MELY RAHMATILLAH
Mahasiswa UIN Malang kelompok 88 (Sevadharma) yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Desa Argosari, Kecamatan Jabung, menggelar program kerja berupa sosialisasi stunting dan parenting pada Selasa, 21 Januari 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya pemahaman stunting dan pola asuh yang sehat. Selain itu, program ini juga melibatkan anak-anak TK. Kehadiran anak-anak ini menjadi salah satu strategi untuk memperkenalkan pola makan sehat dan bergizi secara lebih interaktif. Dengan mengusung konsep edukatif dan partisipatif, acara ini berhasil menarik perhatian masyarakat sekitar. Selain sosialisasi, mahasiswa Sevadharma juga mengadakan lomba inovatif bertajuk Gerakan Memasak Anti Stunting (GEMANTING). Lomba ini diikuti oleh tujuh kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari tiga peserta yang merupakan warga Desa Argosari. Para peserta ditantang untuk memasak menu sehat dan bergizi yang dapat mencegah stunting, menggunakan bahan-bahan lokal yang mudah ditemukan. Lomba ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya pangan di lingkungan sekitar. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai hidangan menarik yang disajikan selama lomba berlangsung. Penjurian lomba memasak dilakukan oleh empat orang juri yang terdiri dari Ketua PKK Desa Argosari, seorang perawat, bidan desa, dan Ibu Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Para juri menilai hidangan berdasarkan kreativitas, kandungan gizi, cita rasa dan kekompakan peserta. Proses penjurian ini dilakukan dengan sangat teliti untuk memastikan bahwa hidangan yang dipilih benar-benar mencerminkan semangat GEMANTING. Selain itu, masukan dari juri juga menjadi pembelajaran berharga bagi para peserta untuk terus memperbaiki pola konsumsi keluarga. Keterlibatan langsung Ibu DPL dan para tenaga kesehatan memberikan sentuhan ilmiah sekaligus motivasi bagi masyarakat desa. Kegiatan ini mendapatkan respons positif dari masyarakat Argosari, terutama para ibu yang terlibat dalam lomba maupun sosialisasi parenting. Mereka merasa mendapatkan pengetahuan baru terkait pentingnya pemberian asupan gizi yang cukup untuk mencegah stunting pada anak. Anak-anak TK yang hadir juga terlihat antusias mengikuti kegiatan edukasi yang dirancang menyenangkan. Dukungan dari perangkat desa dan warga sekitar turut menambah semangat mahasiswa Sevadharma dalam menjalankan program kerja. Acara ini menjadi momen yang berkesan karena berhasil mengedukasi masyarakat sekaligus mempererat kebersamaan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa UIN Malang kelompok 88 berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung pemerintah menurunkan angka stunting di Indonesia. Program ini menjadi langkah kecil namun berdampak besar bagi warga Desa Argosari dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya pola makan sehat. Selain itu, kolaborasi antara mahasiswa, perangkat desa, dan masyarakat menjadi contoh sinergi yang baik dalam membangun desa yang lebih sehat. Dengan adanya program seperti ini, diharapkan masyarakat Desa Argosari dapat terus menerapkan ilmu yang telah didapatkan dalam kehidupan sehari-hari. Para mahasiswa pun merasa bangga dapat menjadi bagian dari perubahan positif ini.
