3 months ago

Salad, Cerita, dan Hujan di Sore Bersama Pak Husni

Header Image
DANIA FRIDA AMAZONE

230701110029 • KKM Unggulan Fakultatif • G.227

Hari ini adalah kunjungan terakhir kami kepada Pak Husni, dan sejak pagi udara sudah terasa berbeda—seperti halaman terakhir pada sebuah buku yang enggan ditutup. Rumah kosnya yang begitu besar, apik, dan juga rapi menyambut kami dengan aroma kayu tua dan suasana yang nyaman dan hangat seperti pemiliknya. Pak Husni bukan sekadar lelaki berambut memutih yang senang bercerita; ia adalah perpustakaan berjalan. Di setiap kalimatnya tersimpan perjalanan panjang: tentang masa muda yang keras, tentang kegagalan yang membuatnya tegak, juga tentang harapan yang tak pernah ia biarkan layu. Kami duduk melingkar, mendengarkan ia bertutur seperti anak-anak yang menemukan kembali dongeng yang hilang.



Siang merambat pelan, dan kami mengajak beliau memasak salad. Dapur kecil itu berubah menjadi ruang penuh keceriaan: suara pisau memotong sayur, aroma segar buah, dan celoteh kami yang saling bersahutan. Pak Husni dengan sabar menunggu dan melihat kami mencampur bumbu, sambil menonton beliau juga menyelipkan nasihat ringan tentang hidup—bahwa segala hal, seperti salad, akan terasa nikmat jika diramu dengan hati yang lapang. Kami tertawa, saling mengejek hasil potongan yang tak rapi, dan untuk sesaat lupa bahwa ini adalah pertemuan terakhir.



Menjelang sore kami berjalan keluar, berniat menikmati langkah santai bersama beliau. Langit yang tadinya cerah berubah seperti hati yang mendadak melankolis. Hujan turun tanpa permisi, membuat kami berlarian kecil di jalan kampung. Beberapa dari kami sedikit basah, kerudung menetes, sepatu penuh percikan, namun tak seorang pun mengeluh. Pak Husni justru tertawa paling keras, mengatakan bahwa hujan adalah tepuk tangan dari langit untuk orang-orang yang berani berbahagia.



Sore itu, di bawah cuaca yang sendu, kami merasa menjadi bagian dari salah satu cerita yang kelak akan ia kisahkan kepada tamu berikutnya. Aku menyadari, yang membuat Pak Husni hebat bukan hanya pengalamannya yang panjang, tetapi caranya memandang hidup dengan mata yang selalu ingin bersyukur. Ketika kami berpamitan, ada sesuatu yang menggenang di dada—campuran haru dan terima kasih. Kunjungan memang berakhir, tetapi cerita tentang beliau akan terus berjalan dalam ingatan kami, seperti hujan yang diam-diam menumbuhkan kehidupan.