Sarongan, Banyuwangi – Jauh di sudut selatan Kabupaten Banyuwangi, di mana hamparan hijau Desa Sarongan beradu dengan cakrawala pantai, sebuah langkah perubahan kecil namun berarti sedang diupayakan. Bukan soal pembangunan infrastruktur fisik semata, melainkan pembangunan fondasi batin bagi generasi penerus bangsa. Mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dari Kelompok Cakrawala 186 hadir di SDN 1 Sarongan dengan sebuah kegelisahan yang sama: bagaimana menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang paling aman dan nyaman bagi anak-anak.
Melalui program bertajuk "Penguatan Karakter: Menanamkan Benih Anti-Perundungan Sejak Dini", kelompok Cakrawala 186 mencoba meredam normalisasi kekerasan verbal maupun fisik yang kerap dianggap sebagai "lelucon" di bangku sekolah dasar. Upaya ini dilakukan sebagai langkah preventif untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan penuh empati.
Suasana ruang kelas SDN 1 Sarongan tampak berbeda pada pagi itu. Riuh rendah tawa anak-anak berseragam pramuka dan olahraga menyambut hangat kehadiran kakak-kakak mahasiswa. Cakrawala 186 menyadari bahwa pendekatan formal melalui teori yang kaku hanya akan melintas tanpa makna. Maka, mereka memilih jalur pendekatan hati ke hati. Melalui metode storytelling yang interaktif dan simulasi peran (roleplay), para siswa diajak untuk menyelami perasaan mereka yang mungkin selama ini menjadi korban namun tak berani bersuara.
Dalam sesi tersebut, para mahasiswa menggambarkan betapa tajamnya dampak dari sebuah kata-kata. Sebuah ejekan fisik atau sebutan nama orang tua yang selama ini dianggap lumrah, ternyata merupakan benih awal yang bisa mengikis rasa percaya diri seorang anak. "Kami ingin mereka memahami bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada siapa yang paling jago mengintimidasi, melainkan pada siapa yang paling berani melindungi dan menghargai sesama," ungkap salah satu anggota Cakrawala 186.
Diskusi mengalir menjadi ruang diskusi yang terbuka dan hangat. Beberapa siswa mulai menunjukkan keberanian untuk berbagi pengalaman pahit yang mereka alami—hal-hal yang selama ini mereka simpan sendiri karena takut dicap sebagai pengadu. Realita ini menjadi motivasi besar bagi tim KKM untuk memberikan pemahaman bahwa melapor bukanlah sebuah kesalahan, melainkan bentuk keberanian untuk menghentikan ketidakadilan.
Menggunakan media visual yang cerah dan poster-poster edukatif, tim Cakrawala 186 menekankan bahwa perbedaan, baik itu dalam hal fisik, kemampuan akademik, maupun latar belakang keluarga, adalah warna-warni kehidupan yang seharusnya disyukuri. Dukungan penuh pun mengalir deras dari pihak sekolah. Para guru mengakui bahwa tantangan mendidik di era digital ini kian kompleks, sehingga pembentukan karakter dari dalam diri siswa (self-awareness) menjadi kunci utama.
Puncak dari kegiatan ini ditandai dengan aksi simbolis yang sangat berkesan. Sebuah karton besar bertajuk "Pohon Ungkapan" dibentangkan di depan kelas. Satu demi satu, para siswa maju dengan antusias untuk membubuhkan cap jempol berwarna-warni dan menuliskan janji sederhana mereka: "Aku akan jadi teman yang baik" atau "Aku tidak akan mengejek teman lagi".
Lembar komitmen ini bukan sekadar pajangan dinding, melainkan "kontrak sosial" bagi seluruh penghuni SDN 1 Sarongan sebagai pengingat harian bahwa tidak ada tempat bagi kebencian di lingkungan mereka. Kepala Sekolah SDN 1 Sarongan menyampaikan apresiasi mendalam, berharap energi positif yang dibawa oleh Kelompok Cakrawala 186 ini dapat terus menetap dan tumbuh subur di hati para siswa.
Kegiatan hari itu ditutup dengan senyum ceria dan sesi dokumentasi bersama, sebagaimana terlihat pada potret kebersamaan mahasiswa dan para siswa di dalam kelas. Bagi Cakrawala 186, KKM di ujung Banyuwangi ini bukan sekadar tugas pengabdian, melainkan perjalanan untuk menjemput asa. Mereka pulang dengan keyakinan bahwa masa depan anak-anak SDN 1 Sarongan akan tumbuh tanpa bayang-bayang ketakutan, melainkan dipenuhi dengan karakter yang tangguh, toleran, dan penuh kasih.