SOPYAN ADE SAPUTRA
Pada tanggal 19 Januari 2025, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Malang Pangarsa Muda mengadakan kegiatan budidaya hidroponik menggunakan limbah botol bekas sebagai media tanam di Dusun Glatik, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari. Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak masyarakat memanfaatkan sampah plastik secara kreatif sekaligus meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga. Program KKM UIN Malang ini memanfaatkan kangkung sebagai komoditas utama karena kemudahan budidayanya dan masa panennya yang singkat, sangat ideal untuk program pemberdayaan masyarakat. Pemilihan kangkung juga mempertimbangkan ketersediaan bibit dan perawatannya yang relatif mudah. Botol plastik bekas, yang biasanya menjadi sampah, diubah menjadi media tanam hidroponik yang sederhana dan ekonomis. Prosesnya melibatkan pengisian botol dengan air dan nutrisi khusus yang diformulasikan untuk pertumbuhan optimal kangkung. Sistem hidroponik ini dirancang agar mudah dipelajari dan diimplementasikan oleh masyarakat, bahkan tanpa keahlian pertanian yang luas. Kesederhanaan sistem ini menjadi kunci keberhasilan program dalam memberdayakan masyarakat untuk bercocok tanam secara mandiri. Setelah berhasil dirakit dan ditanami bibit kangkung, sistem hidroponik ini diserahkan kepada ibu-ibu PKK Dusun Glatik. Penyerahan dilakukan sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat, terutama ibu rumah tangga, agar bisa menanam sayuran sendiri tanpa memerlukan lahan luas. Para ibu rumah tangga yang menerima hidroponik ini tampak antusias karena metode ini tidak memerlukan lahan luas dan bisa diterapkan di rumah masing-masing. Dengan metode hidroponik sederhana ini, masyarakat bisa memiliki sumber sayuran segar sendiri tanpa harus membeli di pasar. Program hidroponik ini bukan sekadar solusi praktis untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mengurangi sampah plastik, tetapi juga sebagai inspirasi bagi warga Dusun Glatik dan masyarakat luas. Mahasiswa KKM UIN Malang berharap inisiatif ini dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dan kemandirian pangan keluarga. Dengan metode hidroponik yang sederhana dan mudah ditiru, warga dapat menanam sayuran sendiri tanpa membutuhkan lahan yang luas. Keberhasilan program ini diharapkan dapat mendorong replikasi di desa-desa lain, menciptakan gerakan masyarakat untuk bercocok tanam secara berkelanjutan. Ke depannya, pengembangan program ini dapat meliputi pelatihan yang lebih intensif, diversifikasi jenis tanaman, dan penyediaan akses yang lebih mudah terhadap bibit dan nutrisi hidroponik. Tujuan akhirnya adalah terwujudnya masyarakat yang lebih peduli lingkungan dan mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri secara mandiri dan berkelanjutan. Semoga program ini menjadi contoh nyata bagaimana inovasi sederhana dapat memberikan dampak besar bagi masyarakat.
ALI HUSNUL AR RIFA`I SIHOMBING
Pada tanggal 19 Januari 2025, KKM Sidomulyo 165 menyelenggarakan kegiatan penyuluhan bertajuk "Ubah Minyak Jelantah Jadi Rupiah." Acara ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan limbah minyak jelantah yang sering kali dibuang sembarangan. Kegiatan tersebut menyoroti cara mengubah minyak bekas menjadi produk bernilai ekonomi, seperti lilin ramah lingkungan, yang juga membantu mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan. Minyak jelantah merupakan limbah rumah tangga yang sering kali dianggap remeh. Dalam penyuluhan ini, narasumber menjelaskan bahwa minyak jelantah memiliki banyak risiko jika tidak dikelola dengan baik. Minyak yang dibuang sembarangan dapat mencemari tanah dan air, menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan. Selain itu, jika digunakan berulang kali melebihi batas wajar, minyak ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan, seperti risiko penyakit jantung, obesitas, gangguan pencernaan, hingga kanker. Faktor yang mempengaruhi kualitas minyak goreng juga dijelaskan, termasuk jenis minyak, suhu pemanasan, dan kondisi penyimpanan. Masyarakat diberi pemahaman bahwa minyak goreng sebaiknya digunakan maksimal tiga kali pemanasan, dengan sisa makanan yang disaring untuk memperpanjang penggunaannya. Namun, setelah batas penggunaan tersebut tercapai, minyak bekas tidak boleh dibuang begitu saja. Di sinilah konsep daur ulang memainkan