MALANG – Pencegahan stunting merupakan salah satu agenda penting dalam pembangunan kesehatan masyarakat karena berkaitan langsung dengan kualitas tumbuh kembang anak dan daya saing generasi masa depan. Kesadaran inilah yang mendorong Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 38 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang untuk menyelenggarakan kegiatan sosialisasi stunting dan parenting di PAUD Wonomulyo II, Dusun Robyong, Desa Wonomulyo, Kecamatan Poncokusumo.
Kegiatan yang berlangsung pada pagi hari tersebut diikuti oleh wali murid PAUD beserta sejumlah pihak pendamping. Sosialisasi ini dirancang sebagai ruang edukasi sekaligus dialog bersama, sehingga masyarakat tidak hanya menerima materi secara satu arah, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk berdiskusi dan mengklarifikasi berbagai persoalan yang sering ditemui dalam pengasuhan anak sehari-hari. Dengan demikian, kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda penyuluhan, melainkan juga bagian dari proses penguatan literasi kesehatan keluarga yang lebih kontekstual.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM 38 menghadirkan pemateri profesional dari bidang kesehatan gizi, yakni Ayu Shinta Arizona, S.Gz., RD., seorang dokter ahli gizi yang memberikan pemaparan mendalam mengenai stunting serta upaya pencegahannya. Kehadiran pemateri langsung dari tenaga profesional menjadi nilai tambah penting karena materi yang disampaikan tidak hanya berbasis pengalaman lapangan, tetapi juga memiliki landasan ilmiah yang kuat dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui pemaparannya, Ayu Shinta Arizona, S.Gz., RD. menjelaskan bahwa stunting adalah kondisi gagal tumbuh yang terjadi akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka panjang. Belliau menegaskan bahwa dampak stunting tidak hanya terlihat pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap perkembangan kognitif, daya tahan tubuh, hingga produktivitas anak ketika memasuki usia sekolah dan dewasa. Oleh karena itu, pencegahan stunting harus dipahami sebagai langkah strategis yang melibatkan keluarga sebagai pihak paling dekat dengan anak.
Dalam sesi edukasi, peserta diajak memahami bahwa pencegahan stunting dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten dalam keluarga. Pemateri menekankan pentingnya penerapan gizi seimbang, termasuk pemenuhan kebutuhan karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral yang memadai sesuai tahap usia anak. Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa pemberian makan bukan hanya bertujuan agar anak kenyang, melainkan untuk memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi secara tepat. Hal ini termasuk memperhatikan kualitas bahan pangan, variasi menu harian, serta jadwal makan yang teratur agar anak terbiasa dengan pola konsumsi yang sehat.
Aspek lain yang turut menjadi perhatian adalah pentingnya kebersihan lingkungan. Pemateri menjelaskan bahwa sanitasi yang buruk dan kurangnya perilaku hidup bersih dapat meningkatkan risiko infeksi pada anak, yang pada akhirnya mengganggu penyerapan nutrisi. Dalam konteks ini, edukasi stunting tidak dapat dipisahkan dari edukasi kesehatan lingkungan, karena keduanya saling berkaitan dalam membentuk ketahanan kesehatan anak.
Tidak kalah penting, sosialisasi ini juga mengangkat tema parenting sebagai faktor pendukung utama dalam pencegahan stunting. Para wali murid diberikan pemahaman bahwa pola asuh yang baik tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga kebutuhan emosional dan psikologis anak. Pemateri menekankan pentingnya pola asuh yang responsif, pendampingan yang konsisten, serta stimulasi perkembangan anak melalui interaksi yang positif di rumah. Dengan pola asuh yang tepat, anak akan lebih mudah diarahkan untuk membangun kebiasaan sehat, mulai dari pola makan, kebersihan diri, hingga rutinitas harian.
Kegiatan semakin interaktif ketika memasuki sesi diskusi. Wali murid menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengajukan pertanyaan yang beragam, mulai dari cara menghadapi anak yang sulit makan, strategi mengenalkan sayur dan lauk bergizi, hingga tips menyusun menu sehat yang tetap terjangkau bagi keluarga. Antusiasme peserta menjadi indikator bahwa materi yang disampaikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus memperlihatkan tingginya kepedulian orang tua terhadap kesehatan anak.
Untuk menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan, mahasiswa KKM 38 juga menyisipkan games edukatif yang berkaitan dengan tema gizi dan pola asuh. Kegiatan ini membuat suasana sosialisasi lebih hangat dan komunikatif, sehingga peserta dapat mengikuti rangkaian acara dengan nyaman. Di akhir kegiatan, mahasiswa turut membagikan doorprize sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi aktif wali murid. Pendekatan edukasi yang dipadukan dengan aktivitas interaktif ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta serta memperkuat ingatan terhadap materi yang telah disampaikan.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKM Kelompok 38, Kivah Aha Putra, M.Pd.I, menyampaikan bahwa kegiatan edukasi kesehatan seperti sosialisasi stunting dan parenting memiliki kontribusi penting bagi masyarakat. Menurutnya, pengabdian mahasiswa tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program kerja, tetapi juga pada dampak kebermanfaatan yang dirasakan langsung oleh warga. Ia menilai bahwa penguatan literasi gizi dan pola asuh merupakan bagian penting dalam membangun ketahanan keluarga, serta mendukung terciptanya generasi yang lebih sehat dan berkualitas.
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa KKM 38 melakukan dokumentasi kegiatan serta menyusun laporan pelaksanaan sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik. Dokumentasi tersebut sekaligus menjadi bahan evaluasi agar program-program edukatif selanjutnya dapat dirancang lebih tepat sasaran. Mahasiswa berharap, pengetahuan yang diperoleh wali murid tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, melainkan dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam pengaturan pola makan anak, penerapan kebersihan lingkungan, maupun pola asuh yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Melalui sosialisasi ini, Mahasiswa KKM 38 UIN Malang menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan kegiatan edukatif yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Sinergi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan warga desa diharapkan mampu memperkuat kesadaran kolektif mengenai pentingnya pencegahan stunting, sekaligus membangun lingkungan keluarga yang lebih sehat, peduli gizi, dan memiliki pola pengasuhan yang lebih baik.