IZZATUS SHOLEHAH
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 21 Januari 2025 dimulai pada pukul 10.30 WIB dan berakhir sekitar pukul 14.00 WIB. Dalam kegiatan ini, mahasiswa secara aktif terlibat dalam menyampaikan materi, mengajak para siswa berdiskusi serta bermain kuis. Materi yang disampaikan antara lain mengenai bagaimana membedakan kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Untuk meminimalisir rasa bosan siswa-siswi kelas 5 MI Mamba’ul Hidayah, dalam penyampaian ini kami turut menyertakan sejumlah kuis dan permainan di mana siswa-siswi diajak untuk berkolaborasi dengan teman-teman sekelas mereka dan mahasiswa KKM kelompok 26 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sebagai contoh, setelah pemaparan materi mengenai literasi finansial kami menyisipkan sesi di mana siswa menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh PJ mahasiswa KKM. Kemudian, siswa-siswi diminta membedakan keinginan dan kebutuhan serta membiasakan diri untuk berbagi dengan menyiapkan uang untuk beramal. Selain itu, siswa juga kami ajak untuk bercerita di depan kelas mengenai pengalaman menabung yang dilakukannya selama ini. Kegiatan ini kami tutup dengan meminta para siswa-siswi membiasakan diri dengan perilaku perilaku keuangan yang baik seperti menabung dan belajar mengelola uang jajannya. Selanjutnya, kami membagi 50 siswa menjadi 10 kelompok untuk membuat celengan dari bahan-bahan bekas. Pada tahap ini, mahasiswa KKM menjadi pengarah bagi anak-anak dalam membuat celengan. Setiap anak membawa botol atau kaleng bekas dilengkapi dengan bahan dekoratifnya seperti karton, origami, pensil warna, spidol, dan lain sebagainya. Dalam kurun waktu 60 menit, siswa-siswi kelas 5 sangat terbenam dalam proses menciptakan suatu kreasi celengan yang terbuat dari bahan-bahan bekas. Meskipun suasana kelas diisi oleh hiruk pikuk anak-anak, kami melihat partisipasi mereka sangat membantu dalam pembuatan celengan. Bahkan, mereka sangat berorientasi pada detail saat membuat hiasan-hiasan pada celengan. Setelah proses pembuatan celengan rampung, selanjutnya adalah sesi pengumuman kelompok dengan kreasi celengan paling menarik menurut penilaian objektif juri. Setelah melalui proses deliberasi yang cukup panjang, akhirnya terpilihlah 5 kelompok yang berhasil menunjukkan kreativitasnya. Mahasiswa KKM telah mempersiapkan reward berupa celengan kaleng yang baru untuk diberikan kepada anggota-anggota kelompok yang berhasil memenangkan sesi ini. Siswa-siswi kelas 5 sangat antusias dalam mengikuti program ini karena memicu kreativitas dan kognitif mereka dalam membuat suatu celengan dari bahan daur ulang. Program edukasi literasi finansial ini juga diharapkan dapat memotivasi siswa-siswi dalam menabung dan mengelola uang jajan secara bijak. Jila dikaji lebih lanjut, terdapat beberapa faktor mengapa literasi finansial sangatlah penting diperkenalkan kepada anak-anak. Sederhananya, anak-anak cenderung lebih aktif secara kognitif karena mereka menggunakan 80% kuriositas untuk menjelajahi tentang banyak hal yang terjadi di sekitar mereka (Masruroh & Wiyani, 2023). Program edukasi literasi finansial yang kami realisasikan berbasis habit-building, di mana kunci utamanya terletak pada membangun kebiasaan untuk menggunakan uang dengan bijak. Sedari kecil (rentang usia 6-10 tahun), mereka perlu dibiasakan mengelola uang jajan secara mandiri dengan cara menyisihkannya terlebih dahulu untuk ditabung lalu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masa depan. Konsep manajemen finansial ini memicu anak-anak untuk berpikir kritis sebelum menghabiskan uangnya.
