1 year ago

Mengangkat UMKM Perempuan Singkong di Desa Sukowilangun: Inovasi Tepung Mocaf dan Peningkatan Literasi Keuangan

Header Image
MUHAMMAD MIFTAHUL JINAN

220501110232 • KKM Reguler Semester Ganjil 2024/2025 • G.127

UMKM merupakan penyumbang terbesar dalam Pendapatan Domestik Bruto (PDB), dengan kontribusi sebesar 61% terhadap PDB Indonesia. Selain itu UMKM juga berkontribusi besar dalam menyerap angka pengangguran yang menjadi tantangan besar dalam perekonomian Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) membawa kabar baik, yakni tingkat pengangguran berhasil turun dari 5,77 persen pada 2022 menjadi 5 persen pada 2023. Hal ini, menjadikan UMKM sebagai peran strategis dalam menekan angka pengangguran serta meningkatkan perekonomian Indonesia.



Desa Sukowilangun, yang terletak di Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, menjadi saksi bagaimana perempuan-perempuan tangguh mampu mengembangkan potensi lokal dan menciptakan peluang ekonomi berbasis singkong. Salah satu inovasi yang mereka kembangkan adalah produksi tepung mocaf, alternatif tepung bebas gluten yang bernilai ekonomi tinggi.



Perempuan dan Singkong: Membangun Kemandirian Ekonomi



Singkong telah lama menjadi komoditas unggulan di daerah ini. Namun, daripada hanya menjualnya dalam bentuk mentah, kelompok perempuan di Desa Sukowilangun berinisiatif mengolahnya menjadi tepung mocaf (Modified Cassava Flour). Produk ini memiliki keunggulan dalam tekstur dan kegunaan yang dapat menggantikan tepung terigu, sekaligus menjadi solusi bagi masyarakat yang membutuhkan alternatif pangan non-gluten.



Proses produksi mocaf melibatkan teknik fermentasi yang meningkatkan nilai gizi singkong serta membuat teksturnya lebih halus dibandingkan tepung singkong biasa. Dengan inovasi ini, para perempuan UMKM mampu meningkatkan nilai jual singkong dan memperluas pasar hingga ke luar daerah.



Penyuluhan UMKM: Meningkatkan Pemahaman HPP dan QRIS



Sebagai bagian dari upaya penguatan UMKM, kelompok KKM saya yaitu, Shankara berkesempatan memberikan penyuluhan kepada kelompok usaha ini dengan materi mengenai literasi keuangan, yaitu: perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) dan penggunaan Fintech, yaitu berupa QRIS sebagai alat pembayaran digital.



1. Menghitung Harga Pokok Produksi (HPP)



Banyak UMKM yang masih kesulitan dalam menentukan harga jual produk mereka secara tepat. Oleh karena itu, dalam penyuluhan ini, kelompok shankara memberikan wawasan peserta dalam memahami komponen-komponen biaya produksi, mulai dari bahan baku, tenaga kerja, hingga biaya overhead. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang HPP, para pelaku usaha dapat menetapkan harga jual yang kompetitif namun tetap menguntungkan.



2. Digitalisasi Pembayaran dengan QRIS



Tren digitalisasi semakin berkembang membuat UMKM harus berhadapan dengan tantangan dalam mempertahankan pasar, dan penggunaan Fintech berupa QRIS dapat menjadi solusi bagi UMKM dalam menghadapi tantangan di era digitalisasi serta dapat meningkatkan efisiensi transaksi. Kelompok Shankara menjelaskan bagaimana QRIS memungkinkan transaksi lebih mudah, cepat, dan aman, serta mengurangi ketergantungan pada uang tunai. Dengan sistem ini, UMKM dapat memperluas akses pasar mereka dan meningkatkan kepercayaan pelanggan.



Dampak dan Harapan ke Depan



Melalui produksi tepung mocaf, perempuan di Desa Sukowilangun tidak hanya memberdayakan diri mereka sendiri secara ekonomi, tetapi juga membantu meningkatkan ketahanan pangan lokal. Dengan tambahan pemahaman mengenai HPP dan digitalisasi pembayaran, mereka kini lebih siap menghadapi tantangan bisnis modern.



Ke depan, harapannya semakin banyak dukungan, baik dari pemerintah maupun sektor swasta, untuk membantu UMKM perempuan ini berkembang lebih jauh. Dengan inovasi, edukasi, dan kolaborasi, produk lokal seperti tepung mocaf dapat memiliki daya saing lebih tinggi di pasar nasional maupun internasional.