Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) kami di Desa Sepakek pada bulan Januari ini terasa sangat istimewa. Entah karena kebetulan atau memang waktunya yang pas, kehadiran kami bertepatan dengan berbagai agenda besar desa. Mulai dari perayaan hari besar Islam, musim pernikahan, hingga momen duka warga terjadi secara berurutan. Hal ini membuat hari-hari kami tidak hanya diisi dengan program kerja formal di kantor desa atau sekolah, tetapi juga keterlibatan langsung dalam denyut kehidupan sosial warga yang sesungguhnya.
Kesibukan kami dimulai tepat pada awal tahun. Lombok memang dikenal sebagai "Pulau Seribu Masjid", dan kami merasakan kebenarannya di sini. Desa Sepakek memiliki sembilan masjid yang tersebar di berbagai dusun, dan peringatan Isra Mi'raj tidak dilaksanakan serentak dalam satu malam saja, seperti yang sudah kami ceritakan di artikel kami sebelumnya(link). Namun, belum sempat kami beristirahat panjang dari safari Isra Mi'raj tersebut, desa kembali ramai dengan acara pernikahan. Bulan Januari ini tercatat ada tiga pernikahan yang digelar oleh warga. Di Lombok, persiapan pernikahan disebut dengan Begawe. Kami cukup terkejut melihat dapur umum acara hajatan di sini, yang ternyata bapak-bapaklah yang memegang kendali memasak nasi dan daging di kuali-kuali raksasa, dengan menu wajib Sayur Ares. Sementara itu, peran kami bersama para pemuda desa adalah membantu distribusi makanan. Kami bertugas mengantar hidangan Dulang tersebut ke hadapan para tamu undangan yang duduk melingkar di tempat-tempat yang sudah disediakan di sekitar halaman rumah dari tempat tersebut. Rasanya cukup melelahkan mondar-mandir membawa nampan berat, namun melihat kekompakan warga, rasa lelah itu tidak begitu terasa.
Dari tiga pernikahan tersebut, dua di antaranya mengadakan tradisi Nyongkolan, dan kami berkesempatan mengikuti keduanya. Ini adalah pengalaman baru bagi kami. Nyongkolan adalah arak-arakan pengantin menuju rumah mempelai wanita yang diiringi musik tradisional seperti Gendang Beleq atau Kecimol. Kami ikut berjalan kaki di tengah barisan warga yang mengenakan pakaian adat, merasakan kemeriahan yang luar biasa. Melihat tradisi yang masih sangat lestari ini, kami sebagai anak muda yang besar di kota merasa kagum karena budaya lokal di sini masih dipegang teguh dan dijalankan dengan antusias.
Rangkaian pengalaman kami di Desa Sepakek ini terakhir ada momen yang lebih emosional. Beberapa hari yang lalu, salah satu warga tetangga di dekat posko kami meninggal dunia. Suasana yang tadinya ramai oleh pesta, berubah menjadi syahdu penuh solidaritas. Tanpa dikomando, warga berdatangan untuk membantu keluarga yang berduka. Kami pun langsung turun tangan membantu mendirikan tenda dan menyusun kursi untuk para pelayat. Di sini, rangkaian doa dan tahlil biasanya berlangsung hingga hari ke-9 atau yang disebut Nyiwak. Setiap tamu yang datang selalu disuguhkan kopi hitam. Kami duduk bersama warga, menyeruput kopi, dan melihat bahwa gotong royong di desa ini tidak hanya hadir saat pesta pora, tetapi juga berdiri paling depan saat ada warga yang berduka.
Satu bulan ini benar-benar membuka mata kami. Desa Sepakek bukan sekadar lokasi KKN, melainkan tempat belajar tentang arti kebersamaan yang sesungguhnya.