Pada tanggal 2 Mei 2025, MI Almaarif 11 Gunungrejo menjadi saksi lahirnya sebuah gerakan kecil namun berdampak besar: seminar parenting yang diinisiasi oleh mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kegiatan ini tak sekadar agenda formal, melainkan wujud nyata pengabdian yang mengusung misi penguatan karakter melalui kolaborasi antara madrasah dan keluarga.
Seminar ini menyasar para wali murid kelas 5 sebagai peserta utama. Tujuannya jelas—mengajak mereka merenungi kembali peran penting dalam tumbuh kembang anak, bukan hanya sebagai orang tua secara biologis, tetapi juga sebagai pendidik pertama dan utama di rumah.
Sejak pagi, aula madrasah mulai dipadati ibu-ibu dengan wajah cerah dan penuh harap. Antusiasme mereka terasa begitu tulus, mengingat kegiatan edukatif seperti ini masih sangat langka di wilayah Gunungrejo yang cukup terpencil. Keterbatasan akses informasi tak menyurutkan semangat mereka untuk belajar.
Acara dibuka dengan sambutan hangat dari pihak madrasah dan tim KKM, dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh M. Ibnu Ahmad, S.Pd.I., M.Pd. Mengangkat tema “Sinergi Pendidikan Madrasah dan Rumah: Menumbuhkan Anak Hebat, Berakhlak, dan Berprestasi”, beliau menyampaikan pesan penting: pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah. Rumah adalah madrasah pertama, dan orang tua adalah gurunya.
Sesi berlangsung penuh perhatian. Para wali murid terlihat aktif mencatat dan sesekali mengangguk tanda setuju. Salah satu momen yang menyentuh adalah saat pemateri mengutip Imam Al-Ghazali: “Meninggalkan anak tanpa pendidikan lebih berbahaya daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin.” Kutipan ini seolah menjadi cermin bagi para orang tua untuk kembali mengevaluasi pola asuh mereka.
Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Berbagai kegelisahan mereka terungkap—dari cara menghadapi anak yang sulit diatur, membagi waktu antara pekerjaan rumah dan mendampingi anak, hingga kekhawatiran soal dampak gadget dan media sosial. Pemateri merespons dengan solusi yang membumi dan penuh empati, tanpa menghakimi.
Tak hanya menyentuh aspek pengetahuan, seminar ini juga membuka ruang dialog antara guru dan orang tua. Guru-guru mengungkapkan bahwa selama ini mereka sering merasa bekerja sendirian dalam mendidik siswa, karena komunikasi dengan wali murid masih minim. Momen ini menjadi titik balik: komunikasi mulai terbangun, rasa saling memahami mulai tumbuh.
Dalam wawancara dengan Kepala MI Almaarif 11, Ibu Miftahul Jannah, M.Pd., ia menyampaikan apresiasi mendalam atas kegiatan ini. Menurutnya, masyarakat Gunungrejo sangat membutuhkan wawasan parenting, dan seminar seperti ini menjadi jembatan penting antara keluarga dan sekolah.
Yang menarik, seminar ini tidak berhenti sebagai event sesaat. Ia menumbuhkan semangat baru. Di akhir acara, beberapa wali murid bahkan mengusulkan agar kegiatan serupa diadakan secara rutin dengan tema-tema lain yang relevan.
Dokumentasi kegiatan juga menyimpan banyak momen berharga—dari penyerahan sertifikat kepada pemateri di depan spanduk acara yang meriah, hingga foto kebersamaan antara peserta dan panitia dengan senyum hangat yang menyiratkan kepuasan dan harapan.
Meski diadakan di aula sederhana, semangat dan nilai dari kegiatan ini jauh melampaui batas fisik ruangan. Seminar parenting ini menjadi bukti bahwa dengan sinergi yang tulus antara madrasah dan rumah, pendidikan karakter anak bisa dibangun lebih kuat—mulai dari desa kecil di kaki Gunungrejo.
Secara keseluruhan, seminar parenting ini terbukti menjadi ruang yang efektif untuk mempererat hubungan antara madrasah dan keluarga. Melalui pendekatan observasi langsung dan wawancara partisipatif, terlihat jelas bahwa dampak kegiatan ini tak hanya terasa di tataran teori, tetapi juga menyentuh sisi emosional dan sosial para peserta. Sejalan dengan pandangan Epstein (2023) serta Grolnick & Slowiaczek (2021), keterlibatan orang tua yang dibangun melalui pemahaman dan komunikasi yang sehat menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan anak. Karena itu, kegiatan seperti ini layak dijadikan model inspiratif untuk program-program pengabdian masyarakat yang berkelanjutan dan berdampak nyata