1 year ago

Menjalin Keharmonisan Dalam Beragama Menjadi Kunci Kebersamaan di Desa Gubugklakah

Header Image
ACHMAD YUSNI MUZAKKY

220605110026 • KKM Reguler Semester Ganjil 2024/2025 • G.144

Suasana hangat penuh kebersamaan terasa di Café Lawang Sari, tempat berlangsungnya diskusi bertema "Moderasi Beragama" yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam Acara ini membahas tentang pentingnya sikap moderat dalam beragama, menghargai perbedaan, serta membangun kehidupan sosial yang harmonis tanpa menghilangkan identitas keislaman. Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat, yang selama ini hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang sosial dan pemahaman keagamaan.



Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, Gus Agus Zainul Arif dan Fachrul Alamsyah (Gus Irul), yang dikenal sebagai tokoh masyarakat dengan pemahaman Islam yang moderat dan inklusif. Dalam pemaparannya, Gus Agus menekankan bahwa moderasi beragama memiliki peran penting dalam menjaga harmoni di tengah masyarakat yang beragam. Ia menjelaskan bahwa menjadi Muslim yang moderat berarti mampu mengamalkan ajaran agama dengan penuh kebijaksanaan, menghindari sikap ekstrem maupun terlalu bebas dalam beragama. Islam, menurutnya, menuntun umatnya untuk tetap berpegang teguh pada keyakinan sambil tetap terbuka terhadap perbedaan yang ada di sekitarnya. 



Sementara itu, Gus Irul menyoroti bagaimana sikap moderat dalam beragama harus selalu beriringan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Agama seharusnya menjadi pedoman yang membuat seseorang lebih manusiawi, penuh kasih sayang, dan menghargai sesama. Ketika praktik keagamaan justru memunculkan kebencian dan permusuhan, hal tersebut menunjukkan adanya pemahaman yang keliru terhadap ajaran Islam. Oleh karena itu, ia mengajak untuk senantiasa menjadikan agama sebagai sumber perdamaian, bukan perpecahan.



Moderasi beragama bukan sekadar konsep, tetapi sebuah sikap yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami ajaran Islam secara seimbang, seseorang dapat menjalankan keyakinannya tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan menghormati perbedaan. Harapannya, melalui kegiatan seperti ini, masyarakat Desa Gubugklakah semakin mempererat kebersamaan dan menjadikan moderasi beragama sebagai fondasi dalam membangun lingkungan yang damai dan harmonis.


1 year ago

Menjalin Keharmonisan Dalam Beragama Menjadi Kunci Kebersamaan di Desa Gubugklakah

Header Image
NADIA RAHMA FARIKHA

220501110026 • KKM Reguler Semester Ganjil 2024/2025 • G.144

Suasana hangat penuh kebersamaan terasa di Café Lawang Sari, tempat berlangsungnya diskusi bertema "Moderasi Beragama" yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam Acara ini membahas tentang pentingnya sikap moderat dalam beragama, menghargai perbedaan, serta membangun kehidupan sosial yang harmonis tanpa menghilangkan identitas keislaman. Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat, yang selama ini hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang sosial dan pemahaman keagamaan.



Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, Gus Agus Zainul Arif dan Fachrul Alamsyah (Gus Irul), yang dikenal sebagai tokoh masyarakat dengan pemahaman Islam yang moderat dan inklusif. Dalam pemaparannya, Gus Agus menekankan bahwa moderasi beragama memiliki peran penting dalam menjaga harmoni di tengah masyarakat yang beragam. Ia menjelaskan bahwa menjadi Muslim yang moderat berarti mampu mengamalkan ajaran agama dengan penuh kebijaksanaan, menghindari sikap ekstrem maupun terlalu bebas dalam beragama. Islam, menurutnya, menuntun umatnya untuk tetap berpegang teguh pada keyakinan sambil tetap terbuka terhadap perbedaan yang ada di sekitarnya. 



Sementara itu, Gus Irul menyoroti bagaimana sikap moderat dalam beragama harus selalu beriringan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Agama seharusnya menjadi pedoman yang membuat seseorang lebih manusiawi, penuh kasih sayang, dan menghargai sesama. Ketika praktik keagamaan justru memunculkan kebencian dan permusuhan, hal tersebut menunjukkan adanya pemahaman yang keliru terhadap ajaran Islam. Oleh karena itu, ia mengajak untuk senantiasa menjadikan agama sebagai sumber perdamaian, bukan perpecahan.



Moderasi beragama bukan sekadar konsep, tetapi sebuah sikap yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami ajaran Islam secara seimbang, seseorang dapat menjalankan keyakinannya tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan menghormati perbedaan. Harapannya, melalui kegiatan seperti ini, masyarakat Desa Gubugklakah semakin mempererat kebersamaan dan menjadikan moderasi beragama sebagai fondasi dalam membangun lingkungan yang damai dan harmonis.


1 year ago

Menjalin Keharmonisan Dalam Beragama Menjadi Kunci Kebersamaan di Desa Gubugklakah

Header Image
ACHMAD SOFI ALAUDIN

220301110118 • KKM Reguler Semester Ganjil 2024/2025 • G.144

Suasana hangat penuh kebersamaan terasa di Café Lawang Sari, tempat berlangsungnya diskusi bertema "Moderasi Beragama" yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam Acara ini membahas tentang pentingnya sikap moderat dalam beragama, menghargai perbedaan, serta membangun kehidupan sosial yang harmonis tanpa menghilangkan identitas keislaman. Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat, yang selama ini hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang sosial dan pemahaman keagamaan.



Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, Gus Agus Zainul Arif dan Fachrul Alamsyah (Gus Irul), yang dikenal sebagai tokoh masyarakat dengan pemahaman Islam yang moderat dan inklusif. Dalam pemaparannya, Gus Agus menekankan bahwa moderasi beragama memiliki peran penting dalam menjaga harmoni di tengah masyarakat yang beragam. Ia menjelaskan bahwa menjadi Muslim yang moderat berarti mampu mengamalkan ajaran agama dengan penuh kebijaksanaan, menghindari sikap ekstrem maupun terlalu bebas dalam beragama. Islam, menurutnya, menuntun umatnya untuk tetap berpegang teguh pada keyakinan sambil tetap terbuka terhadap perbedaan yang ada di sekitarnya. 



Sementara itu, Gus Irul menyoroti bagaimana sikap moderat dalam beragama harus selalu beriringan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Agama seharusnya menjadi pedoman yang membuat seseorang lebih manusiawi, penuh kasih sayang, dan menghargai sesama. Ketika praktik keagamaan justru memunculkan kebencian dan permusuhan, hal tersebut menunjukkan adanya pemahaman yang keliru terhadap ajaran Islam. Oleh karena itu, ia mengajak untuk senantiasa menjadikan agama sebagai sumber perdamaian, bukan perpecahan.



Moderasi beragama bukan sekadar konsep, tetapi sebuah sikap yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami ajaran Islam secara seimbang, seseorang dapat menjalankan keyakinannya tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan menghormati perbedaan. Harapannya, melalui kegiatan seperti ini, masyarakat Desa Gubugklakah semakin mempererat kebersamaan dan menjadikan moderasi beragama sebagai fondasi dalam membangun lingkungan yang damai dan harmonis.