peran penting. Salah satu poin utama dari kegiatan ini adalah memperkenalkan potensi ekonomi dari minyak jelantah. Minyak bekas dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi, seperti biodiesel, sabun, dan lilin. Di antara semua produk tersebut, lilin dari minyak jelantah menjadi topik utama dalam penyuluhan. Narasumber menjelaskan bahwa bahan baku minyak jelantah sangat melimpah, terutama dari rumah tangga, restoran, dan usaha kuliner kecil. Dengan modal kecil, siapa pun bisa memulai usaha pembuatan lilin dari minyak bekas ini. Selain mengurangi limbah, usaha ini juga memiliki pasar yang cukup luas. Lilin dari minyak jelantah banyak diminati karena ramah lingkungan dan memiliki harga jual yang kompetitif. Dengan harga minyak jelantah sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 per liter, produk lilin bisa dijual dengan harga mulai dari Rp15.000 hingga Rp50.000 per unit, tergantung pada desain dan kualitasnya. Hal ini menjadi peluang menarik bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan tambahan sambil berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Dalam sesi praktik, peserta diajak untuk langsung mencoba membuat lilin dari minyak jelantah. Prosesnya cukup sederhana, dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar rumah. Berikut adalah langkah-langkahnya: 1. Penyaringan Minyak Jelantah: Minyak bekas disaring untuk menghilangkan sisa-sisa makanan atau kotoran. 2. Pencampuran dengan Lilin Parafin atau Bahan Pengikat: Minyak jelantah dicampur dengan lilin parafin atau bahan lain yang dapat mengikat minyak agar menghasilkan tekstur yang solid. 3. Penambahan Pewarna dan Pewangi: Pewarna dan aroma tambahan diberikan untuk membuat lilin lebih menarik. 4. Penuangan ke Cetakan: Campuran minyak dituangkan ke dalam cetakan sesuai bentuk yang diinginkan. 5. Pendinginan dan Pemadatan: Lilin dibiarkan dingin hingga mengeras, lalu dilepaskan dari cetakan. Peserta terlihat antusias mengikuti setiap langkahnya. Banyak dari mereka yang merasa proses ini cukup mudah dan dapat diterapkan di rumah dengan peralatan sederhana. Selain ramah lingkungan, lilin dari minyak jelantah memiliki banyak manfaat. Lilin ini dapat digunakan untuk penerangan alternatif, dekorasi, atau bahkan sebagai aromaterapi jika ditambahkan pewangi. Dengan demikian, produk ini tidak hanya fungsional tetapi juga memiliki nilai estetika yang tinggi. Dalam skala usaha, lilin dari minyak jelantah juga membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya daur ulang limbah Kegiatan pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin ini menjadi salah satu langkah kecil yang membawa dampak besar bagi lingkungan dan ekonomi masyarakat. Edukasi yang diberikan tidak hanya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bahaya minyak jelantah jika tidak dikelola, tetapi juga membuka peluang baru untuk menciptakan produk bernilai ekonomi. Dengan modal kecil dan proses yang sederhana, siapa pun dapat memulai usaha ini sambil berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan. Melalui kegiatan ini, KKM Sidomulyo 165 mengajak seluruh masyarakat untuk memandang limbah sebagai peluang, bukan masalah. Pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin adalah salah satu contoh konkret bagaimana kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan. Dengan langkah ini, diharapkan semakin banyak orang yang terinspirasi untuk mengolah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. https://www.kompasiana.com/arthasamasta0418/67984057ed64152941272ae7/inovasi-ramah-li ngkungan-dengan-memanfaatkan-minyak-jelatah-menjadi-lilin
HADIRAY SAPUTRA
Pada hari Senin, 27 Januari 2025 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Desa Baturetno telah berkolaborasi dengan takmir Masjid Al Ikhlas Dusun Nampes, Desa Baturetno dalam rangka memperingati Isra Mi'raj. Dalam kolaborasi tersebut pihak takmir menyerahkan tanggung jawab penuh kepada mahasiswa KKM pada acara lomba isra mi'raj sedangkan pada acara siang dan malam hari yaitu pawai dan sholawatan, pihak takmir yang mengambil alih sebagai penanggung jawab. Acara pagi hari yaiu lomba isra mi'raj untuk anak-anak yang dimana terbagi menjadi 6 lomba antara lain adzan kelas bawah, adzan kelas atas, tartil kelas bawah, tartil kelas atas, pildacil, dan mewarnai. Acara lomba dibuka dengan sambutan dari perwakilan takmir masjid. Kemudian