Di sudut Kecamatan Pujon, tepatnya di Masjid Baiturrahman, para mahasiswa/i KKM 157
Decapropub UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sedang mencoba merajut kembali hubungan
yang lebih erat dengan warga sekitar. Kita tahu bahwa di zaman sekarang, gadget seringkali
membuat anak muda lebih asyik dengan dunianya sendiri. Dampaknya, masjid pun seringkali
hanya dipandang secara sempit sebagai tempat menjalankan salat lima waktu saja, kehilangan
fungsi sosialnya sebagai ruang kumpul warga.
Fenomena ini menarik untuk dilihat melalui kacamata sosiologi. Apa yang sedang diupayakan
oleh mahasiswa/i ini sebenarnya adalah menghidupkan kembali masjid sebagai "The Third
Place". Menurut teori sosiolog Ray Oldenburg, “manusia butuh ruang ketiga di luar rumah dan
tempat kerja/kampus untuk berinteraksi secara netral dan santai.”
Melalui kegiatan ini para mahasiswa/i berharap, masjid dapat bertransformasi menjadi wadah
pengembangan modal sosial, di mana interaksi saat mengaji bersama menciptakan rasa saling
percaya dan memperkuat jaringan persaudaraan antar-generasi di masyarakat, serta suasana
masjid masih tetap terasa hidup walau tidak di saat waktu-waktu ibadah sholat berjamaah.
Sebagai langkah nyata, tim KKM 157 menginisiasi kegiatan khataman Al-Quran dengan target
pembacaan 2 juz setiap harinya. Gerakan ini dimulai sejak Selasa, 6 Januari 2026. Namun,
sebelum program ini berjalan, para mahasiswa tetap mengedepankan etika bertetangga dengan
melakukan tradisi sowan (berkunjung) ke kediaman pengurus masjid. Langkah ini dilakukan
untuk memohon restu sekaligus menjelaskan konsep kegiatan secara terbuka, agar kolaborasi
antara mahasiswa dan pengurus masjid dapat berjalan selaras dan penuh keakraban.
Berbaur dalam Hangatnya Kebersamaan Warga.
Kehadiran mahasiswa KKM 157 di Masjid Baiturrahman disambut dengan tangan terbuka.
Para pengurus masjid tidak sekadar membiarkan mahasiswa menjalankan programnya sendiri,
tetapi justru mengajak mereka untuk menyelam lebih dalam ke pusat kehidupan sosial warga.
Mahasiswa dilibatkan dalam berbagai kegiatan rutin, seperti pengajian (ta’lim), khataman
setiap Kamis Kliwon, hingga doa bersama atau tahlil kubro. Tak hanya urusan ibadah, para
mahasiswa juga ikut bahu-membahu membantu proses pembangunan dan pelebaran masjid.
Keterlibatan aktif ini menunjukkan adanya Solidaritas Organik, sebuah teori dari sosiolog
Émile Durkheim. Dalam teori ini, masyarakat tetap bersatu karena adanya kerja sama yang
nyata dalam berbagai peran yang berbeda. Dengan membantu pembangunan fisik dan
mengikuti tradisi lokal, mahasiswa tidak lagi dianggap sebagai "tamu jauh", melainkan bagian
dari organ masyarakat yang saling melengkapi. Inilah cara paling efektif untuk membangun
Modal Sosial, di mana rasa saling percaya antara pemuda dan orang tua lahir secara alami
melalui aksi nyata di lapangan.
Menghidupkan Suasana dari Maghrib hingga Isya’
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika waktu beranjak dari Maghrib menuju Isya’.
Jika biasanya jeda waktu tersebut hanya diisi dengan keheningan, kini suasana Masjid
Baiturrahman terasa jauh lebih semarak. Para mahasiswa mengisi waktu luang tersebut dengan
melantunkan ayat suci Al-Quran sembari menunggu waktu salat berikutnya. Bahkan, beberapa
mahasiswa dipercaya untuk mengumandangkan azan (menjadi muazin), yang menambah
kekhidmatan suasana masjid.
