Dusun Sukamade, yang tersembunyi di balik rimbunnya hutan Taman Nasional Meru Betiri, Banyuwangi, sering kali hanya dikenal sebagai surga bagi konservasi penyu. Namun, di balik keindahan alamnya yang eksotis, tersimpan realitas pendidikan yang penuh dengan perjuangan fisik dan mental. Di wilayah ini, sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan sebuah benteng pertahanan bagi masa depan anak-anak yang terkepung oleh tantangan geografis.
Pada Senin, 5 Januari 2026, tim Kuliah Kerja Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang hadir di SMPN 3 Pesanggaran Satu Atap. Kehadiran mereka membawa misi khusus: menyalakan kembali semangat belajar siswa melalui sosialisasi lanjut studi serta edukasi mengenai pencegahan kenakalan remaja dan perundungan (bullying).
Rombongan mahasiswa tiba dan disambut langsung oleh Kepala Sekolah, Bapak Supiyanto, atau yang akrab disapa Pak Pi, tepat pukul 08.00 WIB. Pertemuan yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan tersebut menjadi ruang bagi Pak Pi untuk mencurahkan kegelisahannya mengenai kondisi pendidikan di Sukamade.
Beliau menyampaikan apresiasi yang mendalam atas inisiatif para mahasiswa. Bagi Pak Pi, kehadiran sosok-sosok terpelajar dari luar wilayah sangat dibutuhkan sebagai suntikan motivasi bagi para siswa yang selama ini merasa terisolasi dari dunia luar. Pak Pi bahkan berharap agar program seperti ini dapat berlangsung dalam durasi yang lebih lama agar pengaruh positifnya lebih tertanam kuat pada karakter anak didik mereka.
Berdasarkan diskusi mendalam dan pengamatan di lapangan, terungkap bahwa rendahnya angka partisipasi pendidikan menengah di Sukamade dipicu oleh tumpukan masalah yang saling mengunci satu sama lain.
Pertama adalah persoalan paradigma sosial. Banyak orang tua di Dusun Sukamade merasa bahwa pendidikan tingkat SMP sudah lebih dari cukup. Anak-anak dianggap sudah cukup dewasa untuk mulai membantu ekonomi keluarga, baik dengan bekerja di perkebunan maupun membantu pekerjaan rumah tangga. Lingkungan sosial yang homogen membuat cita-cita untuk kuliah atau bekerja di sektor profesional terasa sangat asing dan sulit dicapai.
Kedua adalah tantangan geografis yang ekstrem. Alam Sukamade yang indah bisa menjadi penghalang utama saat musim hujan tiba. Tidak adanya jembatan permanen membuat siswa harus menyeberangi sungai untuk mencapai sekolah. Jika hujan deras mengguyur pada malam hari, air sungai akan meluap dan praktis memutus akses pendidikan. Hal ini terbukti saat kegiatan berlangsung dari total 27 siswa, hanya 17 yang bisa hadir, sementara 10 lainnya terjebak di seberang sungai yang banjir.
Ketiga adalah kendala infrastruktur dan jarak. Ketiadaan sekolah menengah atas (SMA/SMK) di dalam Dusun Sukamade memaksa lulusan SMP untuk menempuh perjalanan ke Desa Sarongan. Jarak 10 kilometer mungkin terdengar pendek, namun medan yang dilalui adalah jalan berbatu tajam di tengah hutan yang memakan waktu tempuh hampir tiga jam. Kondisi ini membuat banyak orang tua merasa berat hati membiarkan anak-anak mereka, terutama anak perempuan, menempuh risiko keamanan di perjalanan setiap harinya.
Di tengah suasana ruang kelas yang sederhana, mahasiswa KKM berupaya memecah kebuntuan tersebut. Materi sosialisasi disampaikan dengan pendekatan dialogis agar siswa merasa nyaman untuk bercerita.
Dalam sesi Motivasi Lanjut Studi, mahasiswa berbagi kisah nyata tentang perjuangan mereka menembus perguruan tinggi. Mereka menekankan bahwa latar belakang daerah bukan penghalang untuk meraih beasiswa dan kesuksesan. Tujuannya jelas: membuka cakrawala berpikir siswa bahwa pendidikan adalah "eskalator sosial" yang dapat mengubah nasib keluarga mereka.
Sementara itu, pada sesi Pencegahan Kenakalan Remaja, penekanan diberikan pada pentingnya menjaga kesehatan mental dan lingkungan sekolah yang suportif. Mahasiswa memberikan pemahaman mendalam mengenai dampak buruk bullying, baik bagi korban maupun pelaku, guna memastikan bahwa sekolah tetap menjadi tempat yang aman meskipun fasilitasnya terbatas.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan di daerah terpencil seperti Sukamade tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu cara. Dibutuhkan sinergi antara pembangunan akses fisik, dukungan kebijakan, serta perubahan pola pikir masyarakat.
Meski kehadiran mahasiswa KKM bersifat sementara, jejak dialog dan motivasi yang ditinggalkan diharapkan mampu menjadi "suluh" bagi siswa SMPN 3 Pesanggaran Satu Atap. Sebagaimana pesan salah satu mahasiswa di akhir sesi, pendidikan mungkin tidak langsung merubah dunia, tapi pendidikan pasti merubah cara seseorang memandang dunia dan masa depannya sendiri.