acara dilanjut dengan sambutan dari Hafidh Fachruddin sebagai ketua pelaksana dalam acara ini. Acara lomba diikuti banyak sekali perwakilan dari TPQ se Desa Baturetno. Lomba terbagi menjadi 3 tempat, lomba adzan yang berada didalam masjid, lomba tartil dan dai yang bertempat di atas panggung, dan lomba mewarnai yang berada di parkiran masjid. Lomba berjalan dengan sportif dan antusias, sempat terjadi kendala pada bagian lomba dai dan tartil disebabkan oleh sound yang mati namun bisa teratasi dengan cepat. Acara pada siang hari yaitu adalah kirap atau pawai, pada saat itu acara ini hampir ditiadakan dikarenakan terjadi hujan yang sangat lebat namun antusiasme dari anak-anak dan juga dorongan semangat dari takmir masjid dan panitia KKM yang membuat pawai ini tetap berjalan. Rute dari pawai ini adalah sebagian dari Dusun Nampes yang memiliki titik awal dan akhir yaitu Masjid Al-Ikhlas. Acara ini berjalan lancar dengan peserta membawa payung dan memakai jas hujan untuk berlindung dari hujan yang deras. Acara pawai ini diadakan bertujuan untuk mensyiarkan agama islam dan simbol dari peringatan hari isra mi'raj. Tidak sampai situ saja acara pada siang ini ditutup dengan pengumuman dan penyerahan hadiah pada pemenang dari lomba isra' mi'raj untuk anak-anak. Pada malam itu juga acara sholawat dan ceramah yang dihadiri oleh banyak sekali tokoh-tokoh masyarakat. sholawat yang dipimpin oleh tamkir berjalan dengan lancar dan meriah sekali. Setelah sholawat, acara dilanjut dengan sambutan hangan dari Ust Zakaria sebagai ketua takmir Masjid Al-Ikhlas. Acara diakhiri dengan ceramah oleh ustadz Zainal Dosen UIN Malang sekaligus pengurus pondok.
LAILA MAR`ATUS SHOLIKHAH
Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang -- Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari Universitas Islam Negri Maulana Malik Ibrahim Malang menunjukkan keakraban dan kepedulian yang luar biasa terhadap warga Dusun Robyong, Desa Wonomulyo. Dalam program pengabdian masyarakat yang mereka jalankan, para mahasiswa ini tidak hanya berperan di bidang pendidikan, tetapi juga terjun langsung membantu warga dalam kegiatan sehari-hari, salah satunya adalah membantu petani memanen cabai. Dusun Robyong, yang dikenal sebagai salah satu sentra pertanian di Kecamatan Poncokusumo, saat ini tengah memasuki masa panen. Namun, bagi para petani cabai, panen bukanlah pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan tenaga, ketelitian, dan waktu yang cukup untuk memastikan hasil panen berkualitas tinggi. Melihat hal ini, mahasiswa KKM berinisiatif untuk membantu para petani memanen cabai sekaligus mempererat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat setempat. Dokumentasi saat Panen Cabai Kegiatan panen cabai yang berlangsung pada hari Senin tanggal 23 Desember 2024 menjadi momen yang penuh kehangatan. Para mahasiswa, sebagian besar dari mereka yang belum pernah terjun ke dunia pertanian, tampak antusias belajar dari para petani. Salah satu mahasiswa KKM, Ike mengungkapkan bahwa pengalaman ini sangat berharga baginya. "Kami tidak hanya belajar cara memetik cabai yang benar, tetapi juga memahami betapa besar usaha yang dilakukan petani untuk menghasilkan bahan pangan yang kita konsumsi setiap hari. Ini benar-benar membuka wawasan kami," ujar Ike. Bersama para petani, mahasiswa belajar cara memilih cabai yang sudah matang, memetiknya dengan hati-hati agar tidak merusak tanaman, hingga mengumpulkannya ke dalam wadah yang disiapkan. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan fisik, tetapi juga mengajarkan rasa syukur dan penghargaan terhadap kerja keras para petani. Kegiatan panen cabai ini bukan sekadar membantu warga, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antara generasi muda dan masyarakat pedesaan. Para mahasiswa berharap, melalui kegiatan seperti ini, mereka dapat menanamkan nilai-nilai kebersamaan, empati, dan rasa hormat terhadap para petani yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan. Dokumentasi Mahasiswa KKM saat Membantu Petani Program KKM di Dusun Robyong, Desa Wonomulyo ini tidak hanya menjadi ajang pengabdian, tetapi juga menjadi pengalaman berharga yang akan terus dikenang oleh mahasiswa dan warga. Keakraban yang terjalin di tengah ladang cabai menjadi bukti nyata bahwa kerja sama dan gotong royong adalah kunci untuk membangun masyarakat yang lebih harmonis.