RIT MARATRI JANNAH JATI DEWI
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 21 Januari 2025 dimulai pada pukul 10.30 WIB dan berakhir sekitar pukul 14.00 WIB. Dalam kegiatan ini, mahasiswa secara aktif terlibat dalam menyampaikan materi, mengajak para siswa berdiskusi serta bermain kuis. Materi yang disampaikan antara lain mengenai bagaimana membedakan kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Untuk meminimalisir rasa bosan siswa-siswi kelas 5 MI Mamba’ul Hidayah, dalam penyampaian ini kami turut menyertakan sejumlah kuis dan permainan di mana siswa-siswi diajak untuk berkolaborasi dengan teman-teman sekelas mereka dan mahasiswa KKM kelompok 26 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sebagai contoh, setelah pemaparan materi mengenai literasi finansial kami menyisipkan sesi di mana siswa menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh PJ mahasiswa KKM. Kemudian, siswa-siswi diminta membedakan keinginan dan kebutuhan serta membiasakan diri untuk berbagi dengan menyiapkan uang untuk beramal. Selain itu, siswa juga kami ajak untuk bercerita di depan kelas mengenai pengalaman menabung yang dilakukannya selama ini. Kegiatan ini kami tutup dengan meminta para siswa-siswi membiasakan diri dengan perilaku perilaku keuangan yang baik seperti menabung dan belajar mengelola uang jajannya. Selanjutnya, kami membagi 50 siswa menjadi 10 kelompok untuk membuat celengan dari bahan-bahan bekas. Pada tahap ini, mahasiswa KKM menjadi pengarah bagi anak-anak dalam membuat celengan. Setiap anak membawa botol atau kaleng bekas dilengkapi dengan bahan dekoratifnya seperti karton, origami, pensil warna, spidol, dan lain sebagainya. Dalam kurun waktu 60 menit, siswa-siswi kelas 5 sangat terbenam dalam proses menciptakan suatu kreasi celengan yang terbuat dari bahan-bahan bekas. Meskipun suasana kelas diisi oleh hiruk pikuk anak-anak, kami melihat partisipasi mereka sangat membantu dalam pembuatan celengan. Bahkan, mereka sangat berorientasi pada detail saat membuat hiasan-hiasan pada celengan. Setelah proses pembuatan celengan rampung, selanjutnya adalah sesi pengumuman kelompok dengan kreasi celengan paling menarik menurut penilaian objektif juri. Setelah melalui proses deliberasi yang cukup panjang, akhirnya terpilihlah 5 kelompok yang berhasil menunjukkan kreativitasnya. Mahasiswa KKM telah mempersiapkan reward berupa celengan kaleng yang baru untuk diberikan kepada anggota-anggota kelompok yang berhasil memenangkan sesi ini. Siswa-siswi kelas 5 sangat antusias dalam mengikuti program ini karena memicu kreativitas dan kognitif mereka dalam membuat suatu celengan dari bahan daur ulang. Program edukasi literasi finansial ini juga diharapkan dapat memotivasi siswa-siswi dalam menabung dan mengelola uang jajan secara bijak. Jila dikaji lebih lanjut, terdapat beberapa faktor mengapa literasi finansial sangatlah penting diperkenalkan kepada anak-anak. Sederhananya, anak-anak cenderung lebih aktif secara kognitif karena mereka menggunakan 80% kuriositas untuk menjelajahi tentang banyak hal yang terjadi di sekitar mereka (Masruroh & Wiyani, 2023). Program edukasi literasi finansial yang kami realisasikan berbasis habit-building, di mana kunci utamanya terletak pada membangun kebiasaan untuk menggunakan uang dengan bijak. Sedari kecil (rentang usia 6-10 tahun), mereka perlu dibiasakan mengelola uang jajan secara mandiri dengan cara menyisihkannya terlebih dahulu untuk ditabung lalu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masa depan. Konsep manajemen finansial ini memicu anak-anak untuk berpikir kritis sebelum menghabiskan uangnya.
NI`MATUL MAHBUBAH
