Banyuwangi, 23 Januari 2026 — Mahasiswa KKM Mandiri kelompok 175 UIN Malang mengadakan sebuah pelatihan tentang pengolahan sabun cuci piring dari limbah kopi bersama dengan Ibu-Ibu PKK Desa Banyuanyar. Tidak hanya Ibu-Ibu PKK, para staf balai Desa Banyuanyar juga turut aktif dalam mengikuti pelatihan ini. Termasuk pula Ibu Kepala Desa Banyuanyar, yakni Ibu Ill Syilviana, S.ST. Keb. yang memberikan respon positif atas dilaksanankannya kegiatan pelatihan ini.
Mahasiswa KKM UIN Malang memilih limbah kulit kopi, tidak lain karena Desa Banyuanyar atau lebih umumnya wilayah Kecamatan Kalibaru merupakan penghasil utama komoditas kopi. Banyak dari masyarakatnya berprofesi sebagai petani kopi. Bahkan menurut dari wawancara yang kami lakukan kepada salah satu warga, ia menyampaikan bahwa hampir semua orang di daerah ini pasti mempunyai kebun kopi. Namun pemanfaatan limbah kopi di daerah ini masih sangat terbatas. Contohnya saja kulit kopi yang hanya dijadikan sebagai makanan hewan ternak. Oleh karena itu, mahasiswa KKM UIN Malang berinovasi dengan memanfaatkan kulit kopi sebagai salah satu bahan untuk pembuatan sabun cuci piring.
Kegiatan pelatihan ini dimulai pada pukul 09.30 bertempat di Balai Desa Banyuanyar dan diikuti oleh 20 peserta. Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh MC yang bertugas, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan dari koordinator Desa yang disampaikan oleh Kak Akbar, juga tak lupa sambutan dari Ibu Kepala Desa Banyuanyar.
Sesi selanjutnya masuk pada acara inti yakni pemaparan materi tentang "Pembuatan Sabun Cuci Piring dari Limbah Kopi" yang disampaikan oleh Kak Eralda dan Kak Nia. Materi yang disampaikan sangat runtut, mulai dari bahan yang dibutuhkan, takaran setiap bahan, langkah-langkah pembuatan, dan benefit yang didapatkan dari pembuatan sabun cuci piring ini.
Setelah sesi penyampaian materi, dilanjutkan dengan sesi praktek bersama yang dipandu langsung oleh pemateri. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 5-7 orang. Setiap kelompok mendapatkan bahan dan alat masing-masing. Bahan-bahan tersebut diantaranya 200 gram texapon, garam dapur (NACL), limbah kulit kopi yang sudah ditumbuk dan diseduh (berbentuk cair), dan aromatic kopi, serta 1000 ml air.
Masing-masing bahan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Texapon atau biang sabun merupakan bahan inti yang nantinya akan mengeluarkan busa. Air berfungsi untuk melarutkan texapon. Garam dapur berfungsi untuk mengentalkan tekstur sabun. Limbah kulit kopi cair berfungsi sebagai pewarna alami yang menghasilkan warna coklat seperti kopi. Sedangkan aromatic kopi berfungsi untuk menambah aroma khas kopi yang enak dan sedap.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam pembuatan sabun cuci piring ini sangatlah mudah dan praktis. Pertama masukkan texapon kedalam wadah yang telah disediakan, kemudian masukkan air, larutkan texapon dengan cara meremas-remas hingga teksturnya larut dengan air, kemudian tambahkan garam dapur hingga tesktur sabun mengental, tambahkan limbah kulit kopi secukupnya sebagai pewarna alami, dan yang terakhir tambahkan aromatic kopi. Diamkan sabun selama semalaman untuk menghilangkam busa, dan sabun cuci piring siap untuk digunakan.
Para ibu PKK sangat excited dan antusias mengikuti step by step pembuatan sabun cuci piring. Setelah proses pembuatan selesai, setiap peserta mendapatkan 1 botol untuk mewadahi sabun yang telah selesai dibuat. Bahkan tidak jarang, ibu-ibu meminta botol tambahan untuk mewadahi sabun yang masih tersisa.
Para peserta terutama Ibu-Ibu PKK merasa bahwa pelatihan sabun cuci piring ini sangat bermanfaat. Selain mudah untuk dipraktekan sendiri di rumah, juga terdapat nilai ekonomis yang terkandung dalam pembuatan sabun cuci piring ini. Mengingat sabun cuci piring merupakan salah satu produk vital yang harus ada di setiap rumah. Tak lupa kegiatan pelatihan ini ditutup dengan sesi dokumentasi bersama dan doa penutup.
Penulis: Mufidatul Ameilia