12 months ago

SINERGI PENDIDIKAN MADRASAH DAN RUMAH : MENUMBUHKAN ANAK HEBAT, BERAKHLAQ, DAN BERPRESTASI

Header Image
ABDUL ROJI

220102110107 • KKM MBKM & Pengabdian Lain • G.332

 



Pada 2 Mei 2025, MI Almaarif 11 Gunungrejo menjadi tempat berlangsungnya sebuah gerakan kecil namun penuh makna: seminar parenting yang digagas oleh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud nyata pengabdian masyarakat yang mengedepankan penguatan karakter melalui sinergi antara madrasah dan keluarga.



Seminar ini difokuskan kepada wali murid kelas 5 sebagai peserta utama, dengan tujuan utama untuk mengajak mereka merefleksikan kembali peran penting sebagai pendidik utama bagi anak—bukan hanya secara biologis, melainkan juga sebagai figur utama dalam pembentukan karakter di lingkungan rumah.



Sejak pagi, aula madrasah dipenuhi para ibu yang hadir dengan semangat dan harapan. Antusiasme mereka begitu terasa, mengingat kegiatan edukatif semacam ini masih jarang diadakan di wilayah Gunungrejo yang relatif terpencil. Terbatasnya akses informasi tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap semangat belajar.



Acara diawali dengan sambutan dari pihak madrasah dan tim KKM, dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh M. Ibnu Ahmad, S.Pd.I., M.Pd., yang mengangkat tema “Sinergi Pendidikan Madrasah dan Rumah: Menumbuhkan Anak Hebat, Berakhlak, dan Berprestasi.” Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan karakter, karena sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Rumah adalah tempat pendidikan pertama, dan orang tua adalah gurunya.



Sesi berlangsung dengan penuh perhatian. Para wali murid tampak aktif mencatat dan mengangguk setuju pada berbagai penjelasan. Salah satu momen paling menyentuh adalah ketika pemateri mengutip Imam Al-Ghazali: “Meninggalkan anak tanpa pendidikan lebih berbahaya daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin.” Kutipan ini menjadi refleksi mendalam bagi para peserta mengenai pola pengasuhan yang selama ini dijalankan.



Sesi tanya jawab menjadi ruang terbuka bagi para orang tua untuk mengungkapkan beragam kekhawatiran—dari kesulitan mengatur anak, tantangan membagi waktu antara pekerjaan rumah dan mendampingi anak, hingga kecemasan terhadap pengaruh gadget dan media sosial. Pemateri merespons semua pertanyaan dengan empati dan solusi yang realistis, tanpa menghakimi.



Lebih dari sekadar transfer pengetahuan, seminar ini menjadi medium komunikasi antara guru dan orang tua. Guru-guru menyampaikan bahwa selama ini mereka sering merasa bekerja sendirian dalam mendidik siswa karena komunikasi dengan wali murid masih terbatas. Seminar ini menjadi titik awal tumbuhnya rasa saling pengertian dan kerja sama.



Dalam wawancara, Kepala MI Almaarif 11, Ibu Miftahul Jannah, M.Pd., menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa masyarakat Gunungrejo sangat membutuhkan wawasan parenting, dan kegiatan seperti ini menjadi penghubung penting antara sekolah dan keluarga.



Yang menarik, acara ini tidak berhenti pada kegiatan satu kali saja. Di akhir sesi, beberapa orang tua bahkan mengusulkan agar seminar semacam ini diadakan secara berkala dengan tema-tema lain yang relevan.



Dokumentasi acara merekam berbagai momen istimewa—mulai dari penyerahan sertifikat kepada narasumber, hingga sesi foto bersama peserta dan panitia yang menunjukkan kehangatan dan kepuasan yang terpancar dari senyum mereka.



Meski digelar di aula sederhana, semangat dan esensi dari seminar ini jauh melampaui keterbatasan fisik ruangan. Seminar parenting ini menunjukkan bahwa sinergi antara rumah dan madrasah mampu memperkuat pendidikan karakter anak—bahkan dimulai dari desa kecil di kaki Gunungrejo.



Secara keseluruhan, seminar ini terbukti efektif dalam membangun kedekatan antara madrasah dan keluarga. Dengan pendekatan observatif dan partisipatif, terlihat bahwa dampaknya tak hanya bersifat teoritis, tetapi juga menyentuh aspek emosional dan sosial peserta. Hal ini sejalan dengan pemikiran Epstein (2023) serta Grolnick & Slowiaczek (2021), yang menekankan bahwa keterlibatan orang tua melalui pemahaman dan komunikasi yang sehat merupakan kunci keberhasilan pendidikan anak. Oleh karena itu, kegiatan serupa patut dijadikan inspirasi bagi program-program pengabdian masyarakat yang berkelanjutan dan berdampak langsung.