3 months ago

Partisipasi Mahasiswa KKM UIN Malang dalam Pengajian Kitab sebagai Model Integrasi Keilmuan dan Pengabdian

Header Image
UMMU AIMAN

230205110012 • KKM Reguler Semester Ganjil • G.38

Partisipasi Mahasiswa KKM UIN Malang dalam Pengajian Kitab sebagai Model Integrasi Keilmuan dan Pengabdian



Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang di tengah masyarakat bukan sekedar menjalankan program akademik berbasis pengabdian, namun juga membangun dialog sosial dan spiritual yang berkelanjutan. Hal tersebut tercermin dalam partisipasi aktif mahasiswa KKM Kelompok 38 dalam kegiatan Pengajian Kitab Mabadiul Fiqhiyyah dan Sholawat Bersama warga Dusun Wates yang dilaksanakan pada pukul 19.30 hingga 23.30 WIB.



Kegiatan pengajian ini menjadi ruang temu antara tradisi keilmuan Islam dan praktik keberagamaan masyarakat desa. Kitab Mabadiul Fiqhiyyah sebagai salah satu referensi dasar dalam memahami ilmu fikih, memberikan fondasi konsep mengenai hukum-hukum ibadah dan muamalah secara sistematis. Di sisi lain, lantunan sholawat yang menggema sepanjang malam menghadirkan suasana religius yang sarat nilai kebersamaan, kekhusyukan, dan penghormatan terhadap warisan spiritual Islam.



Mahasiswa KKM tidak hanya hadir sebagai peserta pasif, namun juga membaur bersama masyarakat, mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh antusias. Interaksi ini menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu berbentuk program formal atau intervensi struktural, melainkan dapat diwujudkan melalui kehadiran, keterlibatan, dan penghargaan terhadap praktik sosial-keagamaan lokal.



Secara umum, partisipasi akademik dalam pengajian kitab klasik seperti Mabadiul Fiqhiyyah memiliki relevansi penting dalam memperkuat integrasi antara teori dan realitas sosial. Mahasiswa yang selama ini mempelajari fikih di ruang kuliah, memperoleh pengalaman empiris tentang bagaimana teks-teks keislaman dihidupkan dalam konteks masyarakat. Proses ini menciptakan dialektika antara ilmu dan praktik, antara nalar akademik dan kebijaksanaan lokal.



Lebih jauh lagi, kegiatan sholawat bersama menjadi simbol kohesi sosial. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai sarana mempererat hubungan antargenerasi dan antarwarga. Dalam konteks KKM, keterlibatan mahasiswa dalam aktivitas tersebut mempertegas komitmen perguruan tinggi dalam membangun hubungan yang setara dengan masyarakat, bukan sekadar hubungan formal berbasis program kerja.



Dusun Wates, dengan dinamika sosial dan keagamaannya, memberikan pelajaran penting tentang kemiskinan tradisi keagamaan di tingkat akar rumput. Di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial yang cepat, praktik pengajian kitab dan sholawat tetap menjadi ruang pendidikan nonformal yang efektif dalam membentuk karakter religius masyarakat. Kehadiran mahasiswa KKM di ruang tersebut memperkaya perspektif sekaligus memperluas wawasan pengalaman mereka sebagai calon intelektual Muslim.



Kegiatan ini juga berlangsung di bawah bimbingan dan pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKM Kelompok 38, Kivah Aha Putra, M.Pd.I. Peran DPL tidak hanya sebagai pengarah akademik, tetapi juga sebagai figur yang memastikan bahwa setiap aktivitas mahasiswa selaras dengan nilai-nilai keilmuan, etika pengabdian, serta visi universitas dalam membangun masyarakat berbasis moderasi dan pemberdayaan.



Pada akhirnya, partisipasi mahasiswa dalam pengajian Mabadiul Fiqhiyyah dan sholawat bersama bukan sekadar agenda seremonial. Ia adalah refleksi nyata bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat dimulai dari hal-hal sederhana: duduk bersama, belajar bersama, dan merawat tradisi bersama. Di sanalah makna KKM menemukan relevansinya—sebagai jembatan antara kampus dan masyarakat, antara teori dan praktik, serta antara generasi muda dan nilai-nilai luhur yang telah lama tumbuh di tengah kehidupan desa.



Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa pembangunan masyarakat tidak selalu identik dengan infrastruktur fisik, tetapi juga penguatan fondasi spiritual dan sosial. Dalam ruang-ruang pengajian yang hangat dan lantunan sholawat yang khusyuk, siswa belajar bahwa ilmu tidak hanya untuk dipahami, melainkan juga untuk dihidupkan kembali.