3 months ago

Menghadirkan Ruang Aman bagi Santri: Program Konseling Sebaya KKM Psikologi UIN Malang di Pesantren An-Najiyah 2

Header Image
KHILQOTUL GHONIYAH

230401110062 • KKM Unggulan Fakultatif • G.

Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Unggulan Fakultatif Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menerapkan keilmuan psikologi secara langsung di tengah masyarakat. Salah satu program unggulan yang dilaksanakan adalah konseling sebaya di Pondok Pesantren An-Najiyah 2 dan Pondok Pesantren Putri Ummu Zainab An-Najiyah 2, Tambakberas, Jombang.



 



Program ini hadir sebagai upaya mahasiswa KKM untuk menyediakan ruang aman, nyaman, dan mudah diakses bagi para santri yang ingin berbagi cerita, keluh kesah, maupun permasalahan pribadi yang mereka alami selama menjalani kehidupan di pesantren.



 



Konseling Sebaya sebagai Bentuk Pendampingan Psikologis



 



Konseling sebaya merupakan layanan pendampingan psikologis yang dilakukan oleh mahasiswa sebagai konselor sebaya. Dalam prosesnya, mahasiswa berperan sebagai pendengar yang empatik, tidak menghakimi, serta berupaya membantu santri memahami permasalahan yang sedang dihadapi. Melalui pendekatan ini, santri diberikan kesempatan untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya secara terbuka tanpa rasa takut atau cemas.



 



Mahasiswa KKM berupaya menciptakan suasana konseling yang aman dan suportif, sehingga santri merasa dihargai dan dipahami. Hal ini menjadi poin penting dalam proses konseling, mengingat tidak semua santri memiliki ruang yang cukup untuk menyalurkan emosi dan kebingungan yang mereka rasakan.



 



Latar Belakang Pelaksanaan Program



 



Pelaksanaan konseling sebaya dilatarbelakangi oleh kebutuhan santri akan dukungan emosional. Dalam keseharian, santri dihadapkan pada berbagai tekanan, mulai dari tuntutan akademik, dinamika pertemanan, hingga persoalan personal dan keluarga. Namun, tidak semua santri memiliki tempat yang memadai untuk mengekspresikan perasaan dan permasalahan tersebut.



 



Selain itu, latar belakang program ini juga diperkuat oleh hasil kegiatan Sharing Session yang sebelumnya telah dilaksanakan oleh mahasiswa KKM. Dari kegiatan tersebut, ditemukan bahwa banyak santri mengalami kebingungan terkait masa depan, seperti perencanaan pendidikan lanjutan, pilihan jurusan, dunia perkuliahan, hingga arah karier. Temuan ini menunjukkan urgensi menghadirkan layanan pendampingan yang lebih personal dan berkelanjutan, yang kemudian diwujudkan melalui program konseling sebaya.



 



Teknis Pelaksanaan Konseling Sebaya



 



Program konseling sebaya dilaksanakan selama tiga pekan, yaitu mulai tanggal 8 hingga 26 Januari 2026. Pelaksanaan dilakukan di dua lokasi, yakni Pondok Pesantren An-Najiyah 2 untuk santri putra dan Pondok Pesantren Putri Ummu Zainab An-Najiyah 2 untuk santri putri. Pembagian lokasi ini bertujuan agar seluruh santri memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses layanan konseling.



 



Menyesuaikan dengan padatnya jadwal kegiatan pesantren, layanan konseling dilaksanakan secara terjadwal sebanyak dua kali dalam satu minggu, yaitu pada Senin malam dan Kamis malam. Untuk santri putra, konseling dilaksanakan pada pukul 21.00–23.00, sedangkan santri putri dijadwalkan pada pukul 20.00–22.00. Setiap sesi konseling dilayani oleh tiga konselor sebaya.



 



Durasi setiap sesi konseling maksimal berlangsung selama 60 menit untuk setiap klien. Apabila sesi selesai sebelum batas waktu tersebut, konselor dapat melanjutkan sesi dengan klien berikutnya. Pengaturan durasi yang fleksibel ini memungkinkan layanan konseling menjangkau lebih banyak santri tanpa mengurangi kualitas pendampingan.



 



Respons dan Permasalahan yang Ditemukan



 



Pelaksanaan konseling sebaya mendapatkan respons yang sangat positif dari para santri. Antusiasme terlihat dari tingginya minat santri dalam mengakses layanan konseling. Selama periode pelaksanaan, tercatat kurang lebih 70 santri yang secara aktif memanfaatkan layanan konseling sebaya.



 



Berdasarkan hasil pendampingan, permasalahan yang paling banyak muncul berkaitan dengan aspek akademik dan perencanaan karier masa depan. Dalam banyak kasus, persoalan tersebut juga berkaitan erat dengan dinamika keluarga. Beberapa santri mengungkapkan kebingungan dalam menentukan pilihan pendidikan lanjutan serta menghadapi tuntutan dan harapan keluarga yang tidak selalu sejalan dengan keinginan pribadi.



 



Selain itu, konflik pertemanan dan proses pencarian jati diri juga menjadi permasalahan yang cukup sering dibahas dalam sesi konseling. Hal ini menunjukkan bahwa santri berada pada fase perkembangan yang penuh dengan tantangan dan membutuhkan dukungan psikologis yang memadai.



 



Melalui konseling sebaya, santri mendapatkan ruang untuk memahami permasalahan yang dialami, mengekspresikan perasaan, serta mempertimbangkan langkah-langkah yang lebih tepat dalam menyikapi berbagai persoalan tersebut.



 



Harapan Keberlanjutan Program



 



Melalui pelaksanaan program konseling sebaya ini, mahasiswa KKM Unggulan Fakultatif Psikologi UIN Malang berharap layanan serupa dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan di lingkungan pesantren. Konseling sebaya diharapkan menjadi ruang berkelanjutan bagi santri untuk berbagi cerita dan mengelola permasalahan, khususnya yang berkaitan dengan aspek akademik, perencanaan masa depan, serta dinamika sosial dan keluarga.



 



Selain itu, mahasiswa KKM juga berharap kerja sama antara pihak pesantren dan perguruan tinggi dapat terus terjalin, terutama dalam menghadirkan program-program yang berfokus pada kesehatan mental santri. Dengan dukungan berbagai pihak, konseling sebaya diharapkan tidak hanya berhenti pada masa KKM, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pesantren yang lebih peduli terhadap kesejahteraan psikologis santri.