3 months ago

Menggali Makna Mengajar: Pengalaman di TPQ Baiturrohim 1 dengan Metode Yanbua di Desa Pandansari

Header Image
YULIA PUSPITA SARI

230502110102 • KKM Reguler Semester Ganjil • G.35

Program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) bukan hanya tentang pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga menjadi ruang belajar yang nyata bagi mahasiswa. Sebagai anggota KKM kelompok 35 Pandareka, kegiatan KKM di Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, menjadi pengalaman yang sangat bermakna bagi saya. Salah satu program kerja yang saya ikuti adalah mengajar di TPQ Baiturrohim 1 yang berfokus pada pendampingan pembelajaran Al-Qur’an bagi anak-anak. Melalui kegiatan ini, saya tidak hanya menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa KKM, tetapi juga belajar terlibat langsung dalam kehidupan masyarakat dan proses pendidikan keagamaan di desa.



Dalam pelaksanaan pembelajaran, TPQ Baiturrohim 1 menggunakan metode Yanbu’a sebagai pedoman membaca Al-Qur’an. Dalam TPQ ini terdapat beberapa kelas mulai dari pemula, jilid 1, 2, 3, 4, 5, 6 (Ghorib), hingga 7 (Tajwid). Sebagai anggota KKM 35 Pandareka, saya berperan mendampingi adik-adik jilid 2. Saya mendampingi adik-adik saat membaca, membenarkan kesalahan bacaan, menyimak hafalan, serta memberikan contoh pelafalan yang sesuai dengan kaidah tajwid dan makhraj. Metode Yanbu’a membantu santri belajar secara bertahap dan terstruktur, sehingga mereka lebih mudah memahami serta meningkatkan kelancaran bacaan Al-Qur,an.



Kegiatan mengajar TPQ jilid 2 ini dimulai dengan shalat ashar yang dilakukan secara berjama’ah oleh santriwan-santriwati dan dilanjutkan dengan do’a bersama. Setelah selesai shalat ashar dan do’a bersama, santri-santri masuk ke kelas masing-masing. Dilanjut dengan membaca do’a sebelum mengaji. Kemudian dilanjut dengan pengajaran pembacaan jilid dengan metode yanbu’a seperti membaca, menulis sambung-putus huruf hijaiyah, sampai dengan hafalan. Setelah itu, ditutup dengan do’a selesai belajar. Program kerja ini dilaksanakan oleh kami selaku mahasiswa KKM 35 Pandareka hari Senin dan Selasa setiap minggunya.



Selama mengajar di TPQ, saya menghadapi berbagai tantangan, seperti perbedaan kemampuan membaca antar santri dan menjaga fokus mereka saat kegiatan belajar berlangsung. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi pembelajaran berharga bagi saya sebagai mahasiswa. Saya belajar untuk lebih sabra, komunikatif, dan kreatif dalam menyampaikan materi agar suasana belajar tetap kondusif dan menyenangkan bagi adik-adik santri.



Melalui program kerja mengajar TPQ ini, saya menyadari bahwa peran mahasiswa KKM, khususnya KKM 35 Pandareka yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat meskipun melalui langkah-langkah sederhana. Kegiatan ini tidak hanya membantu santri meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga membentuk sikap tanggung jawab, kepedulian social, dan nilai keikhlasan dalam diri saya. Pengalaman ini menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran dan pengabdian saya selama menjalani KKM.