Ramadhan selalu membawa cerita. Ia hadir tidak hanya sebagai bulan ibadah, tetapi juga sebagai momen penyatu hati, penguat silaturahmi, dan pengingat nilai-nilai kehidupan. Salah satu momen yang paling istimewa adalah peringatan Nuzulul Qur’an, malam turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW, malam yang menjadi titik awal perubahan besar bagi umat manusia.
Pada tanggal 17 Ramadhan 1446 H, mahasiswa dari Asistensi Mengajar (AM) dan Kelompok Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki Malang) berkesempatan untuk turut serta memperingati malam suci ini bersama masyarakat dan Takmir Masjid Nurul Huda, Pakijangan. Acara ini bukan sekadar agenda keagamaan, melainkan juga ruang pembelajaran, pengabdian, dan perenungan.
Dimulai dengan Kebersamaan.
Sejak sore hari, suasana Masjid Nurul Huda telah dipenuhi semangat kebersamaan. Para mahasiswa KKM bersama warga setempat berkumpul menjelang waktu berbuka. Sambil menunggu adzan maghrib, kami semua larut dalam tausiyah sore yang rutin diadakan menjelang berbuka. Suasana menjadi hangat, bukan hanya karena hidangan berbuka yang sederhana namun menggugah, tetapi juga karena senyum dan sapaan yang saling mengalir.
Dari Buka Puasa Menuju Pengajian.
Usai berbuka dan menunaikan sholat Maghrib berjamaah, kami mulai mempersiapkan acara inti: Kajian Malam Nuzulul Qur’an. Kegiatan dimulai dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menggema syahdu di seluruh penjuru masjid, disambung dengan suluk sholawat yang menenangkan jiwa.
Hadir sebagai pemateri utama adalah Kyai Ahmad Afandi, seorang tokoh yang tidak hanya dikenal karena ilmunya, tetapi juga ketulusan penyampaiannya. Dalam tausiyahnya, beliau mengangkat tema tentang macam-macam kebahagiaan dunia. Bukan kebahagiaan semu, melainkan kebahagiaan yang hakiki, yang berakar dari nilai-nilai keimanan dan kebaikan.
“Salah satu kunci bahagia ialah berbuat baik sesama manusia,” ujar beliau di tengah-tengah ceramahnya. “Jangan menunggu untuk kita dibahagiakan dahulu, tetapi alangkah baiknya kita memulainya terlebih dahulu.”
Kalimat tersebut terasa menampar, tapi juga menenangkan. Bahwa kebahagiaan bukan untuk dicari, tapi untuk dibagikan. Dalam setiap contoh dan cerita zaman Nabi yang beliau sampaikan, kami seperti diajak untuk menengok kembali nilai-nilai hidup yang sering terlupakan di tengah hiruk pikuk dunia.
Penutup Penuh Doa dan Harapan.
Menjelang akhir acara, Kyai Ahmad Afandi menutup dengan doa yang khidmat. Suasana hening, hanya suara lantunan doa dan harapan yang terdengar. Beliau juga menyampaikan pesan kepada seluruh hadirin agar senantiasa menjaga ketaatan kepada Allah SWT dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam setiap langkah kehidupan.
Sebagai penutup dari malam yang berkesan ini, kami melakukan sesi foto bersama dengan Kyai Ahmad Afandi dan jajaran takmir Masjid Nurul Huda Pakijangan. Bagi kami, foto ini bukan sekadar dokumentasi, tapi simbol dari ikatan ukhuwah yang telah terjalin dalam satu malam yang penuh cahaya.
Refleksi Penulis
Sebagai mahasiswa yang sedang menjalankan AM dan KKM, kegiatan ini memberi lebih dari sekadar nilai laporan melainkan adalah pengingat bahwa pengabdian kepada masyarakat adalah bentuk nyata dari ilmu yang kami pelajari di bangku kuliah. Dan malam itu, di bawah cahaya lampu masjid dan cahaya Al-Qur’an, kami belajar satu hal penting: kebahagiaan sejati ada pada berbagi dan berbuat baik tanpa pamrih.
Semoga semangat malam Nuzulul Qur’an ini terus berlanjut dalam hari-hari ke depan, menjadi pelita bagi kami dalam melangkah, dan berkah bagi seluruh masyarakat Pakijangan.