Perubahan suasana ini mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari warga maupun pengurus
masjid. Mereka mengungkapkan rasa syukur karena kehadiran mahasiswa membuat masjid
tidak lagi terasa sepi. Kegiatan khataman dan lantunan Quran yang konsisten setiap hari
memberikan energi positif dan "ruh" baru bagi lingkungan sekitar.
Dalam sosiologi, hal ini disebut sebagai Interaksi Simbolik. Melalui simbol-simbol keagamaan
(seperti suara azan dan mengaji), terjadi interaksi yang memberikan makna baru bagi
masyarakat: bahwa masjid adalah pusat kehangatan dan kebersamaan. Respons positif warga
menunjukkan bahwa kehadiran mahasiswa berhasil meruntuhkan dinding pembatas antara
kaum akademisi dengan masyarakat umum, menciptakan harmoni yang indah melalui kegiatan
keagamaan.
Kerja Bakti Renovasi Masjid: Ibadah dalam Wujud Tindakan Sosial
Selain kegiatan yang bersifat ritual dan spiritual, mahasiswa KKM 157 juga terlibat langsung
dalam kerja bakti renovasi Masjid Baiturrahman. Kegiatan ini mencakup pembersihan area
masjid, pengangkutan material bangunan, hingga membantu proses pelebaran dan perbaikan
area wudhu jamaah putri. Meski tampak sederhana, keterlibatan mahasiswa dalam kerja fisik
ini memiliki makna sosial yang mendalam.
Dalam perspektif sosiologi agama, kerja bakti renovasi masjid dapat dipahami sebagai bentuk
ibadah sosial, yakni pengamalan nilai-nilai keagamaan yang diwujudkan melalui aksi nyata
untuk kemaslahatan bersama. Masjid tidak hanya dirawat sebagai bangunan suci, tetapi juga
sebagai simbol kebersamaan dan gotong royong warga. Kehadiran mahasiswa yang turut
memanggul pasir dan membersihkan area masjid mempertegas bahwa pengabdian tidak selalu
harus disampaikan lewat mimbar, tetapi juga melalui tangan yang bekerja.
Melalui kerja bakti ini, batas antara “mahasiswa” dan “warga” semakin memudar. Percakapan
ringan di sela-sela kegiatan, tawa yang tercipta di tengah kelelahan, serta makan bersama
setelah kerja bakti menjadi ruang interaksi yang mempererat ikatan emosional. Inilah praktik
nyata dari nilai ukhuwah islamiyah yang hidup, bukan sekadar konsep normatif.
Menanam Jejak, Bukan Sekadar Program
Rangkaian kegiatan khotmil Al-Quran, tahlilan, dan kerja bakti renovasi masjid yang diinisiasi
mahasiswa KKM 157 menunjukkan bahwa program keagamaan dapat menjadi medium
strategis untuk membangun relasi sosial yang inklusif dan berkelanjutan. Kegiatan ini tidak
berhenti pada keberhasilan acara semata, tetapi meninggalkan jejak berupa kebiasaan, suasana,
dan kesadaran kolektif akan pentingnya masjid sebagai pusat kehidupan masyarakat.
Bagi mahasiswa, pengalaman ini menjadi ruang belajar sosial yang tidak ternilai—belajar
tentang adab bermasyarakat, kearifan lokal, serta cara membangun kepercayaan melalui
kehadiran yang konsisten. Sementara bagi warga, kehadiran mahasiswa menghadirkan energi
baru yang menyegarkan, sekaligus membuka ruang dialog lintas generasi.
Dengan demikian, KKM tidak lagi dimaknai sebagai program sementara yang datang dan
pergi, melainkan sebagai proses saling belajar dan bertumbuh bersama. Masjid Baiturrahman
menjadi saksi bahwa ketika nilai keagamaan dipadukan dengan kepedulian sosial, maka yang
terbangun bukan hanya aktivitas ibadah, tetapi juga rasa memiliki dan kebersamaan yang
mendalam.