ABSTRAK
Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi perhatian serius di Indonesia, termasuk di Kabupaten Blitar. Upaya pencegahan stunting membutuhkan pendekatan terintegrasi melalui layanan kesehatan dasar yang mudah diakses oleh masyarakat. Posyandu ILP (Integrasi Layanan Primer) menjadi salah
satu strategi efektif yang menggabungkan berbagai layanan kesehatan dalam satu kegiatan. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mendukung pelaksanaan Posyandu ILP dalam rangka pencegahan stunting dan promosi
kesehatan masyarakat melalui partisipasi aktif mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Desa Sumber, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar. Kegiatan dilakukan pada tanggal 12 Maret dan 5 Mei 2025 melalui
metode observasi partisipatif, dokumentasi, dan wawancara informal. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa Posyandu ILP di desa tersebut telah mampu mengintegrasikan layanan balita, ibu hamil, dewasa, dan lansia secara efektif. Keterlibatan mahasiswa membantu memperlancar pelaksanaan kegiatan serta meningkatkan semangat kader dan warga. Hasil ini diperkuat oleh literatur yang menyatakan bahwa keberhasilan posyandu bergantung pada keterlibatan masyarakat dan kualitas kader. Pengabdian ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan
masyarakat untuk meningkatkan layanan kesehatan dan menurunkan angka stunting secara berkelanjutan.
Kata Kunci: Posyandu ILP, Stunting, Pengabdian Masyarakat
ABSTRACT
Stunting remains a significant public health concern in Indonesia, including in Blitar Regency. Preventing stunting
requires an integrated approach through accessible primary healthcare services. The Integrated Primary Services
Post (Posyandu ILP) offers an effective strategy by combining various health services in one setting. This
community service project aimed to support the implementation of Posyandu ILP in stunting prevention and health
promotion through the active involvement of university students participating in the Community Service Program
(KKM) in Sumber Village, Sanankulon District, Blitar Regency. The activities were conducted on March 12 and
May 5, 2025, using participatory observation, documentation, and informal interviews. The results showed that
the Posyandu ILP in the village effectively integrated services for toddlers, pregnant women, adults, and the elderly. Student involvement helped streamline the activities and boosted the enthusiasm of both cadres and residents. These findings are supported by literature stating that community involvement and the competence of health cadres are crucial to the success of Posyandu programs. This service initiative is expected to serve as a model for community empowerment aimed at improving healthcare services and reducing stunting rates in a
sustainable manner.
Keywords: : Integrated Health Post, Stunting, Healthcare Services
PENDAHULUAN
Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di
Indonesia, dengan prevalensi yang masih tinggi dan menunjukkan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Menurut data, prevalensi stunting nasional pada anak di bawah lima tahun mencapai 21,6% pada tahun 2022, menurun dari 24,4% di tahun 2021, tetapi masih jauh dari target penurunan
yang diharapkan (Oktafiani & Witanti, 2024). Khusus di Kabupaten Blitar, angka stunting juga menjadi perhatian utama, dengan laporan menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan intervensi harus ditingkatkan untuk mencapai perbaikan yang nyata dalam kondisi gizi anak (Pebrianty dkk., 2023). Pengalaman dan riset di daerah
ini lebih lanjut menegaskan kebutuhan mendesak untuk mengatasi faktor-faktor
lingkungan yang mempengaruhi kesehatan,
serta penerapan praktik gizi yang baik sejak
konsepsi hingga usia anak balita sebagai
intervensi penting (Waafiroh dkk., 2023). Dalam mengatasi masalah stunting, konsep Integrasi Layanan Primer (ILP) menjadi sangat penting. ILP bertujuan untuk mengoptimalkan layanan kesehatan primer,
termasuk dalam pencegahan stunting melalui pendekatan berbasis komunitas yang melibatkan berbagai sektor, baik kesehatan, pendidikan, maupun sosial (Saputri & Tumangger, 2019). ILP menyediakan
kerangka kerja yang komprehensif untuk menyediakan pendidikan gizi, akses ke layanan kesehatan, serta membangun kesadaran di masyarakat tentang pentingnya pemenuhan gizi yang tepat selama periode kritis tumbuh kembang anak (Suhandiah dkk., 2022). Dengan memanfaatkan kerjasama lintas sektor, ILP juga diharapkan mampu memberikan dukungan yang lebih baik bagi keluarga di daerah dengan angka stunting tinggi, seperti Kabupaten Blitar. Keterlibatan mahasiswa dalam program pengabdian masyarakat, seperti dalam penguatan layanan Posyandu, sangat penting untuk menciptakan komunitas yang
lebih sehat dan lebih sadar akan isu stunting. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memberikan edukasi dan pelatihan yang
sesuai, serta mendorong masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat dan gizi seimbang (Harlia Putri dkk., 2023). Mahasiswa, sebagai agen perubahan, memiliki potensi untuk mempengaruhi dan menggerakkan masyarakat dalam pencegahan stunting melalui berbagai program edukasi yang kreatif dan inklusif (Waslia, 2022). Dengan memperkuat kapasitas kader Posyandu, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran orangtua dan masyarakat tentang pentingnya nutrisi yang cukup dan pola asuh yang baik untuk anak- anak mereka. Tujuan kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) adalah untuk mendukung upaya pencegahan stunting dan promosi kesehatan secara lebih luas di Kabupaten Blitar. Dengan memfokuskan kegiatan pada pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan pelatihan, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak yang optimal (Risnanto, 2023). Selain itu, program ini juga bertujuan untuk
meningkatkan pengetahuan kader Posyandu tentang intervensi gizi yang tepat, sehingga mereka dapat lebih efektif dalam memberikan layanan dan informasi kepada masyarakat (Pebrianty dkk., 2023). Melalui inisiatif ini, diharapkan angka stunting di Kabupaten Blitar dapat menurun secara signifikan, sejalan dengan upaya nasional dalam mencapai kesehatan yang lebih baik untuk anak-anak di Indonesia.
