ILYAS QOWI BINTANG QOWAIT SYAIFUDDIN
Dalam rangka pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) menempatkan 2 kelompok KKM di Desa Arjowilangun Kecamatan Kalipare. Pembukaan KKM UIN dilaksanakan pada hari jumat 20 Desember 2024 di Balai Desa Arjowilangun. Kegiatan pembukaan dihadiri langsung oleh Kepala Desa dan Perangkat Desa, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), dan 24 mahasiswa KKM yang terdiri dari kelompok 131 dan Kelompok 61. Abdul Aziz, M.HI selaku DPL KKM Kelompok 131 Dalam sambutannya menyampaikan mohon bimbingan kepada bapak kades dan jajaran untuk kelompok KKM UIN, mereka terlihat sempurna secara fisik tapi masih butuh belajar bermasyarakat melalui program KKM. Ini adalah KKM yang sebenarnya karena jauh dari kampus. Silahkan melaksanakan KKM dengan sebaik mungkin sapa warga dan buktikan teori di kampus karena masyarakat adalah lab yang sebenarnya, ungkap Dr. Fakhruddin, M.HI dari DPL KKM Kelompok 131. Kuswianto Kepala Desa Arjowilangun dalam sambutannya menyampaikan Terimakasih karena melakukan KKM di Desa Arjowilangun, KKM disini dari berbagai macam jurusan, dengan berbagai macam jurusan maka adaptasinya akan macam-macam. Dengan perbedaan itu akan menemukan titik keindahan. Karena KKM selama 40 hari semoga doa-doanya bisa seperti wali. Mudah-mudahan krasan dan tidak ada yang sakit selama KKM di Desa Arjowilangun, tetap jaga norma kesopanan selama KKN di Desa Arjowilangun. KKM UIN akan berlangsung mulai dari 20 Desember 2024 sampai dengan 31 Januari 2025 di tempatkan di 2 dusun yaitu di Dusun Pangganglele dan Dusun Lodalem. KKM UIN reguler ini membawa tema stunting, parenting, kemiskinan ekstrem dan moderasi beragama. Pembukaan KKM UIN diresmikan dengan penyematan jas almamater kepada perwakilan kelompok KKM.
ISMA SALSABILA RAMADANTI
Dalam upaya mengembangkan potensi wisata alam Air Terjun Coban Jahe, mahasiswa peserta Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari kelompok 164 Cakrawangsa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang melakukan kegiatan survei lapangan di Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam merancang program pengembangan wisata berbasis pemberdayaan masyarakat lokal. Acara dilaksanakan di Balai Desa Pandansari Lor. Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa memaparkan rencana kerja dan tujuan survei kepada perangkat desa, tokoh masyarakat, dan pengelola wisata lokal. Kolaborasi ini bertujuan untuk memahami potensi, tantangan, dan kebutuhan utama dalam pengembangan destinasi wisata Coban Jahe. Tim pelajar, bersama perangkat desa dan warga, melakukan kunjungan langsung ke lokasi Air Terjun Coban Jahe. Selama survei, mereka mengamati kondisi fasilitas, akses jalan, kebersihan lingkungan, serta potensi daya tarik wisata. Keindahan alam Coban Jahe, yang memadukan hutan hijau dan aliran air yang jernih, menjadi salah satu kekuatan utama yang dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai destinasi ekowisata. Namun, tantangan juga ditemukan. Akses jalan menuju lokasi masih memerlukan perbaikan signifikan, fasilitas parkir belum memadai, dan beberapa area di sekitar air terjun tampak kurang terawat. Dokumentasi visual dan catatan lapangan dilakukan untuk mencatat semua aspek yang relevan. Selain mengamati, mahasiswa juga mendengarkan cerita sejarah dan mitos seputar Coban Jahe yang disampaikan oleh warga setempat. Cerita-cerita ini diharapkan dapat menjadi daya tambahan tarik dalam pengembangan wisata budaya dan edukasi. Dalam diskusi singkat dengan pengelola wisata, terungkap beberapa kendala utama, seperti kurangnya anggaran promosi, rendahnya kesadaran akan pentingnya kebersihan masyarakat, dan terbatasnya pelatihan pengelolaan wisata berbasis komunitas. Survei yang berlangsung ini menghasilkan berbagai data penting yang akan menjadi dasar penyusunan program kerja lanjutan. Tim mahasiswa merencanakan strategi pengembangan, termasuk pelatihan pengelolaan wisata, promosi digital, dan peningkatan kesadaran lingkungan bagi masyarakat. Pihak desa menyambut inisiatif positif ini. Kepala Desa Pandansari Lor menyatakan, “Kami berharap kolaborasi ini dapat meningkatkan potensi wisata Coban Jahe, menarik lebih banyak wisatawan, dan memberikan dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat desa.” Program KKM ini mencerminkan sinergi antara mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah desa dalam menggali dan mengembangkan potensi lokal. Dengan semangat kolaborasi dan langkah strategi yang terencana, Air Terjun Coban Jahe memiliki peluang besar untuk menjadi destinasi wisata unggulan yang mengangkat nama Desa Pandansari Lor ke tingkat nasional bahkan internasional. Melalui kegiatan ini, mahasiswa UIN Malang tidak hanya belajar menerapkan ilmu di lapangan, tetapi juga berkontribusi dalam memajukan sektor pariwisata lokal. Air Terjun Coban Jahe, dengan segala pesonanya, menjadi simbol harapan baru bagi masyarakat Desa Pandansari Lor untuk masa depan yang lebih cerah.
