3 months ago

Pengabdian Masyarakat Berbasis Lingkungan: Pembangunan Infrastruktur yang Lebih Memadai sebagai Strategi Berkelanjutan Pencegahan Bencana Banjir di Dusun Baran, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Header Image
RAIHAN RABBANI

230201110148 • KKM Reguler Semester Ganjil • G.116

KKN/KKM sering dipersepsikan sebagai agenda program pengabdian yang serat. Proposal disusun rapim sasaran yang dicantumkan ambisi, dan keberhasilan sering diukur dari seberapa banyak kegiatan yang dilaksanakan. Namun pengalaman saya dan rekan rekan selama KKN di Dusun Baran, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokesumo, Kota Malang justru menunjukkab bahwa kenyataan sosial tidak selalu sejalan dengan logika kampus administrasi.



Di lapangan, permasalahan masyarakat tidak ditampilkan dalam bentuk masalah besar yang mudah diselesaikan melalui satu atau program unggulan saja. Yang kami temui justru persoalan- persoalan dasar yang berlangsung lama dan mungkin dianggap wajar seperti literasi keuangan keluarga yang rendah, pola pengasuhan anak yang minim dialog, pengelolaan sampah yang belum terarah, hingga perilaku perundungan di lingkungan sekolah yang sering kali dianggap sekadar candaan anak-anak semata.



Sayangnya, masalah-masalah pribadi semacam ini sering kali luput dari perhatian karena tidak cukup menjual sebagai program yang seremonial. Padahal, dampaknya justru panjang dan menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat. Di titik inilah, relevansi KKN patut dijawab apakah KKN hadir untuk memenuhi indikator laporan, memenuhi kewajiban atas tugas yang diberikan oleh kampus semata, atau benar-benar menjawab kebutuhan warga/masyarakat.



Isu lingkungan kami disentuh melalui penyuluhan pengelolaan sampah. Persoalan sampah sering kali dianggap sepele selama tidak terlihat mengganggu, padahal dampaknya nyata bagi kesehatan dan kualitas hidup. Kegiatan ini merupakan upaya awal membangun kesadaran bahwa kebersihan lingkungan adalah tanggung jawab kolektif, bukan sekedar urusan individu.



Selain itu, kami melakukan sosialisasi bullying kepada anak-anak dan remaja. Perundungan sering kali dibiarkan karena dianggap bagian dari proses tumbuh kembang, tanpa disadari dampak psikologis jangka panjangnya. Pendidikan sederhana ini diharapkan mampu menanamkan empati sejak dini.



Dalam bidang pendidikan dan keagamaan, kami juga membantu pengajaran di TPQ terdekat. Disinggung kami merasakan langsung bahwa kehadiran siswa sering kali lebih berarti daripada materi yang dibawa. Anak-anak tidak selalu membutuhkan metode baru, tetapi figur yang mau hadir, mendampingi, dan peduli.



Dari seluruh rangkaian kegiatan tersebut, saya beserta rekan-rekan belajar bahwa perubahan sosial tidak lahir dari program yang besar dan berlangsung singkat, melainkan dari upaya kecil yang konsisten dan relevan. KKN akan kehilangan maknanya jika hanya menjadi rutinitas administratif yang selesai bersamaan dengan penarikan siswa.



Sebagai pelajar, pengalaman ini menjadi referensi penting bagi kami. Ilmu pengetahuan tidak cukup berhenti di ruang kelas atau laporan akhir. KKN mengajarkan bahwa peran intelektual bukan sekedar menjalankan program, tetapi berani jujur ​​pada kenyataan sosial dan rendah hati dalam menawarkan solusi. Dari Dusun Baran, kami juga belajar bahwa pengabdian bukan tentang terlihat bekerja, melainkan tentang benar-benar hadir.


3 months ago

Pengabdian Masyarakat Berbasis Lingkungan: Pembangunan Infrastruktur yang Lebih Memadai sebagai Strategi Berkelanjutan Pencegahan Bencana Banjir di Dusun Baran, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Header Image
SALSABILA RIZKINA KAUTSARANI

230401110305 • KKM Reguler Semester Ganjil • G.116

KKN/KKM sering dipersepsikan sebagai agenda pengabdian yang serat program. Proposal disusun rapim target dicantumkan ambisius, dan keberhasilan sering diukur dari seberapa banyak kegiatan terlaksana. Namun, pengalaman saya dan rekan rekan selama KKN di Dusun Baran, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokesumo, Kota Malang justru menunjukkab bahwa realitas sosial tidak selalu sejalan dengan logika administratif kampus.



 



Di lapangan, persoalan masyarakat tidak tampil dalam bentuk masalah besar yang mudah diselesaikan lewat satu atau program unggulan saja. Yang kami temui justru persoalan- persoalan dasar yang berlangsung lama dan perlahan dianggap wajar seperti literasi keuangan keluarga yang rendah, pola pengasuhan anak yang minim dialog, pengelolaan sampah yang belum terarah, hingga perilaku perundungan di lingkungan sekolah yang sering kali dianggap sekadar candaan anak-anak semata.



 



Sayangnya, persoalan-persoalan semacam ini sering kali luput dari perhatian karena tidak cukup menjual sebagai program yang seremonial. Padahal, dampaknya justru panjang dan menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat. Di titik inilah, relevansi KKN patut dipertanyakan apakah KKN hadir untuk memenuhi indikator laporan, memenuhi kewajiban atas tugas yang diberikan oleh kampus semata, atau benar benar menjawab kebutuhan warga/masyarakat.



 



Isu lingkungan kami sentuh melalui penyuluhan pengelolaann sampah. Persoalan sampah sering kali dianggap sepele selama tidak terlihat mengganggu, padahal dampaknya nyata bagi kesehatan dan kualitas hidup. Kegiatan ini menjadi upaya awal membangun kesadaran bahwa kebersihan lingkungan adalah tanggung jawab kolektif, bukan sekadar urusan individu.



 



Selain itu, kami melakukan sosialisasi bullying kepada anak-anak dan remaja. Perundungan sering kali dibiarkan karena dianggap bagian dari proses tumbuh kembang, tanpa disadari dampak psikologis jangka panjangnya. Edukasi sederhana ini diharapkan mampu menanamkan empati sejak dini.



 



Dalam bidang pendidikan dan keagamaan, kami turut membantu pengajaran di TPQ terdekat. Di sinilah kami merasakan langsung bahwa kehadiran mahasiswa sering kali lebih berarti daripada materi yang dibawa. Anak-anak tidak selalu membutuhkan metode baru, tetapi figur yang mau hadir, mendampingi, dan peduli.



 



Dri seluruh rangkaian kegiatan tersebut, saya beserta rekan-rekan belajar bahwa perubahan sosial tidak lahir dari program yang besar dan berlangsung singkat, melainkan dari upaya kecil yang konsisten dan relevan. KKN akan kehilangan maknanya jika hanya menjadi rutinitas administratif yang selesai bersamaan dengan penarikan mahasiswa.



 



Sebagai mahasiswa, pengalaman ini menjadi reflrksi penting bagi kami. Ilmu pengetahuan tidak cukup berhenti di ruang kelas atau laporan akhir. KKN mengajarkan bahwa peran intelektual bukan sekedar menjalankan program, tetapi berani jujur pada realitas sosial dan rendah hati dalam menawarkan solusi. Dari Dusun Baran, kami juga belajar bahwa pengabdian bukan tentang terlihat bekerja, melainkan tentang benar-benar hadir.