1 week ago

Peningkatan Kohesi Sosial dan Kapasitas SDM Melalui Integrasi Program Keagamaan, Literasi, dan Tata Kelola Administrasi.

Header Image
CHANDRA ACHMAD ZULFANY BAYHAQI

230102110017 • KKM Unggulan Fakultatif (FITK) • G.

Latar Belakang

Pembangunan sebuah wilayah, khususnya di tingkat desa atau kelurahan, tidak hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan modal sosial dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Kohesi sosial yang kuat serta SDM yang kompeten menjadi fondasi utama dalam menciptakan masyarakat yang omandiri dan berdaya saing. Dalam konteks pengabdian masyarakat (KKM), upaya ini memerlukan pendekatan integratif yang menyentuh aspek spiritual, edukatif, serta administratif secara simultan.

Aspek keagamaan dan literasi merupakan elemen vital dalam pembentukan karakter generasi muda. TPQ Nurul Huda sebagai institusi pendidikan non-formal memiliki peran strategis sebagai pusat persemaian nilai-nilai moral. Namun, tantangan yang sering dihadapi adalah stagnasi motivasi belajar santri. Melalui program mengajar ngaji yang inovatif dan penyelenggaraan lomba-lomba keagamaan, diharapkan muncul gairah baru yang tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi Al-Qur’an, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan kompetisi positif di lingkungan TPQ Nurul Huda.

Di sisi lain, institusi pendidikan formal seperti MTsN 4 Blitar memegang peranan penting dalam menanamkan kesadaran sosial dan profesionalisme organisasi. Program Bakti Sosial yang dilaksanakan di sekolah ini bertujuan untuk mengasah empati siswa serta mempererat hubungan antara akademisi dengan realitas sosial masyarakat sekitar. Kepekaan sosial ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari kapasitas SDM yang utuh, di mana kecerdasan intelektual selaras dengan kecerdasan emosional.

Selain penguatan kapasitas individu, efektivitas sebuah organisasi pendidikan juga ditentukan oleh tata kelola administrasi dan kejelasan orientasi lembaga. Pembuatan plang visi dan misi di MTsN 4 Blitar bukan sekadar pemenuhan aspek estetika lingkungan, melainkan langkah strategis dalam internalisasi nilai dan tujuan lembaga. Visualisasi visi-misi yang jelas berfungsi sebagai panduan kerja bagi tenaga pendidik serta pengingat bagi siswa mengenai target capaian pendidikan mereka, sehingga tercipta lingkungan sekolah yang terarah dan profesional.

Integrasi antara kegiatan di TPQ Nurul Huda dan MTsN 4 Blitar ini merupakan manifestasi dari upaya peningkatan kapasitas masyarakat secara holistik. Melalui kolaborasi program keagamaan, lomba kreatif, bakti sosial, dan penataan administrasi visi-misi, diharapkan tercipta sinergi yang mampu memperkuat jalinan sosial antarwarga serta mencetak generasi yang unggul secara spiritual, sosial, dan organisasional.



Temuan Penting

Adapun beberapa temuan penting yang terdapat pada TPQ Nurul Huda dan MTsN 4 Blitar di desa sebagai berikut :

1. Jumlah pengajar tidak sebanding dengan jumlah santri

Saat ini jumlah pengajar yang ada belum sebanding dengan banyaknya santri, sehingga proses belajar jadi kurang maksimal. Dalam satu waktu, pengajar harus menangani banyak santri sekaligus, yang membuat fokus mereka terbagi. Akibatnya, tidak semua santri bisa mendapatkan bimbingan secara optimal. Kondisi ini juga membuat pengajar lebih mudah merasa kewalahan karena harus membimbing bacaan, sekaligus menjaga ketertiban dalam waktu bersamaan. Di sisi lain, santri yang membutuhkan perhatian lebih justru bisa tertinggal, karena keterbatasan waktu dan tenaga pengajar. Jika kondisi ini terus berlangsung, kualitas pembelajaran bisa menurun dan perkembangan kemampuan santri menjadi kurang merata.