MOHAMMAD HILMY ZHAFFRAN SIGIT
SDN 4 Bedalisodo berhasil membuktikan bahwa moderasi beragama dapat diterapkan sejak usia dini melalui kegiatan yang sarat nilai toleransi dan keberagaman. Setiap Selasa hingga Kamis pagi, sekolah ini mengadakan aktivitas keagamaan yang mempererat harmoni antarsiswa dari berbagai latar belakang agama. Suasana penuh makna terlihat ketika siswa melaksanakan kegiatan spiritual mereka masing-masing. Di lapangan sekolah, siswa Muslim bersama para guru membaca Asmaul Husna dan menghafal surat-surat pendek Al-Qur'an dengan khidmat. Sementara itu, siswa non-Muslim berkumpul di ruang kelas 4 untuk berdoa sesuai keyakinan mereka, didampingi wali kelas yang memastikan kegiatan berjalan lancar dan penuh penghormatan. Menurut Yoza, anggota Kelompok KKN 105 “Sukma Sadhana” dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, kegiatan ini adalah contoh nyata harmoni dalam keberagaman. “Kami menyaksikan bagaimana siswa diajarkan untuk menghargai perbedaan tanpa mengurangi kualitas ibadah masing-masing. Ini adalah bentuk moderasi beragama yang patut diapresiasi,” ungkapnya. Shofi menambahkan, Kelompok KKN 105 tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga turut berkontribusi dalam memfasilitasi kegiatan ini. Mereka mendampingi siswa, memberikan dukungan logistik, serta mengapresiasi komitmen para guru dalam menciptakan suasana inklusif. “Kegiatan ini tidak hanya membangun nilai spiritual, tetapi juga menanamkan rasa saling menghormati yang kuat,” jelasnya. Inisiatif yang dilakukan SDN 4 Bedalisodo membawa dampak positif, baik secara spiritual maupun sosial. Siswa belajar untuk mendukung satu sama lain tanpa memandang perbedaan agama, menciptakan lingkungan yang hangat dan penuh rasa saling menghormati. “Kami berharap para siswa tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga menjadi generasi yang toleran, menghormati keberagaman, dan siap menjadi agen perdamaian di masyarakat,” tambah Nazih. Kolaborasi antara sekolah dan kelompok KKN menunjukkan betapa pentingnya dukungan komunitas luar dalam mewujudkan moderasi beragama. Upaya ini tidak hanya memperkaya nilai-nilai kebangsaan di kalangan siswa, tetapi juga memberikan inspirasi bagi sekolah lain untuk mengintegrasikan moderasi beragama dalam kegiatan sehari-hari. Praktik moderasi beragama di SDN 4 Bedalisodo menjadi bukti bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan pemersatu. Dengan menciptakan ruang bagi setiap siswa untuk menjalankan keyakinan mereka tanpa hambatan, sekolah ini berhasil menanamkan benih toleransi yang akan terus tumbuh di masa depan. Inisiatif seperti ini layak menjadi teladan bagi sekolah lain, sebagai langkah kecil menuju masyarakat yang damai dan harmonis. Melalui pendidikan berbasis moderasi beragama, diharapkan nilai-nilai toleransi dan keberagaman dapat menyebar lebih luas, menjadikan keberagaman sebagai fondasi bagi persatuan bangsa. Penulis : KKN Kelompok 105 "Sukma Sadhana"
MUHAMMAD ILHAM PUTRA RAHMADANA
Pada hari Kamis, tanggal 23 Januari 2025, telah dilaksanakan kegiatan Sosialisasi Parenting yang bertempat di Balai Desa Janjangwulung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Desa Janjangwulung, seluruh perangkat desa, 2 orang perwakilan dari pendidik formal maupun nonformal, 25 kader PKK, serta 5 kepala dusun se-Desa Janjangwulung. Narasumber Sosialisasi Parenting yang bertemakan “Pentingnya Peran Orang Tua dan Pendidik dalam Membentuk Karakter Anak serta Peningkatan Kesadaran atas Pentingnya Pendidikan Formal” ini yaitu Bapak Ali Syahidin Mubarok, M.Si., seorang dosen Psikologi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dan praktisi pendidikan yang berpengalaman di bidang pengasuhan anak. Dalam kegiatan ini, narasumber memberikan pemaparan mengenai pentingnya pola asuh yang tepat, teknik dan strategi untuk mendidik anak dengan pendekatan yang penuh kasih sayang, peran orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak, serta komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak, Bapak Ali juga menyinergikan pola asuh islam yang dicontohkan oleh Rasulullah dengan kondisi psikologis anak di zaman sekarang. Ketua KKM Desa Janjangwulung, Saudara Izza Al-Maris dalam sambutannya mengungkapkan pentingnya peran orang tua dalam tumbuh kembang anak. "Pendidikan dimulai dari rumah, dan orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter dan kecerdasan anak. Melalui sosialisasi ini, kami berharap dapat membantu para orang tua untuk lebih memahami cara-cara yang tepat dalam mendidik anak," ujarnya. Kegiatan berlangsung dengan interaktif, di mana peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan bertanya langsung kepada narasumber mengenai permasalahan parenting yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya itu Narasumber juga memberi hadiah bagi audiens yang bisa menjawab soal yang diberikan. Antusiasme audiens terlihat dari banyaknya pertanyaan dan jawaban yang berlangsung selama sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan datang dari Ibu Ida, selaku salah satu guru pengajar di MI Al-Hidayah Desa Janjangwulung. Beliau bertanya “Pernah lewat di beranda sosial media saya bahwa cara mendidik anak perempuan dan anak laki laki itu berbeda, dimana kalau anak perempuan tidak perlu diberikan wewenang untuk memilih, sedangkan anak laki-laki harus dibiasakan sejak dini untuk diberikan pilihan dan menentukan suatu keputusan. Mohon dikonfirmasi bapak, apakah itu merupakan cara mendidik anak yang benar atau tidak?”. Dari pertanyaan tersebut, bapak Ali selaku pemateri mengonfirmasi bahwa berita itu tidak benar, dan sebagai orang tua maupun pendidik kita harus lebih selektif dalam menyaring dan memilah informasi terkait cara mendidik anak yang tersebar di sosial media. Dari pertanyaan tersebut, pemateri kita juga menyinggung terkait budaya patriarki, dan memberikan pengetahuan berdasarkan ilmu psikologi dan peneitian terkait cara mendidik anak perempuan dan laki-laki yang lebih tepat. Selain itu ada pula pertanyaan dari ibu Hamidah, selaku perwakilan dari kader sekaligus merangkap sebagai Kepala Lembaga RA Miftahul Ulum Desa Janjangwulung. Beliau bertanya terkait bagaimana cara menghadapi dan mendidik anak yang hiperaktif, hingga sangat sulit sekali untuk konsentrasi dan belajar. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh pemateri bahwa cara menyikapi anak anak ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) membutuhkan perhatian khusus baik secara fisik maupun psikis, dimana diperlukannya sinergi dan komunikasi dua arah antara guru dan orang tua. Dimana berdasarkan penelitian, Bapak Ali menyebutkan bahwa untuk mengurangi energi berlebih yang dimiliki anak, kita harus memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi oleh anak. Anak yang terindikasi ADHD atau yang biasa dikenal dengan istilah hiperaktif tidak boleh mengonsumsi susu, coklat, makanan yang mengandung pati/ tepung, makanan yang mengandung alergen dan makanan yang terlalu manis, karena makanan tersebut akan menyebabkan anak menjadi semakin aktif karena mengandung banyak gula. Selain itu secara psikologis juga, bisa menjadi indikasi bahwa anak kekurangan perhatian dari orang tua, sehingga sebagai orang tua juga harus terus belajar. Adanya diskusi interaktif ini membuat acara menjadi lebih hidup dan memberikan ruang bagi orang tua untuk saling belajar dari pengalaman masing-masing. Dengan adanya sosialisasi parenting ini, diharapkan dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh dalam mendidik dan mengasuh anak-anak agar tumbuh menjadi generasi yang berkarakter dan berakhlak baik. Serta menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang lebih peduli terhadap perkembangan anak di Desa Janjangwulung, sekaligus memperkuat peran serta masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan anak di wilayah tersebut.
