Di tengah kentalnya nuansa religius di lingkungan sekitar Masjid Nuurul Jadiid, terdapat sebuah tradisi mulia yang telah lama dijalankan oleh warga setempat, yaitu kegiatan Khotmil Quran. Sebagai pendatang yang sedang menjalankan program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), kami merasa sangat beruntung mendapatkan kesempatan untuk dilibatkan dalam agenda rutin ini. Keikutsertaan kami bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan upaya untuk meleburkan diri dengan kearifan lokal yang telah terjaga secara turun-temurun.
Kegiatan ini secara konsisten dilaksanakan oleh warga setiap dua minggu sekali. Kedisplinan warga dalam menjaga rutinitas ini menjadi teladan berharga bagi kami para mahasiswa mengenai konsistensi dalam beribadah di tengah kesibukan sehari-hari. Dengan bergabung dalam jadwal yang sudah mapan ini, kami dapat melihat secara langsung bagaimana nilai-nilai religiusitas menjadi pengikat sosial yang sangat kuat di antara masyarakat desa.
Masjid Nuurul Jadiid tetap menjadi pusat utama pelaksanaan Khotmil Quran ini. Di bawah naungan atap masjid yang sejuk, suara lantunan ayat suci dari warga dan mahasiswa bersahut-sahutan menciptakan suasana yang sangat damai. Dalam momen ini, sekat antara pendatang dan penduduk asli seolah hilang, digantikan oleh identitas yang sama sebagai sesama pencinta Al-Quran yang sedang berupaya menggapai keberkahan untuk lingkungan mereka.
Selain di masjid, tradisi warga ini juga memiliki sisi kehangatan yang unik melalui pelaksanaannya di rumah-rumah warga. Secara bergilir, warga yang memiliki kesediaan dan kemampuan seringkali menawarkan rumah mereka sebagai tempat pertemuan. Bagi kami, momen berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya memberikan pengalaman sosiokultural yang mendalam, di mana kami dapat berinteraksi lebih dekat dengan keluarga-keluarga di desa dalam suasana yang sangat kekeluargaan.
Keterlibatan kelompok KKM dalam Khotmil Quran ini juga menjadi sarana belajar yang luar biasa mengenai etika bertamu dan bermasyarakat. Warga dengan penuh keterbukaan menerima kehadiran kami, bahkan tak jarang terjadi diskusi ringan setelah kegiatan khataman selesai. Interaksi yang terjadi di ruang tamu rumah warga atau di teras masjid setelah mengaji menjadi jembatan yang efektif bagi kami untuk lebih memahami aspirasi dan karakteristik masyarakat yang kami layani selama masa KKM.
partisipasi dalam kegiatan Khotmil Quran ini memberikan warna tersendiri bagi perjalanan KKM kami. Kami belajar bahwa pengabdian yang paling bermakna adalah ketika kami mampu menghargai dan mengikuti ritme kehidupan masyarakat setempat. Semoga tradisi Khotmil Quran yang digerakkan oleh warga ini tetap lestari, dan kehadiran kami di Masjid Nuurul Jadiid serta rumah-rumah warga dapat meninggalkan kesan positif sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat desa.