3 months ago

Menjemput Asa di Ujung Banyuwangi: Mahasiswa KKM UIN Malang Gelar Sosialisasi Dampingi UMKM Sukamade.

Header Image
NUR AFIFA

230502110191 • KKM Mandiri • G.186

Dusun Sukamade, yang terletak di jantung Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, bukan sekadar wilayah konservasi penyu yang mendunia, tetapi juga rumah bagi para pejuang ekonomi lokal yang penuh potensi. Di tengah rimbunnya kawasan Taman Nasional Meru Betiri, upaya penguatan ekonomi masyarakat terus digencarkan. Salah satu langkah nyatanya hadir melalui inisiasi mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang menggelar sosialisasi UMKM pada Senin malam 05 November 2026, bertempat di ruang kelas SMPN 3 Pesanggaran Satu Atap.

Suasana dingin malam di pelosok Banyuwangi tidak menyurutkan semangat warga yang hadir. Pertemuan ini mempertemukan dosen pendamping lapangan sekaligus sebagai narasumber, Ryan Basith Fasih Khan, SE., MM, dengan para pelaku UMKM lokal yang memiliki latar belakang beragam. Mulai dari pengelola wisata pelepasan penyu, pengrajin aksesori bertema alam seperti penyu, hingga produsen hasil kebun seperti kopi dan kerupuk pakis, semuanya berkumpul dengan satu tujuan yaitu mencari celah agar usaha mereka bisa lebih berdaya di tengah keterbatasan geografis.

Dalam pemaparan materinya, narasumber menekankan betapa krusialnya peran digitalisasi melalui e-commerce di era sekarang. Langkah ini dinilai sebagai solusi cerdas untuk memutus rantai ketergantungan pada pembeli yang hanya datang secara fisik ke lokasi. Namun, diskusi yang semula terfokus pada teori pemasaran digital mulai berkembang dinamis saat warga menyuarakan realita pahit yang mereka hadapi sehari-hari. Hambatan terbesar yang mengemuka adalah persoalan logistik dan distribusi yang sangat sulit dijangkau dari wilayah Sukamade.

Salah satu suara yang cukup memukul realita adalah keluhan dari Pak Edy, seorang pengrajin yang terampil mengubah batok dan serabut kelapa menjadi aksesori penyu yang ikonik. Ia menceritakan betapa tingginya biaya operasional yang harus ia tanggung hanya untuk urusan pengiriman. "Kalau harus kirim ke luar, biayanya besar sekali. Di sini juga tidak ada ekspedisi, jadi produk harus dibawa keluar dulu dari Sukamade," ungkapnya dengan nada penuh harap akan adanya solusi. Masalah ekspedisi ini seolah menjadi tembok besar yang menghalangi produk kreatif Sukamade untuk bersaing di pasar nasional maupun internasional.

Merespons kendala tersebut, forum mulai merumuskan usulan strategis jangka menengah, salah satunya adalah permohonan kepada pihak desa untuk pengadaan gudang distribusi di Desa Sarongan. Gudang ini nantinya akan berfungsi sebagai titik konsolidasi barang, sehingga pelaku UMKM dapat mengumpulkan produk mereka di satu tempat sebelum dikirim secara massal, yang tentunya akan menekan biaya logistik secara signifikan. Namun, persoalan ternyata tidak berhenti di urusan pengiriman saja. Diskusi juga mengungkap adanya struktur ekonomi yang mengikat, di mana keterikatan warga dengan pengelola lahan membuat posisi tawar mereka lemah saat berhadapan dengan tengkulak hasil bumi.

Di sisi lain, tantangan internal juga menjadi sorotan penting yang disampaikan oleh Kepala Dusun Sukamade, Bapak Fery. Menurutnya, infrastruktur pendukung sebenarnya telah diupayakan, namun pemanfaatannya masih jauh dari kata maksimal karena faktor motivasi dan kepercayaan diri warga. "Sebenarnya sudah ada etalase produk warga di rumah saya. Itu disiapkan untuk menyambut wisatawan, terutama wisatawan Eropa yang biasanya datang sekitar bulan April sampai September, tapi belum dimanfaatkan maksimal," ujarnya. Hal ini menyadarkan semua pihak bahwa penguatan UMKM di Sukamade memerlukan pendekatan menyeluruh, yang menyentuh sisi mentalitas dan kesiapan masyarakat, bukan sekadar urusan teknis pemasaran.

Menutup rangkaian kegiatan yang penuh inspirasi tersebut, seluruh peserta, perangkat dusun, serta mahasiswa KKM berkumpul untuk melakukan sesi dokumentasi bersama. Momen foto bersama ini bukan sekadar formalitas, melainkan simbol sinergi dan kehangatan yang telah terbangun selama diskusi berlangsung.