Masyarakat suku Tengger desa Ranupani masih memiliki citra agraris yang kuat, membuat mereka memiliki kemandirian dan tidak terlalu tergantung kepada kekuatan dari luar komunitasnya, baik itu kekuatan yang berdimensi ekonomi, politik, atau budaya. Mereka dapat mempertahankan identitas dan solidaritas sukunya. Meskipun begitu, desa di kaki gunung semeru tersebut memiliki taraf Pendidikan yang rendah. Aksesibilitas Pendidikan dan pasokan pengajar yang kurang menjadi faktornya.
Alasan lain dibalik rendahnya Pendidikan masyarakatnya juga disebabkan karena anak-anak suku Tengger disana sudah terbiasa untuk ikut serta dalam mata pencaharian orang tua nya. Banyak dari Masyarakat Tengger disana lebih mengutamakan anak-anak mereka untuk bekerja, misalnya membantu di ladang. Sekolah bagi mereka bukan sebuah hal yang krusial dan tak dijadikan prioritas. Padahal tidak dapat di pungkiri bahwa pendidikan menjadi apek penting dalam kehidupan. Akses yang memadai terhadap pendidikan memastikan masyarakat desa mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk berkarya dan berkontribusi pada pembangunan desa. Sekolah bukan hanya sebagai formalitas, sekolah dapat mengajarkan fondasi pengetahuan dan keterampilan dasar bagi masyarakat desa, keterampilan dasar seperti berpikir kritis dan logis. Yang tidak kalah penting adalah pendidikan di sekolah adalah menjadi tempat penanaman karakter positif dimulai sejak dini.
Madrasah Ibtidaiyah Thoriqul Huda, menjadi sekolah Islam pertama diantara suku tengger desa Ranupani. Sekolah ini cukup baik dalam menanamkan karakter-karakter positif berbasis keislaman lewat berbagai pelajaran agama. Pelajan umum juga diterapkan seperti kelas baca tulis hitung, kelas literasi, dan yang menarik adalah kelas multimedia yang mendorong anak-anak tetap “melek” teknologi. Namun, sekolah ini dianggap masyarakat sebagai sekolah yang memiliki standar tinggi dan cukup berat untuk kapasitas anak-anak. Apalagi ditambah karakter anak-anak disana juga cukup keras karena mereka terbiasa untuk mendapatkan apa yang mereka dengan mudah. “Anak-anak disini terbiasa untuk dididik dengan uang, uang saku mereka seharinya cukup besar mulai dari 15 libu bahkan 50 ribu” terang Pak Fizi saat diwawancarai. Hal tersebut menjadi tantangan untuk bisa menanamkan karakter positif kepada para siswa dengan metode yang menyenagkan, ringan, dan interaktif, sehingga mereka dapat menerimanya tanpa terpaksa.
Mahasiswa Mendidik Anak Negeri dan Matahati Care Centre mengupayakan menciptakan warna baru dalam ruang belajar MI Thoriqul Huda dengan tajuk Karakter Positif dan Minat Bakat. Pada aspek karakter positif kami berfokus untuk bisa menanamkan semangat belajar pada siswa, motivasi untuk bisa memiliki cita-cita tinggi, menghormati orang tua, serta perilaku baik terhadap teman sebaya. Dimulai dari langkah ini kami berharap dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan dan karakter yang positif pada masyarakat Suku Tengger desa Ranupani.