3 months ago

Swara Tengger: Kamus Bahasa Tengger Upaya Pengenalan dan Pelestarian Bahasa Leluhur Masyarakat Tengger

Header Image
SITI KHOTIMAH

230501110225 • KKM Reguler Semester Ganjil • G.94

Swara Tengger: Kamus Bahasa Tengger



Upaya Pengenalan dan Pelestarian Bahasa Leluhur Masyarakat Tengger



Bahasa merupakan suatu hal yang sering kali hadir tanpa kita sadari, yang biasa terdengar dalam sapaan, obrolan ringan, dan tawa canda yang mengalir begitu saja. Di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, bahasa Tengger hidup dan tumbuh bersama keseharian masyarakatnya. Dan dari sinilah Swara Tengger hadir, sebagai upaya sederhana untuk menyimpan dan mengenang kata-kata yang selama ini kami dengar menjadi bagian dari kehidupan warga.



Swara Tengger kami buat sebagai kamus bahasa daerah yang lahir dari pengalaman langsung di lapangan. Desa Ngadas merupakan salah satu desa wisata yang dekat dengan pegunungan. Desa ini banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri. Namun, tidak semua orang yang berkunjung dapat memahami bahasa yang digunakan oleh masyarakat setempat. Kamus ini hadir untuk menjadi jembatan kecil antara warga asing dan warga lokal agar bahasa Tengger Ngadas dapat dikenal, dipelajari, dan digunakan dalam berbagai interaksi yang lebih hangat.



Pengumpulan kosakata dilakukan dengan cara mendengarkan. Kami dan teman-teman berbincang hangat dengan warga, mencatat kata demi kata yang sering digunakan, dan belajar dari percakapan yang kami lakukan sehari-hari. Kami juga mengajak anak-anak sekolah dasar untuk berbincang santai. Dan dari merekalah kami melihat bagaimana bahasa Tengger terus diwariskan, digunakan, dan dijaga secara utuh.



Agar kosakata yang kami catat tidak kehilangan makna aslinya, kami melakukan konsultasi dengan Romo Dukun (Ketua Adat). Dari semua proses ini, kami menyadari bahwa satu kata tidak selalu bisa diterjemahkan begitu saja, melainkan butuh beberapa proses yang harus kami lakukan agar tidak ada kesalahan dalam penulisan setiap kata dan terjemahnya. Bahasa Tengger Ngadas memiliki konteks budaya yang kuat, sehingga pemilihan arti harus dilakukan dengan hati-hati agar tetap sesuai dengan nilai dan kebiasaan masyarakat.



Dalam penyusunan kamus ini, kami tidak lepas dari berbagai tantangan. Perbedaan pengertian arti antara beberapa warga atau keterbatasan padanan kata dalam bahasa Indonesia, serta upaya menyesuaikan bahasa agar lebih mudah dipahami oleh orang asing menjadi bagian dari proses belajar kita. namun, justru dalam proses inilah kami semakin memahami kekayaan dalam bahasa Tengger.



Begitu banyak hal menarik yang kami temukan dalam perjalanan proses ini. Bahasa Tengger Ngadas merupakan salah satu bahasa yang sangat dekat dengan alam dan kebiasaan masyarakatnya. Setiap kata terasa memiliki cerita masing-masing. Antusiasme warga dan anak-anak ketika berbagi bahasa mereka juga sangat menjadi pengingat kami bahwa bahasa akan terus hidup selama digunakan dan dihargai.



Swara Tengger bukan hanya sekadar kamus bahasa daerah. Ia menjadi catatan kecil tentang bahasa, budaya, dan pertemuan yang datang ke Desa Ngadas, tidak hanya untuk berkunjung, melainkan juga belajar menyapa, memahami, dan menghargai kehidupan masyarakat Tengger. Selama kata-kata itu masih diucapkan dan dikenalkan, selama itu juga suara Desa Ngadas akan terus terdengar.



 


3 months ago

Swara Tengger: Kamus Bahasa Tengger (Upaya Pengenalan dan Pelestarian Bahasa Leluhur Masyarakat Tengger)

Header Image
KHOIRUN NISA`

230502110053 • KKM Reguler Semester Ganjil • G.94

Bahasa merupakan suatu hal yang sering kali hadir tanpa kita sadari, yang biasa terdengar dalam sapaan, obrolan ringan, dan tawa canda yang mengalir begitu saja. Di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, bahasa Tengger hidup dan tumbuh bersama keseharian masyarakatnya. Dan dari sinilah Swara Tengger hadir, sebagai upaya sederhana untuk menyimpan dan mengenang kata-kata yang selama ini kami dengar menjadi bagian dari kehidupan warga.



Swara Tengger kami buat sebagai kamus bahasa daerah yang lahir dari pengalaman langsung di lapangan. Desa Ngadas merupakan salah satu desa wisata yang dekat dengan pegunungan. Desa ini banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri. Namun, tidak semua orang yang berkunjung dapat memahami bahasa yang digunakan oleh masyarakat setempat. Kamus ini hadir untuk menjadi jembatan kecil antara warga asing dan warga lokal agar bahasa Tengger Ngadas dapat dikenal, dipelajari, dan digunakan dalam berbagai interaksi yang lebih hangat.



Pengumpulan kosakata dilakukan dengan cara mendengarkan. Kami dan teman-teman berbincang hangat dengan warga, mencatat kata demi kata yang sering digunakan, dan belajar dari percakapan yang kami lakukan sehari-hari. Kami juga mengajak anak-anak sekolah dasar untuk berbincang santai. Dan dari merekalah kami melihat bagaimana bahasa Tengger terus diwariskan, digunakan, dan dijaga secara utuh.



Agar kosakata yang kami catat tidak kehilangan makna aslinya, kami melakukan konsultasi dengan Romo Dukun (Ketua Adat). Dari semua proses ini, kami menyadari bahwa satu kata tidak selalu bisa diterjemahkan begitu saja, melainkan butuh beberapa proses yang harus kami lakukan agar tidak ada kesalahan dalam penulisan setiap kata dan terjemahnya. Bahasa Tengger Ngadas memiliki konteks budaya yang kuat, sehingga pemilihan arti harus dilakukan dengan hati-hati agar tetap sesuai dengan nilai dan kebiasaan masyarakat.



Dalam penyusunan kamus ini, kami tidak lepas dari berbagai tantangan. Perbedaan pengertian arti antara beberapa warga atau keterbatasan padanan kata dalam bahasa Indonesia, serta upaya menyesuaikan bahasa agar lebih mudah dipahami oleh orang asing menjadi bagian dari proses belajar kita. namun, justru dalam proses inilah kami semakin memahami kekayaan dalam bahasa Tengger.



Begitu banyak hal menarik yang kami temukan dalam perjalanan proses ini. Bahasa Tengger Ngadas merupakan salah satu bahasa yang sangat dekat dengan alam dan kebiasaan masyarakatnya. Setiap kata terasa memiliki cerita masing-masing. Antusiasme warga dan anak-anak ketika berbagi bahasa mereka juga sangat menjadi pengingat kami bahwa bahasa akan terus hidup selama digunakan dan dihargai.



Swara Tengger bukan hanya sekadar kamus bahasa daerah. Ia menjadi catatan kecil tentang bahasa, budaya, dan pertemuan yang datang ke Desa Ngadas, tidak hanya untuk berkunjung, melainkan juga belajar menyapa, memahami, dan menghargai kehidupan masyarakat Tengger. Selama kata-kata itu masih diucapkan dan dikenalkan, selama itu juga suara Desa Ngadas akan terus terdengar.