2 months ago

Urban Integrated Farming : Penanaman Bawang Merah dengan Sistem Wick

Header Image
FIQHAN DALLA

230602110044 • KKM Unggulan Fakultatif • G.249

Upaya pengenalan konsep pertanian sederhana di lingkungan masyarakat menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan dalam rangka Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Dalam konteks tersebut, mahasiswa KKM 249 Citteswara melaksanakan kegiatan penyemaian umbi bawang merah menggunakan sistem wick sebagai bagian dari pendekatan urban integrated farming. Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah awal pengenalan metode tanam alternatif yang dapat diterapkan secara sederhana dan bertahap.



Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangkaian program KKM yang berlangsung di Desa Ngenep. Lingkungan sekitar desa didominasi oleh aktivitas pertanian konvensional seperti penanaman padi dan jagung. Oleh karena itu, penyemaian bawang merah dengan sistem wick dipilih sebagai bentuk pengenalan awal terhadap metode budidaya yang berbeda, tanpa bermaksud menggantikan pola pertanian yang sudah ada. Pendekatan ini lebih diarahkan sebagai percobaan awal sekaligus sarana pembelajaran.



Sistem wick yang digunakan dalam kegiatan ini merupakan bagian dari metode hidroponik sederhana. Metode ini dipilih karena relatif praktis dan mudah diterapkan, khususnya sebagai tahap awal dalam kegiatan pengenalan budidaya tanaman. Sistem wick bekerja dengan memanfaatkan sumbu untuk menyalurkan air dari sumber air menuju media tanam, sehingga tanaman dapat memperoleh kebutuhan air secara bertahap.



Wadah yang digunakan dalam penyemaian ini adalah polybag, dengan susunan media tanam yang dibagi ke dalam beberapa lapisan. Lapisan pertama merupakan wick zone dengan ketebalan sekitar 2--3 cm, yang terdiri dari kain flanel dan kerikil. Lapisan ini berfungsi sebagai penarik air dari kolam atau sumber air menuju media tanam di atasnya.



Lapisan kedua adalah zona distribusi air dengan ketebalan sekitar 3--4 cm, menggunakan campuran arang sekam dan pasir kasar. Lapisan ini berfungsi untuk menyebarkan air yang ditarik oleh wick agar dapat merata ke bagian atas media. Selanjutnya, lapisan ketiga merupakan zona akar aktif dengan ketebalan sekitar 6--8 cm, menggunakan campuran tanah remah, kompos, dan sekam dengan perbandingan 2:1:1. Lapisan ini menjadi area utama bagi perkembangan akar tanaman.



Di atasnya terdapat lapisan transisi dengan ketebalan kurang lebih 1 cm yang menggunakan pasir Malang murni atau kerikil. Penggunaan pasir Malang disesuaikan dengan kondisi lokasi KKM yang berada di wilayah Karangploso, Malang. Lapisan ini berfungsi sebagai pemisah antara zona akar dan zona umbi. Lapisan terakhir adalah zona umbi dengan ketebalan sekitar 7--10 cm, yang terdiri dari campuran 50--60% pasir Malang atau kerikil, 30--40% sekam bakar, dan 0--10% pasir kasar biasa.



Penyemaian bawang merah dalam sistem ini masih berada pada tahap awal pembuatan media dan penanaman umbi. Kegiatan ini belum difokuskan pada pengamatan pertumbuhan atau hasil akhir tanaman. Kegiatan difokuskan pada tahap persiapan dan penyemaian awal. Dengan demikian, belum diperlukan penanganan khusus terhadap permasalahan teknis di lapangan.



Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM 249 Citteswara memperoleh pengalaman dalam merancang sistem tanam sederhana yang dapat diaplikasikan di lingkungan dengan keterbatasan lahan. Pendekatan urban integrated farming melalui sistem wick ini diharapkan dapat menjadi langkah awal pengenalan metode budidaya alternatif, khususnya sebagai media pembelajaran dan pengembangan ide pertanian sederhana di tingkat masyarakat.