Observasi yang dilakukan mahasiswa KKM 85 MITSEVA terhadap TPQ Baiturrahman, Desa Pojok, Kecamatan Dampit, mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat berharga. Observasi ini kami lakukan sebagai bagian dari persiapan program kerja KKM yang berkaitan dengan pengajaran TPQ. Harapannya sederhana, yakni untuk memahami kondisi lembaga agar program yang dirancang tidak sekadar masuk, tetapi juga benar-benar relevan. Namun, sejak awal kami justru dihadapkan pada satu sikap yang cukup mengejutkan, yang mana Pak Khosim selaku ketua TPQ tahun sebelumnya tidak serta-merta mengizinkan kami masuk ke pengajaran inti.
Dalam perbincangan langsung dengan ketua TPQ, beliau menyampaikan alasannya dengan sangat terbuka “Kami punya metode sendiri dalam mengajar. Bukan karena tidak percaya, tapi kami tidak ingin anak-anak bingung dengan sistem pembelajaran yang berbeda,” begitu tuturnya. Kalimat itu menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa bagi TPQ Baiturrahman, konsistensi sistem jauh lebih penting daripada sekadar menambah tenaga pengajar.
TPQ Baiturrahman secara khusus memfokuskan pembelajarannya pada anak usia di bawah lima tahun. Fokus utama mereka adalah bimbingan membaca Al Quran, sebuah fase awal yang sangat krusial dalam pembentukan kebiasaan dan karakter belajar anak.
Menariknya, di sela pembelajaran Al Quran, terdapat PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) yang berfungsi sebagai pendidikan formal dasar. Di sini anak-anak mulai dikenalkan dengan keterampilan dasar, yakni pengenalan simbol-simbol awal seperti huruf abjad dan angka. Tidak hanya itu, pembelajaran juga diselingi dengan aktivitas kreatif seperti menggambar, menempel, dan kegiatan khas anak TK lainnya. Sederhananya, TPQ Baiturrahman menganut sistem TPQ yang diselipkan pendidikan formal, sehingga anak-anak memiliki bekal yang cukup matang ketika kelak memasuki jenjang Sekolah Dasar.
Meskipun kami tidak diizinkan masuk ke pengajaran inti, tetapi Pak Khosim masih mempersilakan kami dengan terlibat langsung pada ruang PKBM yang berlangsung selama 30 menit. Alasannya jelas, kehadiran mahasiswa tidak akan mengganggu sistem utama TPQ, bahkan dapat memperkaya wawasan dan pengalaman belajar bagi anak-anak.
Sekilas, sistem yang diterapkan TPQ Baiturrahman memang terkesan cukup ketat, bahkan bisa dianggap otoriter. Namun, dari hasil observasi kami, ketegasan itu lahir dari pemahaman mendalam terhadap dunia anak-anak. Ketua TPQ sangat memahami bahwa anak usia di bawah lima tahun berada pada fase eksplorasi aktif. Mereka tidak bisa dipaksa dengan perintah kaku seperti “sekarang baca ini” atau “lakukan itu”. Karena itu, TPQ ini memilih metode behavior, yakni pembiasaan melalui pendengaran dan peniruan.
Dalam praktiknya, guru tidak banyak memberikan penjelasan teoritis. Materi atau lafaz yang dipelajari akan dibacakan oleh guru dengan suara lantang selama beberapa menit. Anak-anak kemudian diberi instruksi untuk mengikuti. Proses ini dilakukan secara konsisten. Setelah sesi membaca, guru akan mengajukan pertanyaan. Jika seorang anak belum bisa menjawab, pertanyaan dialihkan ke anak lain. Ketika anak kedua mampu menjawab, anak pertama kembali ditanya pertanyaan yang sama.
“Namanya juga anak kecil,” ujar ketua TPQ. “Meniru itu lumrah. Yang penting, ke depannya mereka akan paham.” Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa belajar bagi anak-anak tidak harus selalu dimulai dari pemahaman instan, tetapi dari kebiasaan yang terus diulang.
TPQ Baiturrahman sangat berpegang teguh pada kedisiplinan. Mereka memiliki target pembelajaran yang jelas. Ketika target tersebut tidak tercapai, evaluasi dilakukan secara serius. Dalam salah satu evaluasi, ditemukan bahwa kendala justru berasal dari guru yang sering terlambat masuk kelas. Dari hasil evaluasi itu, ketua TPQ langsung mengambil keputusan tegas: guru yang terlambat satu menit saja akan diminta pulang. Keputusan ini mungkin terdengar keras, tetapi bagi TPQ Baiturrahman, keterlambatan sekecil apa pun dapat merusak sistem yang sudah dibangun.
Prinsip efektivitas ini juga terlihat dari kebijakan lain yang cukup unik: buku PKBM tidak diberikan kepada wali murid. Tujuannya untuk menghindari benturan metode pembelajaran antara lembaga dan orang tua di rumah. Menurut ketua TPQ, jika anak masih harus belajar ulang materi yang sama di rumah atau mengikuti les tambahan, maka lembaga tersebut belum berhasil mendidik secara efektif.
“Kalau anak sudah disekolahkan tapi masih belajar hal yang sama di rumah, berarti lembaga itu gagal. Karena, yang namanya lembaga itukan hadir untuk membantu anak paham, bukannya malah membingungkan, apalagi ini anak-anak kecil yang rata-rata masih berumur tiga tahun, mereka itu masih pada fase bebas berekspresi,” tegasnya.
Dari hasil observasi langsung, sistem yang diterapkan TPQ Baiturrahman menunjukkan hasil yang cukup mencengangkan. Kami menyaksikan sendiri anak-anak dengan usia yang sangat belia sudah mampu membaca ayat-ayat Al Quran dengan lancar. Memang, dari sisi tajwid serta panjang-pendek bacaan masih perlu penyempurnaan. Namun, untuk anak seusia itu, capaian tersebut sudah tergolong sangat baik jika dibandingkan dengan anak-anak seusia mereka di tempat lain.
Di titik ini, kami menyadari bahwa ketegasan yang diterapkan bukanlah bentuk kekangan, melainkan strategi mendidik yang sadar akan tujuan. Observasi di TPQ Baiturrahman mengajarkan kami bahwa dalam dunia pendidikan, terutama pendidikan anak usia dini, niat baik harus berjalan beriringan dengan pemahaman sistem. Tidak semua ruang harus dimasuki, dan tidak semua metode perlu diganti.
Terkadang, menjaga sistem yang sudah berjalan dengan baik justru menjadi bentuk kepedulian tertinggi terhadap tumbuh kembang anak. Dan dari TPQ Baiturrahman, kami belajar bahwa kedisiplinan jika diterapkan dengan pemahaman dan konsistensi akan dapat menjadi fondasi kuat bagi masa depan anak-anak.