3 months ago

Rabu, Sungai, dan Istiqomah: Cerita KKM Astra Pradhipta 73 di Kampoeng KRPL

Header Image
M. FAIZIN AL ANSORI

230203110032 • KKM Reguler Semester Ganjil • G.73

Ada hal-hal yang baru terasa maknanya setelah kita benar-benar menjalaninya. Salah satunya: hari Rabu.



Dalam Ta’lim Muta’allim karya Syekh Az-Zarnuji, ada nasihat yang unik sekaligus menenangkan: memulai suatu kegiatan pada hari Rabu adalah anjuran yang baik, karena hari tersebut punya keistimewaan. Dulu, aku menganggapnya sekadar kalimat klasik dalam kitab. Tapi ternyata, di Desa Sumberdem, nasihat itu seperti “hidup” dan menjelma menjadi pengalaman nyata.



Kami, mahasiswa KKM Astra Pradhipta 73, melaksanakan pengabdian di Dusun Durengede (Ngemplak) dan Sumberingin, Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, sejak 23 Desember hingga 04 Februari. Mengusung tema besar KKM Berdampak, kami membawa tiga program unggulan: pengembangan UMKM, pencegahan stunting, dan moderasi beragama.



Namun, dari sekian banyak kegiatan, ada satu rutinitas yang paling melekat di kepala dan (jujur) paling terasa di punggung: kerja bakti pembangunan wisata sungai di Kampoeng KRPL—setiap hari Rabu.



Sungai Itu Indah, Tapi Jalannya… Bikin Tobat



Awal mula kami terlibat dalam pembangunan wisata ini terjadi saat pertama kali bersilaturahmi dengan Ketua Pokdarwis Kampoeng KRPL. Dari beliau kami tahu, setiap hari Rabu para pemuda desa dan bapak-bapak aktivis desa rutin kerja bakti membangun wisata desa.



Wisata yang dimaksud adalah wisata air yang berada di balik pemukiman warga. Kedengarannya sederhana, tapi kenyataannya… jalannya tidak ramah sama sekali.



Sungainya tersembunyi, menjorok ke bawah, dan dikelilingi hutan yang masih alami. Aksesnya masih berupa jalan setapak yang licin, curam, dan rawan terpeleset. Waktu pertama kali turun, beberapa dari kami sempat terdiam, bukan karena kagum—tapi karena sedang menimbang:



“Ini beneran jalan atau jalur ujian hidup?”



Tapi anehnya, rasa takut itu bercampur bangga. Karena kami sadar: kami termasuk orang-orang pertama yang ikut membuka jalan menuju potensi besar desa.



Mengangkat Batu, Mengangkat Harapan



Pada Rabu pertama, tugas kami cukup “legendaris”: mengambil batu-batu besar dari dasar sungai untuk dijadikan pondasi tangga akses menuju lokasi wisata.



Kami berjajar membentuk barisan. Batu-batu itu dioper dari bawah ke atas dengan penuh kehati-hatian. Medannya licin, kaki sering selip, tangan pegal, tapi kami tetap lanjut.



Di sisi lain, bapak-bapak warga fokus mencangkul tanah, membentuk anak tangga, dan merapikan jalur.



Di momen itu kami belajar: membangun wisata desa itu bukan soal konsep besar di atas kertas, tapi tentang hal-hal sederhana seperti:





  • membersihkan jalur




  • menata batu




  • memperkuat akses




  • dan yang paling penting: konsisten datang kembali





Rabu berikutnya, kami kembali ke lokasi yang sama. Kali ini untuk menata batu-batu tadi menjadi pondasi tangga sesuai arahan warga yang sudah lebih berpengalaman.



Dari sini kami paham, membangun itu bukan tentang kecepatan, tapi tentang ketepatan dan kesabaran.



Tiga Minggu, Satu Tempat, dan Banyak Pelajaran



Selama kurang lebih tiga sampai empat minggu, setiap hari Rabu kami “bertemu lagi” dengan tempat yang sama.



Fokus kerja pun berkembang. Mulai dari:





  • memperkuat akses jalan




  • menghias jalur masuk dengan tanaman




  • membantu pendirian gazebo sederhana




  • hingga merapikan titik-titik yang akan jadi area istirahat





Di sela istirahat, Ketua Pokdarwis sering menjelaskan konsep wisata ini. Ternyata, wisata sungai ini tidak hanya akan menjadi wisata air, tetapi juga dikembangkan sebagai wisata edukasi dan perkebunan.



Konsepnya menarik:

pengunjung bisa memanen sayuran dan tanaman masyarakat, lalu mengolahnya langsung dalam cooking class. Jadi bukan sekadar wisata “lihat-lihat”, tapi wisata yang:





  • memberi nilai edukasi




  • menghidupkan pertanian warga




  • dan membuka peluang UMKM baru





Bisa dibayangkan, kalau wisata ini berkembang, maka akan muncul banyak peluang:

warung makan, produk olahan, jasa pemandu, hingga penjualan hasil tani.



Istiqomah Itu Ternyata… Datang Lagi dan Lagi



Kalau ditanya pelajaran paling kuat dari kegiatan ini, jawabannya adalah satu: istiqomah.



Dalam Islam, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus walaupun sedikit.”



Dan kami merasakan sendiri maknanya.



Kerja bakti itu bukan acara seremonial. Tidak ada panggung. Tidak ada spanduk besar. Bahkan tidak ada “tepuk tangan penonton”.



Yang ada hanya:





  • tanah




  • batu




  • keringat




  • dan orang-orang yang tetap datang setiap Rabu





Masyarakat Desa Sumberdem mengajarkan bahwa membangun desa bukan soal hasil instan, tapi soal kesungguhan untuk terus kembali dan melanjutkan.



Pulang dengan Baju Kotor, Tapi Hati Bersih



Setiap selesai kerja bakti, kami pulang dengan tubuh kotor oleh tanah dan keringat.



Kadang tangan pegal. Kadang kaki lecet. Kadang baju penuh lumpur.



Tapi entah kenapa, hati terasa lebih ringan.



Kami sadar, pengabdian sejati sering dimulai jauh dari keramaian. Di tempat yang sepi, licin, dan melelahkan. Tapi justru di sanalah harapan tumbuh.



Di Kampoeng KRPL, kami belajar bahwa:membangun desa bukan tentang “datang lalu selesai”,

tapi tentang “datang, kembali, lalu terus melanjutkan”.



Penutup: Rabu yang Tak Lagi Sama



Sekarang, setiap mendengar kata “Rabu”, kami tidak lagi mengingatnya sebagai hari biasa. Kami mengingat sungai, batu, tangga, hutan, gazebo, dan gotong royong.



Kami mengingat bagaimana warga desa mengajarkan bahwa sebuah wisata desa, UMKM, bahkan harapan, semuanya dimulai dari langkah kecil.



Dan kami bersyukur pernah menjadi bagian dari langkah kecil itu.



Tabik…

Salam hangat dari KKM Astra Pradhipta 73