MOCH. KHOIRUL UMAM
KKM UIN Malang 79, 149, dan 9 Desa Ngadireso sukses menggelar sosialisasi tentang pencegahan pernikahan usia dini dan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) yang bertempat di Balai Desa Ngadireso, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang (18/1/2025). Acara tersebut dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Kepala Desa Ngadireso, Bapak Nur Salim, dosen pembimbing lapangan, serta Ketua PKK Desa Ngadireso, Ibu Ngatipah Nur Salim beserta pengurus dan anggotanya dan mendatangkan Dr. H. Miftahul Huda, S.HI., M.H., dosen Fakultas Syyariah UIN Malang dan Ketua Family Corner Fakultas Syariah sebagai pemaeri. Dukungan penuh dari seluruh elemen desa membuat kegiatan ini berjalan sukses dan mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Seminar tersebut bertujuan untuk menurunkan angka pernikahan dini dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Desa Ngadireso. Kegiatan dimulai dengan penyampaian materi pertama oleh Dr. H. Miftahul Huda, S.HI., M.H., yang membahas mengenai bahaya pernikahan usia dini, yang masih marak di desa Ngadireso. Dr. H. Miftahul Huda, S.HI., M.H. memaparkan bahwa sebagai orang tua, harus memberikan dukungan penuh kepada anak-anak untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, serta menghindarkan mereka dari pernikahan dini yang dapat menghambat perkembangan mereka. Orang tua harus memastikan anak-anak mereka fokus pada pendidikan dan memperdalam ilmu agama agar anak terhindar dari hal yang tidak diinginkan dan tidak terjebak dalam komitmen pernikahan di usia muda yang berisiko. Beliau juga menekankan bahwa pernikahan pada usia muda berisiko bagi kesehatan fisik dan mental, serta menghambat perkembangan remaja, terutama perempuan, dalam mengakses pendidikan dan kesempatan hidup yang lebih baik. Beliau menegaskan bahwa pernikahan usia dini sering kali berdampak pada hilangnya kesempatan bagi para remaja untuk melanjutkan pendidikan, mengembangkan potensi diri, serta mengakses peluang-peluang yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka di masa depan. Tidak adanya pendidikan yang memadai, para remaja, khususnya perempuan, akan mengalami siklus kemiskinan dan ketergantungan ekonomi, serta menghambat perkembangan sosial dan ekonomi mereka. Setelah materi pernikahan dini, sesi kedua tentang PHBS disampaikan oleh dua mahasiswa KKM UIN Malang, Sulistiani dan Akfa Atiatur Rahma. Mereka mengedukasi pentingnya pola hidup sehat, seperti memilih makanan bergizi. Dalam presentasinya, mereka memaparkan perbandingan antara makanan yang bergizi dan makanan yang berisiko menyebabkan berbagai penyakit. Dengan kerjasama antara kelompok KKM dan ibu-ibu PKK, diharapkan acara ini memberi dampak positif, khususnya dalam mengurangi pernikahan dini dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Sosialisasi ini mendapat apresiasi dari ibu-ibu PKK yang hadir dan berharap kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan.