek tidak akan sesubur sekarang.
Selain fungsinya, Jurang Sate memiliki daya tarik visual yang eksotis. Mulut terowongan yang menganga di tebing, dikelilingi akar-akar pohon besar dan aliran air yang deras di bawahnya, menciptakan suasana yang misterius namun memukau. Lokasi ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata sejarah dan alam, di mana pengunjung bisa belajar tentang sistem irigasi tradisional (subak) sekaligus menikmati pemandangan alam.
Dusun Taman Bali
Salah satu fakta paling menarik dari Desa Sepakek terletak pada struktur demografinya. Di desa ini, toleransi bukan sekadar wacana, melainkan praktik hidup sehari-hari yang sudah berjalan puluhan tahun. Hal ini tercermin dari keberadaan Dusun Taman Bali.
Sesuai namanya, Dusun Taman Bali adalah sebuah wilayah di dalam Desa Sepakek yang penduduknya 100% memeluk agama Hindu. Mereka bukanlah pendatang baru, melainkan warga asli yang telah menetap secara turun-temurun, membawa warisan budaya dan sejarah panjang hubungan antara Bali dan Lombok di masa lalu.
Saat memasuki dusun ini, suasana kultural yang berbeda langsung terasa. Di setiap pekarangan rumah warga berdiri Sanggah atau tempat persembahyangan keluarga, serta ornamen-ornamen khas Hindu yang terjaga dengan baik.
Yang luar biasa adalah hubungan sosial antara warga Dusun Taman Bali dengan warga dusun-dusun lain di Desa Sepakek yang mayoritas Muslim. Meskipun berbeda keyakinan dan cara beribadah, interaksi sosial mereka berjalan sangat cair dan rukun.
Tidak ada pengkotak-kotakan dalam aktivitas sosial desa. Misalnya dalam kegiatan gotong royong. Saat desa mengadakan kerja bakti membersihkan jalan raya atau saluran irigasi, warga Dusun Taman Bali akan turun lengkap dengan peralatan kerjanya, berbaur dan bekerja bersama warga Muslim dari dusun lain, hingga makan bersama ketika kegiatan gotong royong itu sudah selesai
Kerukunan ini juga terlihat saat perayaan hari besar. Warga saling menghormati perayaan keagamaan masing-masing. Warga Hindu menghormati suasana puasa Ramadan atau Maulid Nabi, begitu pula warga Muslim yang memberikan ketenangan saat warga Hindu merayakan Nyepi. Ini adalah bentuk kerukunan organik yang tumbuh dari rasa persaudaraan sesama warga Desa Sepakek.
Kehidupan Sosial: Tradisi "Nyongkolan" Kopi dan Hajatan
Karakteristik masyarakat Desa Sepakek secara umum dikenal sangat ramah, guyub, dan memegang teguh adat istiadat. Kehidupan sosial di sini masih sangat tradisional dalam artian positif.
Menyuguhkan Kopi Salah satu tradisi yang paling kental adalah kebiasaan menjamu tamu. Di Desa Sepakek, kopi adalah simbol penghormatan. Setiap kali berkunjung ke rumah warga, hampir dipastikan tuan rumah akan segera menyeduh kopi.
Bagi warga Sepakek, ngopi bukan sekadar minum, melainkan media komunikasi. Di hadapan segelas kopi itulah berbagai masalah desa dibicarakan, kabar keluarga dipertukarkan, dan keakraban dibangun. Menolak suguhan kopi kadang dianggap kurang sopan, sehingga tradisi ini terus lestari hingga sekarang.
Solidaritas dalam Hajatan Semangat kebersamaan (gotong royong) juga terlihat jelas saat ada warga yang menggelar hajatan, baik itu pernikahan (beqawin), haul, maupun sunatan. Warga satu kampung, mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, hingga remaja, akan datang membantu tanpa diminta. Ibu-ibu akan sibuk di dapur umum menyiapkan masakan dalam porsi besar, sementara bapak-bapak menyiapkan tenda dan perlengkapan. Tradisi saling bantu ini sangat meringankan beban pemilik acara dan mempererat tali silaturahmi.
Ekonomi Desa: Lumbung Pangan dan Kuliner Lokal
Dengan dukungan alam yang subur, roda perekonomian Desa Sepakek sebagian besar digerakkan oleh sektor pertanian. Desa ini merupakan salah satu lumbung pangan andalan di daerah Pringgarata.
Komoditas utamanya adalah padi yang bisa dipanen hingga 2-3 kali dalam setahun berkat irigasi yang lancar. Selain padi, petani di sini juga menanam jagung dan palawija sebagai tanaman selingan. Pekarangan rumah warga juga sangat produktif, ditanami berbagai jenis buah-buahan tropis seperti pisang, nangka, durian, dan rambutan.
Ketersediaan bahan pangan segar ini juga berpengaruh pada kuliner lokal. Desa Sepakek dikenal dengan sajian Plecing Kangkung. Kangkung yang tumbuh di aliran air sungai Sepakek memiliki tekstur batang yang renyah dan rasa yang manis, berbeda dengan kangkung yang ditanam di lahan kering.
Desa Sepakek adalah potret desa yang lengkap dan mandiri. Ia memiliki fondasi ekonomi yang kuat dari sektor pertanian, memiliki aset sejarah yang bernilai lewat Jurang Sate, serta memiliki modal sosial yang tak ternilai harganya berupa kerukunan antarumat beragama.
Bagi siapa pun yang ingin melihat bagaimana toleransi dirawat di akar rumput, atau ingin menikmati suasana pedesaan yang hijau dan asri, Desa Sepakek di Pringgarata adalah jawabannya.