Di balik kabut tipis yang menyelimuti lereng pegunungan Bromo, Desa Ngadas berdiri tenang dengan hamparan ladang yang menjadi sumber kehidupan warganya. Desa yang berada di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang ini dikenaldengan udara sejuk, pemandangan indah, serta kearifan lokal masyarakatnya yang masih terjaga. Namun, di balik keindahanalam tersebut, desa ini juga menghadapi tantangan yang tidakt erlihat dari kejauhan, yaitu persoalan pengelolaan sampah.
Seiring meningkatnya aktivitas masyarakat, volume sampah rumah tangga pun ikut bertambah. Sampah yang awalnya terlihat sepele, perlahan menjadi persoalan lingkungan yang perlu mendapat perhatian bersama. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat memengaruhi kesehatan masyarakat, merusak keindahan alam desa, bahkan mengganggu aktivitas pertanian warga.
Desa Ngadas sebenarnya telah memiliki Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang cukup besar yang berada di area ladang warga. TPS ini menjadi tempat berkumpulnya berbagai sampah rumah tangga masyarakat. Pemerintah desa sempat menghadirkan solusi melalui program pengelolaan sampah terpadu dengan sistem kontribusi masyarakat sebesar Rp7.500 per bulan per kepala keluarga. Nominal yang sederhana ini diharapkan mampu membantu operasional pengurus yang bertugas mengelola sampah desa agar lingkungan tetap bersih dan terjaga. Namun seiring berjalannya waktu, program tersebut menghadapi berbagai kendala di lapangan. Pengelolaan yang belum berjalan maksimal membuat program ini akhirnya dihentikan, meninggalkan tantangan baru bagi desa untuk mencari cara lain dalam menangani persoalan sampah.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKM UIN Malang mencoba menghadirkan solusi sederhana namun bermanfaat melalui pembuatan rocket stove minim asap. Rocket stove merupakan tungku pembakaran yang dirancang dengan sistem sirkulasi udara khusus sehingga proses pembakaran menjadi lebih efisien, lebih panas, dan menghasilkan asap yang jauh lebih sedikit dibanding pembakaran biasa.
Alasan pembuatan rocket stove ini tidak hanya untuk membantu mengurangi volume sampah, tetapi juga untuk meminimalisir dampak asap pembakaran yang selama ini sering mengganggu lingkungan dan kesehatan masyarakat. Dengan alat ini, pembakaran sampah bisa dilakukan lebih terkendali. Harapannya, udara desa tetap bersih, ladang tetap nyaman untuk bekerja, dan aktivitas masyarakat tidak terganggu oleh asap pembakaran yang berlebihan.
Proses pembuatan rocket stove juga tidak hanya berhenti pada pembuatan alat saja. Mahasiswa KKM turut memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara penggunaan, cara perawatan, serta manfaat jangka panjangnya bagi lingkungan desa. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama, di mana ilmu dari bangku perkuliahan bertemu dengan pengalaman hidup masyarakat desa. Dari sinilah semangat gotong royong kembali terasa hangat.
Lebih dari sekadar program kerja, rocket stove menjadi bentuk nyata kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan dan masyarakat. Di tengah udara dingin pegunungan Ngadas, rocket stove hadir sebagai simbol usaha kecil yang membawa harapan besar. Harapan akan lingkungan yang lebih bersih, udara yang lebih sehat, dan kesadaran bersama untuk menjaga alam.
Langkah ini mungkin belum menyelesaikan seluruh persoalan sampah di Desa Ngadas. Namun perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Seperti api kecil yang mampu menyalakan cahaya di tengah gelap, inovasi sederhana ini diharapkan menjadi awal kesadaran bersama untuk menjagal ingkungan. Karena pada akhirnya, merawat alam berarti merawat kehidupan itu sendiri.