3 months ago

Menutup Pengabdian dengan Makna: Penutupan Bimbel dan TPQ Kelompok 10 Aksantara

Header Image
KHAILLA ZULVA AZAHRA

230601110026 • KKM Reguler Semester Ganjil • G.10

Mengingat perjalanan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) kami yang akan segera berakhir pada tanggal 3 Februari 2026, kami memutuskan untuk melaksanakan penutupan program pendidikan lebih awal. Langkah ini diambil agar proses transisi dan pamitan kepada adik-adik serta warga dapat berjalan dengan khidmat dan terencana. Dua agenda utama, yakni Bimbingan Belajar (Bimbel) dan TPQ, menjadi fokus penutupan kami karena kedua kegiatan inilah yang paling intens menghubungkan kami dengan denyut nadi pendidikan generasi muda di desa ini.



Foto Bersama Murid Bimbel



Momen haru pertama terjadi pada tanggal 29 Januari 2026, saat kami secara resmi menutup kegiatan Bimbel. Karena program ini merupakan inisiatif khusus dari kelompok KKM kami dan kemungkinan besar tidak berlanjut setelah kami pergi, kami ingin memberikan kesan yang mendalam. Pertemuan terakhir diisi dengan pemberian hadiah kecil sebagai bentuk apresiasi atas semangat belajar mereka yang luar biasa. Kami juga menyisipkan pesan-pesan motivasi agar adik-adik tetap rajin belajar dan berani mengejar cita-cita, meski tidak lagi didampingi oleh kakak-kakak mahasiswa di malam hari.

Berlanjut pada tanggal 30 Januari 2026, suasana berbeda menyelimuti penutupan pengajaran kami di TPQ. Berbeda dengan bimbel, kegiatan mengaji di TPQ akan tetap berjalan seperti biasa di bawah asuhan ustadz dan ustadzah setempat. Tugas kami di sini hanyalah berpamitan sebagai pengajar tamu. Namun, momen ini menjadi sangat spesial karena dikemas dalam format "Pertemuan Wali Santri". Kehadiran penanggung jawab serta pendiri TPQ memberikan bobot lebih pada pertemuan ini, menandai pentingnya sinergi antara pengajar dan orang tua dalam mendidik karakter anak.



Foto Perkumpulan OrangTua Santri/wati

Dalam pertemuan tersebut, pendiri TPQ menyampaikan poin krusial mengenai peran orang tua sebagai pengawas utama anak. Beliau menekankan bahwa orang tua harus benar-benar memastikan anak-anak mereka sampai ke masjid untuk mengaji, bukan justru berbelok untuk bermain di lapangan desa. Pesan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan agama membutuhkan kedisiplinan yang dimulai dari rumah. Selain itu, dibahas pula mengenai transparansi administrasi terkait setoran keuangan bulanan TPQ yang sangat diperlukan untuk menunjang fasilitas dan kelancaran kegiatan belajar mengajar ke depannya.



Foto Bersama Santri/wati TPQ

Acara semakin dinamis saat memasuki sesi tanya jawab antara wali santri dan pengurus TPQ. Di sini, para orang tua mendapatkan ruang untuk mengekspresikan keluh kesah serta kebingungan mereka dalam mendampingi proses belajar anak di rumah. Pihak pengurus menyambut setiap pertanyaan dengan terbuka, memberikan solusi, dan penjelasan yang mencerahkan. Dialog dua arah ini membuktikan bahwa kepedulian warga terhadap kualitas pendidikan Al-Quran di desa ini sangatlah tinggi, sebuah hal yang sangat melegakan bagi kami sebelum meninggalkan posko.

Rangkaian kegiatan perpisahan ini meninggalkan kesan yang mendalam bagi kelompok KKM kami. Ada rasa bangga melihat bibit-bibit semangat yang tumbuh di kelas bimbel dan keteguhan sistem di TPQ. Kami menyadari bahwa meskipun pengabdian kami bersifat sementara, hubungan emosional dan ilmu yang sempat terbagi akan tetap menetap. Kami berharap, Masjid Nuurul Jadiid dan rumah-rumah warga akan terus menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya generasi yang cerdas dan berakhlakul karimah, jauh setelah kami kembali ke kampus.