Sampah plastik merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang dihadapi Pondok Pesantren Raudlatul Qur'an (PPRQ) Ringin Rejo, di mana aktivitas sehari-hari puluhan santri menghasilkan limbah plastik yang cukup signifikan, mulai dari botol minuman bekas, bungkus makanan ringan, kantong kresek, hingga sedotan plastik. Selain sebagai upaya pengelolaan sampah, program ecobrick ini juga dilatarbelakangi oleh kondisi pondok yang masih tergolong baru sehingga belum memiliki identitas visual atau ikon khas yang dapat menjadi penanda dan kebanggaan bersama bagi warga pondok. Oleh karena itu, tim mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) kelompok 56 merancang program Ecobrick, yakni metode pengelolaan sampah plastik dengan cara memasukkan dan memadatkan plastik lunak ke dalam botol plastik bekas hingga menjadi "bata" yang cukup kuat untuk dijadikan bahan konstruksi. Program ini dilaksanakan melalui enam tahapan terstruktur, meliputi sosialisasi dan edukasi kepada seluruh santri, pengumpulan sampah plastik dari berbagai area pondok, produksi ecobrick secara rutin setiap hari selesai mengaji selama 15–30 menit, perancangan desain instalasi, penyusunan dan finishing, hingga pemasangan serta evaluasi akhir. Pemilihan waktu pasca-mengaji dinilai sangat strategis karena menyisipkan nilai kepedulian lingkungan ke dalam ritme keseharian santri tanpa mengganggu kegiatan belajar dan ibadah, sekaligus menciptakan ruang kebersamaan yang hangat di antara santri, pengurus pondok, dan mahasiswa KKM.
Hasil dari program ini adalah terkumpulnya ratusan botol ecobrick yang kemudian dirakit menjadi instalasi tulisan "PPRQ RINGIN REJO" sebagai ikon kebanggaan pondok sekaligus simbol nyata bahwa sampah dapat diubah menjadi sesuatu yang bernilai. Dampak program ini dirasakan secara multidimensi: secara fisik, lingkungan pondok menjadi lebih bersih dan sehat karena sampah plastik tidak lagi berserakan; secara pedagogis, para santri memperoleh pengalaman belajar langsung mengenai bahaya sampah plastik dan pentingnya bertindak nyata untuk lingkungan, sekaligus memperkuat rasa percaya diri dan kreativitas mereka secara kelembagaan, pondok mendapatkan identitas visual yang unik dan dikenal sebagai lembaga yang berkontribusi aktif dalam pelestarian lingkungan. Lebih jauh, program ini memiliki relevansi mendalam dengan nilai-nilai Islam, di mana pembuatan ecobrick yang dilakukan setelah mengaji secara simbolis menyatukan dua dimensi ibadah, yakni dimensi vertikal melalui mengaji dan berdoa, serta dimensi horizontal melalui pengabdian terhadap lingkungan, selaras dengan ajaran Islam bahwa menjaga kebersihan bumi adalah bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di muka bumi.