Bagi calon jamaah haji, masa tunggu bukan sekadar deretan angka di kalender, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang sudah dimulai jauh sebelum kaki berpijak di tanah suci. Di sebuah sudut ruang yang hangat, saya mahasiswa kedokteran bersama mahasiswa farmasi dengan jas almamater biru gelapnya tengah menjalankan sebuah tugas mulia yaitu menjaga kesehatan calon jamaah haji agar istitoah. Pemeriksaan kesehatan hari itu dimulai dengan suasana kekeluargaan. Seorang bapak dan ibu dengan duduk tenang saat kami tegang dan kami memeriksa jari tangannya untuk memeriksa glukosa darah. Bagi saya, angka yang muncul di layar glukometer bukan sekadar statistik medis. Itu adalah indikator kesiapan. Menjaga kadar gula darah dan tekanan darah tetap stabil selama masa tunggu adalah bentuk ikhtiar agar saat hari keberangkatan tiba, fisik tidak menjadi penghalang bagi khusyuknya ibadah.
Tak hanya pemeriksaan fisik, tetapi juga edukasi menjadi pilar utama. Saya bersama kelompok memberikan sebuah buku saku “Buku Kesehatan Calon Jamaah Haji”. Buku saku tersebut berisi panduan praktis: cara menjaga hidrasi, tips manajemen kelelahan, hingga pola makan yang harus dijaga selama di tanah suci. Penyerahan buklet ini menjadi simbol kepedulian kami sekelompok kepada mereka yang akan menempuh perjalanan jauh. Selain edukasi, kami juga memantau kesehatan secara berkala selama masa tunggu untuk memastikan bahwa setiap keluhan kecil dapat ditangani lebih awal. Dengan pemeriksaan yang rutin, masa tunggu yang panjang tidak lagi diisi dengan kecemasan akan kondisi fisik, melainkan diisi dengan persiapan yang matang dan rasa tenang.