1 year ago

Merajut Spiritualitas dan Ilmu di Desa Jetak: Dedikasi Mahasiswa UIN Malang di TPQ Al Ikhlas

Header Image
GHONIMATUR ROHMAH

220101110096 • KKM MBKM & Pengabdian Lain • G.309

Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) bukan sekadar kewajiban akademik. Lebih dari itu, KKM adalah ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk memahami, berkontribusi, dan tumbuh bersama masyarakat. Hal inilah yang kami rasakan sebagai mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang saat menjalankan KKM di Desa Jetak-Montong-Tuban. Program KKM ini diadakan di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Salah satu program kerja unggulan kami adalah kegiatan mengajar di TPQ Al Ikhlas, sebuah lembaga pendidikan Al-Qur'an yang telah berdiri sejak tahun 2010 dan terus konsisten mendidik generasi muda dalam nilai-nilai Islam. Melalui kegiatan ini, kami belajar bahwa pendidikan agama di masyarakat bukanlah hal yang sederhana. Ia memerlukan ketelatenan, kesabaran, dan ketulusan yang luar biasa. Dan dari TPQ inilah kami menyaksikan semangat itu tumbuh setiap harinya. Mengapa TPQ Al Ikhlas? TPQ Al Ikhlas dipilih sebagai tempat pengabdian karena dimiliki dan diasuh langsung oleh Ustadz Halim, salah satu guru di MA Tarbiyatul Banin Banat sekolah tempat kami juga menjalankan program Asistensi Mengajar. Hal ini menjadi alasan kuat untuk menjadikan TPQ Al Ikhlas sebagai lokasi kegiatan utama kami, karena kedua program akademik ini bisa dijalankan secara paralel dan saling melengkapi. TPQ ini tidak dikelola sendiri oleh Ustadz Halim, melainkan juga didukung oleh empat guru lainnya yang semuanya berdedikasi tinggi dalam mendidik anak-anak. Mereka membagi tugas secara bergiliran, mengelola kelas dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, meski dengan segala keterbatasan fasilitas dan waktu. Kegiatan Belajar yang Menginspirasi Setiap sore, selepas waktu Ashar, kami hadir di TPQ Al Ikhlas untuk ikut mendampingi proses belajar mengajar. Anak-anak terbagi ke dalam dua kelompok. Kelompok besar belajar membaca Al-Qur’an dan mempelajari kitab-kitab dasar. Sedangkan kelompok kecil fokus pada praktik sholat, hafalan doa-doa harian, dan surat-surat pendek. Pengajaran di TPQ ini menggunakan metode An-Nadhiyah, sebuah metode yang menekankan pada pelafalan huruf hijaiyah secara fasih dan bertahap. Metode ini terbukti cukup efektif, terutama untuk anak-anak usia dini yang masih belajar membunyikan huruf-huruf Arab secara benar. Kami ikut membantu mengoreksi bacaan, mendampingi hafalan, dan tak jarang berperan sebagai teman belajar agar suasana kelas menjadi lebih akrab dan menyenangkan. Tantangan tentu ada, terutama ketika menghadapi anak-anak yang tiba-tiba kehilangan semangat atau merasa bosan. Namun di sinilah kami belajar: menjadi pendidik itu butuh lebih dari sekadar ilmu, melainkan juga keikhlasan dan empati. Suasana Baru, Semangat Baru Kehadiran kami di TPQ Al Ikhlas disambut hangat oleh para pengajar maupun santri. Ustadzah Kholifah, salah satu pengajar di TPQ, mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran mahasiswa KKM. “Alhamdulillah, dengan kedatangan mahasiswa KKM, suasana TPQ jadi lebih semarak. Anak-anak juga jadi lebih semangat belajar karena ada pengalaman baru berinteraksi dengan kakak-kakak mahasiswa,” ujar beliau. “Harapannya, mahasiswa bisa menjadi inspirasi bagi santri untuk terus istiqomah dalam belajar agama dan semakin mencintai Al-Qur’an,” tambahnya. Respon positif juga datang dari para santri sendiri. Mereka antusias mengikuti kegiatan, menunjukkan rasa ingin tahu yang besar, dan selalu menyambut kami dengan senyuman hangat setiap hari. Menanam Kebaikan dari Desa Pengalaman mengajar di TPQ Al Ikhlas menjadi momen refleksi bagi kami sebagai mahasiswa. Kami menyadari bahwa pendidikan agama bukan hanya tanggung jawab lembaga formal, tetapi juga menjadi kewajiban sosial yang bisa dimulai dari mana saja—termasuk dari desa kecil seperti Jetak. Kami merasa bersyukur dapat menjadi bagian dari upaya kecil yang bermakna ini. Program ini telah memberikan dampak positif, baik bagi santri, pengajar TPQ, maupun kami sebagai mahasiswa. Semoga kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan oleh generasi mahasiswa berikutnya, sebagai bentuk kontribusi nyata dalam mendukung pendidikan agama Islam di tengah masyarakat. Karena pada akhirnya, pengabdian bukan soal seberapa lama kita tinggal di desa, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa kita tinggalkan di hati mereka yang kita temui.