2. Metode pembelajaran cenderung monoton dan kurang variatif

Metode pembelajaran masih bersifat monoton dan kurang beragam. Kegiatan mengaji umumnya hanya dilakukan dengan membaca bergiliran tanpa dukungan media yang memperjelas pemahaman santri, sehingga banyak yang cepat bosan dan kurang aktif. Penggunaan media seperti papan tulis juga belum optimal, sehingga penyampaian materi terasa kurang jelas dan kurang menarik padahal papan tulis bisa dipakai untuk menampilkan contoh bacaan, aturan tajwid, atau latihan bersama yang membantu santri memahami materi secara visual.

3. Sistem pengelolaan SDM masih bersifat informal dan belum terstruktur

Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) di TPQ Nurul Huda saat ini masih bersifat informal dan belum didukung oleh sistem yang terstandardisasi. Absennya struktur organisasi yang definitif mengakibatkan pembagian tugas antar pengajar cenderung bersifat spontan dan hanya berlandaskan kebiasaan. Ketidakjelasan peran ini memicu distribusi beban kerja yang tidak merata, di mana terjadi ketimpangan kontribusi antara pengajar yang memegang tanggung jawab berlebih dengan pengajar

yang belum diberdayakan secara optimal.

4. Tidak adanya program pelatihan atau pengembangan SDM secara berkala

Saat ini, TPQ Nurul Huda dan MTsN 4 Blitar masih menghadapi tantangan dalam hal pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) karena belum tersedianya program pelatihan guru yang terencana secara periodik. Kurikulum pembelajaran yang diterapkan pun masih bersifat konvensional, di mana kegiatan rutin hanya terbatas pada metode mengaji sorogan (bergantian), praktik ibadah sholat, serta pembacaan maulid secara komunal. Tanpa adanya inovasi program strategis, seperti target hafalan Al-Qur’an (Tahfidz) yang terstruktur, proses pendidikan di kedua lembaga tersebut cenderung terasa monoton. Hal ini mengakibatkan capaian pembelajaran santri menjadi kurang terukur dan kehilangan orientasi target yang progresif untuk mendukung perkembangan kompetensi mereka di masa depan. Hal ini pula searah dengan tujuan dari MTsN 4 Blitar yang sedang masa peralihan menuju pembelajaran digital.

Isu Kebijakan

Permasalahan ini menunjukkan terdapat adanya celah dalam pengelolaan kedua lembaga yaitu TPQ Nurul Huda dan MTsN 4 Blitar. Beberapa isu kebijakan yang dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1. Ketimpangan rasio pengajar dan santri

2. Rendahnya inovasi dan variasi metode pembelajaran

3. Kelemahan tata kelola SDM dan program pengembangan

Rekomendasi Kebijakan

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, berikut beberapa rekomendasi yang dapat dipertimbangkan:

1. Penataan ulang struktur organisasi dan sistem manajemen SDM

Penataan ulang ini bertujuan agar pembagian tugas antar pengajar menjadi lebih proporsional dan jelas. Dengan adanya uraian tugas atau job description yang definitif, setiaptenaga pendidikdiTPQNurulHudamaupunMTsN4Blitarakanmemilikitanggung jawab yang spesifik, sehingga tidak ada lagi pengajar yang merasa kewalahan sementara yang lain kurang diberdayakan. Langkah ini akan menciptakan alur kerja yang lebih profesional, sistematis, dan tidak lagi hanya bergantung pada kebiasaan atau keputusan spontan semata.

2. Lembaga perlu mengadakan program pelatihan dan pengembangan

Hal ini bertujuan untuk menunjang kapasitas guru secara berkala untuk meningkatkan kompetensi pedagogik mereka. Pelatihan ini sebaiknya difokuskan pada penguasaan metode pembelajaran yang lebih dinamis serta pemanfaatan media instruksional, baik yang bersifat manual seperti papan tulis maupun alat bantu digital. Hal ini sangat krusial mengingat MTsN 4 Blitar sedang bertransisi menuju era pembelajaran digital, sehingga para pengajar dituntut untuk mampu mengintegrasikan teknologi dalam menyampaikan materi agar suasana kelas menjadi lebih interaktif dan menarik bagi santri.

3. diversifikasi metode pembelajaran

Perbaruan dan perbedaan harus segera diterapkan untuk menghilangkan kesan monoton dalam kegiatan belajar mengajar. Pengelola dapat menyusun kurikulum yang lebih inovatif.