IFA DATURROCHMAH
Stunting masih menjadi permasalahan serius di Indonesia, terutama di daerah pedesaan. Kurangnya asupan gizi, pola asuh yang kurang tepat, serta minimnya pemahaman masyarakat tentang kesehatan menjadi faktor utama tingginya angka stunting. Dalam upaya menekan angka stunting, Posyandu berperan penting sebagai pusat layanan kesehatan yang langsung menyentuh masyarakat. Dalam rangka mendukung program pencegahan stunting, mahasiswa Kelompok Kerja Mahasiswa (KKM) 59 UIN Malang mengadakan kegiatan penyuluhan di Dusun Sidodadi, Kedungwaru 2, dan Mentaraman, Desa Arjosari. Kegiatan ini berkolaborasi dengan Posyandu Balita dan Lansia sebagai mitra strategis dalam memberikan edukasi dan pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, balita, serta lansia. Peran Posyandu dalam Pencegahan Stunting Posyandu memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesehatan bagi ibu hamil, balita, serta lansia. Sebagai pusat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat, Posyandu menjadi garda terdepan dalam pencegahan stunting dengan beberapa langkah berikut: Pemantauan Pertumbuhan Anak Setiap bulan, kader Posyandu melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan balita. Data ini digunakan untuk mendeteksi risiko stunting sejak dini. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Posyandu menyediakan makanan tambahan bergizi kesehatan bagi ibu hamil, balita, serta lansia. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan status gizi yang berisiko mengalami stunting. Pemeriksaan Kesehatan Lansia Setiap bulan, kader Posyandu melakukan pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan gula darah, tinggi badan, dan berat badan. pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada posyandu lansia untuk mendeteksi dini masalah Kesehatan. Kontribusi KKM 59 UIN Malang Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa KKM 59 UIN Malang turut serta dalam kegiatan Posyandu di Dusun Sidodadi, Kedungwaru 2, dan Mentaraman. Kegiatan yang dilakukan meliputi: Penyuluhan Gizi dan Pencegahan Stunting Mahasiswa memberikan buku resep MPASI bayi dengan disertai usia bayinya untuk mengenai pentingnya asupan gizi yang cukup selama masa kehamilan dan balita. Pendampingan Kader Posyandu Mahasiswa membantu kader dalam pelaksanaan kegiatan Posyandu, mulai dari pengukuran berat badan, tinggi badan, pemeriksaan tekanan darah, dan pemeriksaan gula darah hingga pencatatan data kesehatan ibu hamil, balita, serta lansia. Program "Dapur Sehat" Mahasiswa bersama kader posyandu mengadakan sesi pemberian makanan tambahan (PMT) makanan sehat berbasis lokal sebagai contoh penerapan gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya kolaborasi antara Posyandu dan KKM 59 UIN Malang, masyarakat Desa Arjosari, khususnya Dusun Sidodadi, Kedungwaru 2, dan Mentaraman, mendapatkan pemahaman lebih baik mengenai pencegahan stunting. Kesadaran ibu-ibu tentang pentingnya gizi untuk anak dan pola asuh yang baik meningkat, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin sangat penting bagi lansia untuk menjaga kualitas hidup mereka. Sehingga meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup secara keseluruhan. Posyandu memiliki peran sentral dalam penyuluhan dan pencegahan stunting. Dengan dukungan dari mahasiswa KKM 59 UIN Malang, program Posyandu di Desa Arjosari semakin efektif dalam memberikan edukasi dan layanan kesehatan kepada masyarakat. Diharapkan kegiatan ini dapat berkelanjutan dan memberikan dampak jangka panjang dalam menekan angka stunting di desa Arjosari.
ENDANG MUSTIKA
Pada tanggal 30 Desember 2024, Kelompok KKM 41 UIN Malang, yang mengusung nama Basis 41, telah melaksanakan salah satu program kerjanya. Fokus program ini adalah pada UMKM Greenhouse milik Bapak Dipok yang berlokasi di Dusun Nampes, Desa Baturetno. Pemilihan UMKM ini dilatarbelakangi oleh potensi besar yang belum termaksimalkan, mengingat masih rendahnya kesadaran masyarakat akan kontribusi UMKM tersebut terhadap perekonomian lokal. UMKM Greenhouse Bapak Dipok telah beroperasi sejak tahun 2020 dan mengalami pertumbuhan yang signifikan. Luas lahan yang awalnya hanya 10 x 3 meter persegi kini telah berkembang pesat, menandakan adanya peningkatan kapasitas produksi. Namun, seperti halnya usaha pertanian lainnya, UMKM ini juga menghadapi berbagai tantangan, termasuk fluktuasi hasil panen akibat faktor iklim, serangan hama penyakit, dll. Keberadaan UMKM Greenhouse ini memiliki implikasi positif yang luas, terutama bagi masyarakat sekitar. Selain berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan pangan lokal, UMKM ini juga dapat menjadi sarana edukasi yang efektif, khususnya bagi siswa-siswa yang sedang melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Melalui kegiatan di Greenhouse, siswa dapat mempelajari secara langsung penerapan teknologi pertanian modern, siklus hidup tanaman, serta prinsip-prinsip pengelolaan usaha mikro.