Di era serba digital seperti sekarang ini, tantangan dalam mendidik anak kian kompleks. Tak hanya soal pendidikan formal, namun juga bagaimana peran orang tua dalam membimbing anak dalam penggunaan gadget dan menjaga kesehatan mental mereka. Isu ini menjadi topik utama dalam Seminar Parenting yang diadakan oleh Kelompok KKM Dharmasastra di TK RA Al-Hadi Padangan, Bojonegoro, pada 2 Mei 2025 pukul 09.00 WIB. Acara yang dihadiri oleh seluruh walisantri TK A ini menghadirkan narasumber istimewa, Agus Ari Afandi, M.Psi., Psikolog, lulusan Magister Profesi Psikologi Universitas Airlangga. Beliau juga merupakan dosen di STIKes Rajekwesi Bojonegoro serta psikolog aktif di Biro Psikologi Educo dan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Bojonegoro.
Dalam pemaparannya, Pak Ari mengangkat tema "Gadget dan Perundungan". Beliau membuka materi dengan gambaran tentang perubahan zaman dari "jadoel" ke "jaman now", di mana gadget menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan, bahkan pada anak usia dini. Meski memiliki manfaat, seperti memudahkan akses informasi dan kreativitas dalam membuat aplikasi, penggunaan gadget tanpa pengawasan bisa berdampak serius.
Beliau memaparkan berbagai kasus nyata, mulai dari anak SD yang bolos sekolah karena kecanduan game online, gangguan jiwa yang menimpa anak-anak di Semarang, hingga kasus keluarga yang terbebani tagihan jutaan rupiah karena pembelian dalam game. Tak hanya itu, munculnya gangguan mata hingga tindakan kriminal akibat judi online pun disorot sebagai dampak negatif. "Fokus menjadi berkurang, anak jadi lebih emosional" tegas Pak Ari
Perundungan di Dunia Nyata dan Maya
Isu penting lainnya yang dibahas adalah perundungan atau bullying, termasuk cyber bullying. Pak Ari menjelaskan bahwa perundungan tidak hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga verbal, sosial, dan digital. Dunia maya bahkan membuka ruang baru bagi perundungan seperti menyebar kabar bohong, membuat akun palsu, hingga memperolok seseorang di media sosial. Orang tua diajak untuk lebih peka, karena dampak dari bullying bisa sangat berat bagi anak, terutama di usia dini. Ketidaktahuan dan kurangnya pendampingan bisa menyebabkan luka psikologis yang berkepanjangan. Seminar ini tak hanya memberikan peringatan, tapi juga solusi. Dalam konteks keluarga, orang tua diminta untuk:
- Mendisiplinkan anak dengan bijak, bukan dalam kondisi emosi.
- Merefleksi tindakan sendiri, apakah sudah menjadi contoh yang baik.
- Membangun ikatan yang harmonis dengan anak melalui dukungan penuh.
Antusiasme walisantri TK A sangat tinggi. Mereka menyimak dengan penuh perhatian dan aktif bertanya selama sesi diskusi. Ini menunjukkan kesadaran bahwa di tengah tantangan zaman, peran keluarga sangat vital dalam membentuk karakter anak.