12 months ago

Saluran Air dan Aliran Harapan: Mahasiswa UIN Malang dan Warga Jetis Bersatu Bangun Lingkungan

Header Image
PRADENTA BAGUS WILL HELMINA

220102110077 • KKM MBKM & Pengabdian Lain • G.323

Malang, 13 April 2025 – Di bawah sinar matahari pagi yang hangat, deru cangkul dan denting batu bata terdengar bersahutan. Di sela suara itu, terdengar tawa ringan, candaan khas kampung, dan panggilan gotong royong yang sudah lama terasa asing di banyak sudut negeri. Namun tidak di Desa Jetis, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Di sini, gotong royong justru hidup kembali — lewat sebuah saluran air.



Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 323 dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang hadir bukan hanya membawa teori dan program. Mereka datang dengan tangan terbuka, kaki yang siap berdebu, dan hati yang bersedia menyatu. Di hari itu, bersama warga, mereka menggali tanah, menata batu, mengalirkan harapan — satu parit demi satu parit.



Program ini bukan sekadar proyek perbaikan drainase. Ini adalah bentuk nyata dari keberpihakan: kepada lingkungan yang sering luput dari perhatian, kepada warga yang selama ini menanggung genangan saat hujan datang, dan kepada makna kemanusiaan itu sendiri.



Saluran air yang dikerjakan membentang di sisi pesantren yang sebelumnya kerap digenangi air karena sistem drainase yang buruk. Setiap musim hujan, genangan tak hanya mengganggu aktivitas, tapi juga mengancam kenyamanan dan kesehatan santri. Kini, dengan kerja kolektif mahasiswa dan warga, jalur air mulai menemukan bentuknya — rapi, mengalir, dan membawa harapan baru.



Salah satu mahasiswa KKM, dengan tangan masih penuh lumpur, berkata lirih, “Kami belajar lebih banyak di sini daripada di ruang kelas mana pun. Di balik lumpur ini, ada pelajaran tentang kerja sama, keikhlasan, dan kepedulian yang tak diajarkan di bangku kuliah.”



Warga pun menyambut hangat keterlibatan mahasiswa. Mereka merasa tak hanya dibantu secara fisik, tapi juga secara moral. “Anak-anak muda ini turun langsung. Mereka tak canggung, mereka bekerja benar-benar. Kami jadi teringat zaman dulu, ketika gotong royong adalah budaya, bukan ajakan,” ujar salah satu warga yang ikut bekerja.



Yang menarik, kegiatan ini tak digerakkan oleh upah atau paksaan. Semua hadir karena rasa. Mahasiswa hadir karena ingin menjadi bagian dari masyarakat, bukan hanya mengabdi sejenak lalu pulang. Warga hadir karena percaya, bahwa kerja bersama tak pernah sia-sia.



Program kerja bakti ini adalah satu dari banyak kegiatan yang diusung dalam tema besar KKM 323, “Kolaborasi Sosial dalam Menanggulangi Stunting dan Menginternalisasi Moderasi Beragama bagi Generasi Emas”. Dan meskipun tidak mengangkat tema gizi atau kitab klasik, kerja bakti saluran air ini menyimpan makna yang tak kalah mendalam: bahwa membangun bangsa tidak selalu harus dengan seminar, kadang cukup dengan menggali tanah bersama.



Ketika parit-parit itu selesai dikerjakan, dan air mulai mengalir lancar, tak ada seremoni. Hanya senyum kecil, tepukan di bahu, dan rasa puas yang tak bisa ditukar dengan apapun. Mungkin memang tidak ada yang monumental dari saluran air. Tapi dari sanalah kehidupan bisa berjalan lebih baik — setidaknya bagi warga Jetis, dan bagi mahasiswa yang kini belajar arti pengabdian dari dasar tanah.