Kelompok 15 Pentaswara melalui program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) melaksanakan salah satu program kerja bertema Family Corner di Masjid Miftahul Jannah Sawojajar. Program ini dirancang sebagai ruang edukasi dan refleksi bagi keluarga, khususnya orang tua, untuk kembali menyadari peran penting keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak serta upaya pencegahan stunting sejak dini. Masjid dipilih sebagai pusat kegiatan karena fungsinya tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang belajar dan penguatan nilai-nilai kehidupan keluarga.
Senin pagi, 26 Januari 2026, Masjid Miftahul Jannah Sawojajar menjadi ruang belajar yang hangat sejak pukul 09.00 WIB. Jamaah dan masyarakat umum berkumpul dalam sebuah kegiatan yang mengangkat peran penting orang tua dan anak dalam keluarga. Dengan menghadirkan Fuji Astutik, M.Psi., dosen Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai narasumber, diskusi berlangsung cair dan membumi. Acara yang dipandu oleh Aprilia nur khasanah sebagai MC serta dimoderatori oleh Selvy Puspita Anggraeni, menghadirkan suasana dialog yang akrab dan reflektif. Kegiatan ini bukan sekedar forum berbagi ilmu, namun juga ruang untuk belajar bersama, saling menguatkan, dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keluarga sebagai fondasi tumbuh kembang anak.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, keluarga sering kali terjebak dalam rutinitas yang padat. Orang tua yang sibuk bekerja, anak-anak larut dalam gawai, dan percakapan hangat perlahan tergeser karena kelelahan. Padahal, keluarga adalah ruang pertama dan utama bagi tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun emosional. Dari sinilah konsep family corner menjadi relevan dan penting untuk dibicarakan.
Family corner bukan sekadar sudut ruangan dengan sofa atau meja kecil. Ia adalah ruang simbolik tempat keluarga kembali terhubung. Tempat orang tua dan anak bisa berbagi cerita, makan bersama, membaca buku, atau sekadar duduk tanpa gangguan. Di ruang sederhana inilah nilai-nilai dasar keluarga yang ditanamkan, termasuk kepedulian terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Jika ditarik lebih jauh, family corner juga memiliki peran yang sering luput disadari, yaitu sebagai pintu awal pencegahan stunting. Stunting seringkali dipahami sebatas permasalahan gizi dan ekonomi. Padahal, akar masalahnya jauh lebih kompleks. Kurangnya pengetahuan orang tua, minimnya komunikasi dalam keluarga, serta pola asuh yang tidak konsisten turut berkontribusi terhadap risiko stunting pada anak.
Melalui family corner, orang tua memiliki ruang untuk lebih peka terhadap kondisi anak. Di sana, orang tua bisa memperhatikan kebiasaan makan anak, mendengar keluhan mereka, dan membangun kedekatan emosional. Anak-anak yang merasa cenderung lebih terbuka, termasuk soal makanan yang tidak mereka sukai atau keluhan kesehatan yang sering dianggap sepele. Tidak sedikit kasus stunting yang berawal dari pola makan yang tidak seimbang dan kurangnya pendampingan saat anak makan. Makan menjadi aktivitas individu, bahkan sambil menonton atau bermain gawai. Family corner dapat mengembalikan fungsi makan sebagai aktivitas bersama. Saat makan dilakukan dalam suasana hangat, orang tua bisa memastikan asupan gizi anak terpenuhi sekaligus menanamkan kebiasaan makan sehat sejak dini.
Lebih dari itu, Family Corner juga berperan dalam meningkatkan literasi keluarga. Diskusi ringan tentang kesehatan, kebiasaan hidup bersih, hingga pentingnya gizi seimbang bisa dimulai dari bincang santai di sudut keluarga ini. Tidak perlu bahasa medis yang rumit, cukup dengan cerita sehari-hari yang mudah dipahami anak. Dari imajinasi kesadaran kolektif terbentuknya keluarga.
Stunting tidak hanya berdampak pada tinggi badan anak, tetapi juga pada perkembangan kognitif dan masa depan mereka. Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami kesulitan belajar dan produktivitas yang lebih rendah di masa dewasa. Oleh karena itu, pencegahan stunting harus dimulai dari rumah, dari interaksi paling dasar dalam keluarga. Membangun family corner tidak selalu membutuhkan biaya besar. Di rumah sederhana sekalipun, satu sudut kecil yang bersih dan nyaman sudah cukup. Yang terpenting adalah komitmen keluarga untuk meluangkan waktu bersama tanpa gawai, tanpa gangguan, hanya kehadiran utuh satu sama lain.
Di era ketika solusi sering dicari dalam program besar dan kebijakan makro, kita sering lupa bahwa perubahan juga bisa dimulai dari ruang paling kecil yaitu rumah. Family corner adalah contoh nyata bahwa upaya pencegahan stunting tidak selalu harus rumit. Dengan membangun kedekatan, komunikasi, dan kepedulian dalam keluarga, kita sedang membangun fondasi kesehatan anak yang jauh lebih kuat.
Pada akhirnya, stunting bukan hanya persoalan angka statistik, melainkan cerita tentang anak-anak dan masa depan mereka. Dan mungkin, masa depan itu bisa dijaga dari sebuah sudut kecil bernama family corner.
Kegiatan ini ditutup dengan penyerahan sertifikat yang diberikan kepada narasumber sebagai bentuk apresiasi atas ilmu dan pengalaman yang telah dipublikasikan. Penyerahan sertifikat tersebut menjadi simbol terjalinnya kolaborasi antara ilmuwan, pelajar, dan masyarakat dalam upaya bersama meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran keluarga, khususnya orang tua, dalam pencegahan stunting. Momen ini sekaligus menegaskan bahwa pendidikan keluarga merupakan tanggung jawab bersama yang perlu terus diupayakan secara berkelanjutan.