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 21 Januari 2025 dimulai pada pukul 10.30 WIB dan berakhir sekitar pukul 14.00 WIB. Dalam kegiatan ini, mahasiswa secara aktif terlibat dalam menyampaikan materi, mengajak para siswa berdiskusi serta bermain kuis. Materi yang disampaikan antara lain mengenai bagaimana membedakan kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Untuk meminimalisir rasa bosan siswa-siswi kelas 5 MI Mamba’ul Hidayah, dalam penyampaian ini kami turut menyertakan sejumlah kuis dan permainan di mana siswa-siswi diajak untuk berkolaborasi dengan teman-teman sekelas mereka dan mahasiswa KKM kelompok 26 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sebagai contoh, setelah pemaparan materi mengenai literasi finansial kami menyisipkan sesi di mana siswa menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh PJ mahasiswa KKM. Kemudian, siswa-siswi diminta membedakan keinginan dan kebutuhan serta membiasakan diri untuk berbagi dengan menyiapkan uang untuk beramal. Selain itu, siswa juga kami ajak untuk bercerita di depan kelas mengenai pengalaman menabung yang dilakukannya selama ini. Kegiatan ini kami tutup dengan meminta para siswa-siswi membiasakan diri dengan perilaku perilaku keuangan yang baik seperti menabung dan belajar mengelola uang jajannya. Selanjutnya, kami membagi 50 siswa menjadi 10 kelompok untuk membuat celengan dari bahan-bahan bekas. Pada tahap ini, mahasiswa KKM menjadi pengarah bagi anak-anak dalam membuat celengan. Setiap anak membawa botol atau kaleng bekas dilengkapi dengan bahan dekoratifnya seperti karton, origami, pensil warna, spidol, dan lain sebagainya. Dalam kurun waktu 60 menit, siswa-siswi kelas 5 sangat terbenam dalam proses menciptakan suatu kreasi celengan yang terbuat dari bahan-bahan bekas. Meskipun suasana kelas diisi oleh hiruk pikuk anak-anak, kami melihat partisipasi mereka sangat membantu dalam pembuatan celengan. Bahkan, mereka sangat berorientasi pada detail saat membuat hiasan-hiasan pada celengan. Setelah proses pembuatan celengan rampung, selanjutnya adalah sesi pengumuman kelompok dengan kreasi celengan paling menarik menurut penilaian objektif juri. Setelah melalui proses deliberasi yang cukup panjang, akhirnya terpilihlah 5 kelompok yang berhasil menunjukkan kreativitasnya. Mahasiswa KKM telah mempersiapkan reward berupa celengan kaleng yang baru untuk diberikan kepada anggota-anggota kelompok yang berhasil memenangkan sesi ini. Siswa-siswi kelas 5 sangat antusias dalam mengikuti program ini karena memicu kreativitas dan kognitif mereka dalam membuat suatu celengan dari bahan daur ulang. Program edukasi literasi finansial ini juga diharapkan dapat memotivasi siswa-siswi dalam menabung dan mengelola uang jajan secara bijak. Jila dikaji lebih lanjut, terdapat beberapa faktor mengapa literasi finansial sangatlah penting diperkenalkan kepada anak-anak. Sederhananya, anak-anak cenderung lebih aktif secara kognitif karena mereka menggunakan 80% kuriositas untuk menjelajahi tentang banyak hal yang terjadi di sekitar mereka (Masruroh & Wiyani, 2023). Program edukasi literasi finansial yang kami realisasikan berbasis habit-building, di mana kunci utamanya terletak pada membangun kebiasaan untuk menggunakan uang dengan bijak. Sedari kecil (rentang usia 6-10 tahun), mereka perlu dibiasakan mengelola uang jajan secara mandiri dengan cara menyisihkannya terlebih dahulu untuk ditabung lalu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masa depan. Konsep manajemen finansial ini memicu anak-anak untuk berpikir kritis sebelum menghabiskan uangnya.
LALU EGIQ FAHALIK ANGGARA
Program edukasi literasi finansial ini juga diharapkan dapat memotivasi siswa-siswi dalam menabung dan mengelola uang jajan secara bijak. Jila dikaji lebih lanjut, terdapat beberapa faktor mengapa literasi finansial sangatlah penting diperkenalkan kepada anak-anak. Sederhananya, anak-anak cenderung lebih aktif secara kognitif karena mereka menggunakan 80% kuriositas untuk menjelajahi tentang banyak hal yang terjadi di sekitar mereka (Masruroh & Wiyani, 2023). Program edukasi literasi finansial yang kami realisasikan berbasis habit-building, di mana kunci utamanya terletak pada membangun kebiasaan untuk menggunakan uang dengan bijak. Sedari kecil (rentang usia 6-10 tahun), mereka perlu dibiasakan mengelola uang jajan secara mandiri dengan cara menyisihkannya terlebih dahulu untuk ditabung lalu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masa depan. Konsep manajemen finansial ini memicu anak-anak untuk berpikir kritis sebelum menghabiskan uangnya.