METODE PENGABDIAN
Pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui partisipasi aktif dalam kegiatan Posyandu ILP (Integrasi Layanan Primer) yang berlangsung di Desa Sumber, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar. Kegiatan ini dilaksanakan sebanyak dua kali, yaitu pada tanggal 12 Maret 2025 dan 5 Mei 2025, bertepatan dengan jadwal rutin Posyandu setempat. Metode pengabdian yang digunakan adalah observasi partisipatif, di mana mahasiswa terlibat langsung dalam kegiatan pelayanan Posyandu, mulai dari membantu proses pendataan,pemantauan tumbuh kembang balita, serta pelayanan kesehatan bagi dewasa dan lansia. Prosedur pelaksanaan dimulai dengan koordinasi bersama kader Posyandu dan petugas Puskesmas Sanankulon untuk mendapatkan pemahaman menyeluruh mengenai alur pelayanan ILP yang diterapkan. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa turut mendampingi kegiatan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan balita, pengecekan tekanan darah pada lansia dan dewasa, serta melakukan pencatatan data hasil pemeriksaan. Selain itu, dilakukan pula wawancara informal dengan kader dan beberapa warga untuk mengetahui persepsi dan tingkat pemahaman masyarakat terhadap layanan Posyandu ILP dan upaya pencegahan stunting. Alat dan media yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi format pencatatan manual posyandu, alat ukur antropometri (timbangan digital, pengukur tinggi badan), serta tensimeter untuk pemeriksaan kesehatan umum. Dokumentasi kegiatan dilakukan dalam bentuk catatan lapangan dan dokumentasi foto. Melalui metode ini, pengabdian diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam upaya peningkatan kualitas layanan Posyandu ILP sekaligus memperkuat keterlibatan mahasiswa dalam mendukung program pemerintah dalam pencegahan stunting secara terpadu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan pengabdian masyarakat melalui partisipasi dalam Posyandu ILP di Desa Sumber, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar memberikan gambaran nyata tentang implementasi layanan kesehatan terpadu di tingkat desa. Posyandu ini tidak hanya berfokus pada pelayanan bagi balita sebagai upaya pencegahan stunting, tetapi juga mengintegrasikan berbagai layanan lain seperti pemantauan kesehatan ibu hamil, pemeriksaan tekanan darah dan gula darah bagi warga dewasa, serta skrining kesehatan lansia. Kegiatan ini mencerminkan konsep Integrasi Layanan Primer (ILP) yang mendorong pelayanan kesehatan secara menyeluruh di satu tempat dan waktu, sehingga memudahkan masyarakat dalam mengakses layanan.
Gambar 1. Pengecekan Pertumbuhan Balita
Pada pelaksanaan Posyandu tanggal
12 Maret dan 5 Mei 2025, mahasiswa terlibat
langsung dalam berbagai rangkaian kegiatan,
seperti penimbangan dan pengukuran tinggi
badan balita, pencatatan status gizi,
pengecekan tekanan darah untuk lansia dan
dewasa, serta pendampingan ibu hamil saat
konsultasi dengan tenaga kesehatan. Integrasi
layanan terlihat jelas melalui kolaborasi
antara kader posyandu, petugas Puskesmas,
serta dukungan dari mahasiswa KKM.
Kehadiran semua kelompok sasaran (balita,
ibu hamil, dewasa, dan lansia) dalam satu
kegiatan menandakan efektivitas pendekatan
ILP dalam menjangkau seluruh lapisan
masyarakat desa.
Gambar 2. Pengecekan Kesehatan Lansia
Temuan lapangan menunjukkan
antusiasme warga yang cukup tinggi dalam
mengikuti kegiatan Posyandu. Hal ini tampak
dari tingginya partisipasi balita dan lansia
yang datang secara sukarela untuk
mendapatkan layanan kesehatan. Kader
posyandu memainkan peran kunci dalam
mengoordinasikan jalannya kegiatan dan
menjaga keteraturan proses pelayanan.
Meskipun demikian, beberapa kendala juga
teridentifikasi, seperti keterbatasan alat ukur
antropometri yang menyebabkan antrean
panjang, serta kekurangan tenaga pendukung
sehingga kader harus merangkap banyak
tugas. Keterlibatan mahasiswa dalam
kegiatan ini sangat membantu kader dalam
mengelola waktu dan tenaga, serta
memberikan kontribusi dalam edukasi
singkat mengenai gizi dan pola hidup sehat.
Secara awal, kegiatan mahasiswa
berdampak positif terhadap semangat kader
dan warga. Mahasiswa dianggap sebagai
mitra yang dapat memperkuat pelaksanaan
kegiatan serta membawa semangat baru
dalam pengelolaan posyandu. Selain itu,
dokumentasi kegiatan oleh mahasiswa juga
menjadi bahan evaluasi dan laporan yang
dapat dimanfaatkan oleh pihak desa atau
puskesmas.
Berbagai literatur menegaskan bahwa
Posyandu ILP memainkan peran penting
dalam meningkatkan akses layanan
kesehatan dasar sekaligus menurunkan angka
stunting, terutama pada balita. Partisipasi
aktif masyarakat dalam kegiatan posyandu
terbukti berhubungan dengan peningkatan
status kesehatan dan gizi anak (Hartati &
Sumanti, 2023). Selain menyediakan layanan
kesehatan langsung, Posyandu ILP juga
memperkuat jaringan sosial melalui kader
kesehatan yang terlatih. Kinerja kader yang
baik berkontribusi secara signifikan terhadap
kepuasan layanan posyandu , serta
membangun interaksi sosial yang
meningkatkan kualitas pelayanan (Indrayani
dkk., 2022).
Lebih lanjut, peningkatan kunjungan
ke posyandu terbukti berkorelasi dengan
perbaikan status gizi balita secara signifikan,
sementara edukasi yang diberikan kepada ibu
tentang pola asuh dan gizi seimbang turut
memperkuat upaya pencegahan stunting
(Nuraisana dkk., 2024). Namun, tantangan
seperti kurangnya pengetahuan kader dan
minimnya dukungan keluarga masih menjadi
hambatan dalam optimalisasi posyandu
(Putri Pratiwi, 2023). Oleh karena itu,
keberhasilan Posyandu ILP sangat
bergantung pada pemberdayaan kader dan
keterlibatan masyarakat secara aktif sebagai
mitra dalam penguatan layanan kesehatan di
tingkat desa.
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kegiatan pengabdian masyarakat
dalam bentuk partisipasi aktif mahasiswa
pada Posyandu ILP di Desa Sumber,
Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar
telah memberikan kontribusi positif terhadap
upaya pencegahan stunting dan penguatan
layanan kesehatan dasar di tingkat desa.
Posyandu ILP terbukti mampu
mengintegrasikan berbagai layanan
kesehatan, mulai dari pemantauan gizi balita,
pemeriksaan ibu hamil, hingga skrining
kesehatan dewasa dan lansia, dalam satu
sistem pelayanan yang komprehensif.
Temuan menunjukkan bahwa keterlibatan
mahasiswa tidak hanya membantu
memperlancar jalannya kegiatan, tetapi juga
meningkatkan antusiasme masyarakat serta
mendukung edukasi kesehatan yang lebih
efektif. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan
kegiatan KKM untuk mendukung
pencegahan stunting dan promosi kesehatan
telah tercapai secara optimal.
Berdasarkan hasil kegiatan dan
dukungan literatur, direkomendasikan agar
Posyandu ILP terus diperkuat melalui
pelatihan kader secara berkala, peningkatan
ketersediaan alat ukur yang memadai, serta
pelibatan aktif pemuda dan mahasiswa dalam
mendampingi kegiatan kesehatan
masyarakat. Pemerintah desa dan puskesmas
juga disarankan untuk meningkatkan
kolaborasi lintas sektor guna menjamin
kesinambungan layanan serta efektivitas
program ILP dalam jangka panjang.
Diharapkan, dengan dukungan berkelanjutan
dan pendekatan yang partisipatif, angka stunting di Kabupaten Blitar dapat terus
menurun dan kualitas hidup masyarakat
meningkat secara menyeluruh.
DAFTAR PUSTAKA
Harlia Putri, T., Rahmawati, N., Neri, E. L.,
Fahdi, F. K., Arvandy, F., Pramana,
Y., Ligita, T., Herman, & Sukarni.
(2023). PENINGKATAN
PENGETAHUAN STUNTING
MELALUI PELATIHAN KADER
POSYANDU. Jurnal Abdimas Ilmiah
Citra Bakti, 4(1), 42–50.
https://doi.org/10.38048/jailcb.v4i1.1
473
Hartati, S., & Sumanti, N. T. (2023).
Hubungan Peran, Interaksi Sosial dan
Budaya Kader terhadap Pelayanan
Posyandu sebagai Upaya
Peningkatan Mutu Pelayanan untuk
Ibu dan Anak. Indonesia Journal of
Midwifery Sciences, 2(4), 313–320.
https://doi.org/10.53801/ijms.v2i4.12
4
Indrayani, I., Sholeha, N. A., Oktavia, B., &
Amalia, I. S. (2022). HUBUNGAN
ANTARA KINERJA KADER
DENGAN TINGKAT KEPUASAN
PELAYANAN POSYANDU DI
DESA SUSUKAN KECAMATAN
CIPICUNG KABUPATEN
KUNINGAN TAHUN 2022. Jurnal
Ilmu Kesehatan Bhakti Husada:
Health Sciences Journal, 13(02),
220–229.
https://doi.org/10.34305/jikbh.v13i0
2.592
Nuraisana, N., Halawa, S. W., & Harun, M.
(2024). Implementasi Algoritma C4.5
Dalam Mengklasifikasi Status Gizi
Balita Pada Posyandu Desa Sekip
Lubuk Pakam. Jurnal SAINTIKOM
(Jurnal Sains Manajemen
Informatika dan Komputer), 23(1),
130.
https://doi.org/10.53513/jis.v23i1.95
96
Oktafiani, R., & Witanti, A. (2024). SISTEM
PAKAR DETEKSI AWAL
STUNTING PADA BALITA
MENGGUNAKAN METODE
CERTAINTY FACTOR.
Technologia : Jurnal Ilmiah, 15(1),
130.
https://doi.org/10.31602/tji.v15i1.13
675
Pebrianty, P., Lalli, L., & Embong, M.
(2023). Percepatan Pencegahan
Stunting pada Anak Usia Dini dengan
Pendekatan Analisis Spasial.
Murhum : Jurnal Pendidikan Anak
Usia Dini, 4(2), 259–271.
https://doi.org/10.37985/murhum.v4i
2.315
Putri Pratiwi, K. (2023). Hubungan
Dukungan Keluarga Dengan
Kunjungan Posyandu Balita Di Desa
Sukamanis Wilayah Kerja Puskesmas
Kadudampit Kabupaten Sukabumi.
Jurnal Health Society, 12(2).
https://doi.org/10.62094/jhs.v12i2.10
8
Risnanto, R. (2023). STUDI DESKTIPTIF
KEJADIAN STUNTING PADA
BALITA. Bhamada: Jurnal Ilmu dan
Teknologi Kesehatan (E-Journal),
14(1), 35–40.
https://doi.org/10.36308/jik.v14i1.48
3
Saputri, R. A., & Tumangger, J. (2019).
Hulu-Hilir Penanggulangan Stunting
Di Indonesia. Journal of Political
Issues, 1(1), 1–9.
https://doi.org/10.33019/jpi.v1i1.2
Suhandiah, S., Martiningtyas, N., &
Ayuningtyas, A. (2022).
Implementasi Analisis Diskriminan
dalam Pengelompokan Kinerja
Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat. JI-KES (Jurnal Ilmu
Kesehatan), 6(1), 84–93.
https://doi.org/10.33006/ji-
kes.v6i1.378
Waafiroh, B., Iriyani, E., & Sejati, A. (2023).
PENGARUH BERAT DAN
PANJANG BADAN LAHIR
RENDAH TERHADAP KEJADIAN
STUNTING PADA ANAK USIA 1-
5 TAHUN. Jurnal Ilmu Kebidanan,
10(1), 7–13
https://doi.org/10.48092/jik.v10i1.21
6
Waslia, D. (2022). The Relationship between
Health Services and Stunting
Incidence in Toddlers at
POSYANDU Padasuka Bandung
Regency. Jurnal Kesehatan Kartika,
17(3), 1.
https://doi.org/10.26874/jkkes.v17i3.
249