KURNIAWAN AGUS FIQIH BUDIMAN
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 21 Januari 2025 dimulai pada pukul 10.30 WIB dan berakhir sekitar pukul 14.00 WIB. Dalam kegiatan ini, mahasiswa secara aktif terlibat dalam menyampaikan materi, mengajak para siswa berdiskusi serta bermain kuis. Materi yang disampaikan antara lain mengenai bagaimana membedakan kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Untuk meminimalisir rasa bosan siswa-siswi kelas 5 MI Mamba’ul Hidayah, dalam penyampaian ini kami turut menyertakan sejumlah kuis dan permainan di mana siswa-siswi diajak untuk berkolaborasi dengan teman-teman sekelas mereka dan mahasiswa KKM kelompok 26 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sebagai contoh, setelah pemaparan materi mengenai literasi finansial kami menyisipkan sesi di mana siswa menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh PJ mahasiswa KKM. Kemudian, siswa-siswi diminta membedakan keinginan dan kebutuhan serta membiasakan diri untuk berbagi dengan menyiapkan uang untuk beramal. Selain itu, siswa juga kami ajak untuk bercerita di depan kelas mengenai pengalaman menabung yang dilakukannya selama ini. Kegiatan ini kami tutup dengan meminta para siswa-siswi membiasakan diri dengan perilaku perilaku keuangan yang baik seperti menabung dan belajar mengelola uang jajannya. Selanjutnya, kami membagi 50 siswa menjadi 10 kelompok untuk membuat celengan dari bahan-bahan bekas. Pada tahap ini, mahasiswa KKM menjadi pengarah bagi anak-anak dalam membuat celengan. Setiap anak membawa botol atau kaleng bekas dilengkapi dengan bahan dekoratifnya seperti karton, origami, pensil warna, spidol, dan lain sebagainya. Dalam kurun waktu 60 menit, siswa-siswi kelas 5 sangat terbenam dalam proses menciptakan suatu kreasi celengan yang terbuat dari bahan-bahan bekas. Meskipun suasana kelas diisi oleh hiruk pikuk anak-anak, kami melihat partisipasi mereka sangat membantu dalam pembuatan celengan. Bahkan, mereka sangat berorientasi pada detail saat membuat hiasan-hiasan pada celengan. Setelah proses pembuatan celengan rampung, selanjutnya adalah sesi pengumuman kelompok dengan kreasi celengan paling menarik menurut penilaian objektif juri. Setelah melalui proses deliberasi yang cukup panjang, akhirnya terpilihlah 5 kelompok yang berhasil menunjukkan kreativitasnya. Mahasiswa KKM telah mempersiapkan reward berupa celengan kaleng yang baru untuk diberikan kepada anggota-anggota kelompok yang berhasil memenangkan sesi ini. Siswa-siswi kelas 5 sangat antusias dalam mengikuti program ini karena memicu kreativitas dan kognitif mereka dalam membuat suatu celengan dari bahan daur ulang. Program edukasi literasi finansial ini juga diharapkan dapat memotivasi siswa-siswi dalam menabung dan mengelola uang jajan secara bijak. Jila dikaji lebih lanjut, terdapat beberapa faktor mengapa literasi finansial sangatlah penting diperkenalkan kepada anak-anak. Sederhananya, anak-anak cenderung lebih aktif secara kognitif karena mereka menggunakan 80% kuriositas untuk menjelajahi tentang banyak hal yang terjadi di sekitar mereka (Masruroh & Wiyani, 2023). Program edukasi literasi finansial yang kami realisasikan berbasis habit-building, di mana kunci utamanya terletak pada membangun kebiasaan untuk menggunakan uang dengan bijak. Sedari kecil (rentang usia 6-10 tahun), mereka perlu dibiasakan mengelola uang jajan secara mandiri dengan cara menyisihkannya terlebih dahulu untuk ditabung lalu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masa depan. Konsep manajemen finansial ini memicu anak-anak untuk berpikir kritis sebelum menghabiskan uangnya.
LAILATUL MAGHFIROH
Dalam rangka pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) menempatkan 2 kelompok KKM di Desa Arjowilangun Kecamatan Kalipare. Pembukaan KKM UIN dilaksanakan pada hari jumat 20 Desember 2024 di Balai Desa Arjowilangun. Kegiatan pembukaan dihadiri langsung oleh Kepala Desa dan Perangkat Desa, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), dan 24 mahasiswa KKM yang terdiri dari kelompok 131 dan Kelompok 61. Abdul Aziz, M.HI selaku DPL KKM Kelompok 131 Dalam sambutannya menyampaikan mohon bimbingan kepada bapak kades dan jajaran untuk kelompok KKM UIN, mereka terlihat sempurna secara fisik tapi masih butuh belajar bermasyarakat melalui program KKM. Ini adalah KKM yang sebenarnya karena jauh dari kampus. Silahkan melaksanakan KKM dengan sebaik mungkin sapa warga dan buktikan teori di kampus karena masyarakat adalah lab yang sebenarnya, ungkap Dr. Fakhruddin, M.HI dari DPL KKM Kelompok 131. Kuswianto Kepala Desa Arjowilangun dalam sambutannya menyampaikan Terimakasih karena melakukan KKM di Desa Arjowilangun, KKM disini dari berbagai macam jurusan, dengan berbagai macam jurusan maka adaptasinya akan macam-macam. Dengan perbedaan itu akan menemukan titik keindahan. Karena KKM selama 40 hari semoga doa-doanya bisa seperti wali. Mudah-mudahan krasan dan tidak ada yang sakit selama KKM di Desa Arjowilangun, tetap jaga norma kesopanan selama KKN di Desa Arjowilangun. KKM UIN akan berlangsung mulai dari 20 Desember 2024 sampai dengan 31 Januari 2025 di tempatkan di 2 dusun yaitu di Dusun Pangganglele dan Dusun Lodalem. KKM UIN reguler ini membawa tema stunting, parenting, kemiskinan ekstrem dan moderasi beragama. Pembukaan KKM UIN diresmikan dengan penyematan jas almamater kepada perwakilan kelompok KKM.