Thumbnail
2 years ago
Sosialisasi Parenting Bersama Wali Murid KB At-Taqwa dengan Tema "Optimalisasi Peran Orang Tua di Masa Golden Age" oleh Kelompok KKM 184 UIN Malang Masyarakat

DIANA NUR AFIFAH ROHIM

Malang, 26 Januari 2025 - Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 184 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar sosialisasi parenting bersama wali murid KB At-Taqwa. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman orang tua tentang peran mereka dalam mendukung perkembangan anak di masa golden age, yakni usia 0-12 tahun. Acara yang berlangsung di Balai Desa Langlang ini menghadirkan pemateri dari dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Malang, Ibu Ratna Nulinnaja, M.Pd.I. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa masa golden age merupakan periode emas dalam perkembangan anak yang sangat mempengaruhi kecerdasan, emosi, dan kepribadian mereka di masa depan. Menurut Ibu Ratna, perkembangan otak anak pada usia 0-6 tahun mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Oleh karena itu, orang tua harus berperan aktif dalam menstimulasi anak melalui interaksi yang berkualitas. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan kasih sayang, mendukung eksplorasi anak, serta menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembangnya. Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa masa golden age terbagi dalam beberapa tahap perkembangan: * Masa Bayi (0-3 tahun): Anak mulai mengenali lingkungan sekitarnya, membutuhkan perhatian penuh dari orang tua, serta diberikan stimulasi sensorik dan motorik. * Masa Prasekolah (4-6 tahun): Anak mulai mengembangkan kemampuan berpikir, daya ingat, dan interaksi sosial. * Masa Sekolah Dasar (7-12 tahun): Fokus utama pada pengembangan intelektual, kontrol emosi, dan kemandirian. Dalam sosialisasi ini, Ibu Ratna juga membagikan berbagai strategi bagi orang tua agar dapat mendukung perkembangan anak secara optimal. Beberapa di antaranya adalah: 1. Komunikasi yang Efektif - Orang tua perlu mendengarkan dan memahami kebutuhan anak serta membangun hubungan positif melalui komunikasi terbuka. 2. Edukasi dan Stimulasi - Menggunakan metode pembelajaran yang menyenangkan seperti membaca buku, bermain edukatif, serta mengajarkan disiplin dan tanggung jawab sejak dini. 3. Dukungan Emosional - Memberikan pujian yang tulus, mengajarkan anak mengelola emosi, serta menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang. 4. Pembatasan Teknologi - Membatasi penggunaan gawai dan lebih banyak melibatkan anak dalam aktivitas fisik maupun interaksi sosial langsung. 5. Menjadi Teladan - Orang tua harus menjadi contoh dalam menunjukkan nilai-nilai positif, seperti kejujuran, empati, dan kerja keras. Sosialisasi ini mendapatkan respon positif dari para wali murid yang hadir. Mereka mengapresiasi materi yang disampaikan serta berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan untuk mendukung pendidikan dan perkembangan anak sejak usia dini. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan para orang tua dapat lebih memahami pentingnya peran mereka dalam membentuk karakter dan potensi anak sejak dini, sehingga dapat mencetak generasi yang cerdas, berakhlak, dan mandiri.

Thumbnail
2 years ago
Melestarikan Budaya Setempat : Mahasiswa KKM UIN Malang Ikut Serta dalam Kegiatan Bumi Wekasan di Punden Dusun Busu

RATNA DEWI AFIANTI

Dusun Busu, Desa Slamparejo, kembali menjadi pusat perhatian dengan diadakannya kegiatan bertema lingkungan dan budaya yang melibatkan masyarakat setempat dan mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Dalam rangkaian giat bertajuk Bumi Wekasan, mahasiswa KKM bersama warga bekerja sama untuk menjaga dan melestarikan Punden Dusun Busu, sebuah situs budaya yang kaya akan nilai sejarah dan spiritual.   Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pembersihan punden sebagai simbol sakralitas masyarakat lokal, tetapi juga mencakup berbagai aksi peduli lingkungan seperti penanaman bibit pohon dan pembersihan mata air. Tujuan utamanya adalah memastikan kelestarian alam di sekitar punden sekaligus memperkuat keberlanjutan sumber daya air bagi masa depan.   Pembersihan Punden: Merawat Warisan Budaya   Punden Dusun Busu memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Desa Slamparejo. Sebagai situs sakral yang mengandung nilai historis, punden ini sering dijadikan tempat ritual budaya dan sarana untuk merekatkan hubungan sosial warga. Oleh karena itu, kegiatan Bumi Wekasan dimulai dengan pembersihan area punden.   Mahasiswa KKM UIN Malang bersama warga setempat membersihkan dedaunan kering, sampah, dan kotoran yang menumpuk di sekitar punden. Aktivitas ini tidak hanya mengembalikan estetika tempat, tetapi juga mencerminkan rasa hormat terhadap warisan budaya yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat lokal.   Penanaman Bibit Pohon: Menjaga Ekosistem dan Mata Air Salah satu kegiatan utama dalam giat ini adalah penanaman bibit pohon di sekitar area punden dan mata air. Penanaman pohon bukan hanya sekadar penghijauan, tetapi memiliki tujuan yang lebih besar. Pohon-pohon yang ditanam berfungsi untuk memperkuat aliran mata air yang ada dan diharapkan dapat memunculkan sumber mata air baru di masa mendatang.   Pohon berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Akar pohon membantu menahan tanah dan mencegah erosi, sekaligus menyerap air hujan untuk disimpan dalam lapisan tanah. Dengan menanam pohon, mahasiswa dan masyarakat Dusun Busu menunjukkan kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan yang berdampak langsung pada kualitas hidup generasi mendatang.   Pembersihan Mata Air: Sumber Kehidupan yang Harus Dijaga   Selain menanam pohon, kegiatan Bumi Wekasan juga mencakup pembersihan mata air di sekitar Dusun Busu. Mata air adalah sumber kehidupan bagi masyarakat setempat, baik untuk keperluan sehari-hari maupun kegiatan pertanian. Sayangnya, aliran mata air sering terhambat oleh sampah dan material alami seperti dedaunan dan ranting.   Mahasiswa KKM bersama warga bekerja bahu-membahu membersihkan area mata air untuk memastikan aliran air tetap lancar. Langkah ini tidak hanya meningkatkan kualitas air, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya air di wilayah tersebut.   Kolaborasi untuk Masa Depan yang Lebih Baik   Kegiatan Bumi Wekasan ini menjadi contoh nyata kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dalam melestarikan budaya dan lingkungan. Mahasiswa KKM UIN Malang tidak hanya berkontribusi dengan tenaga dan pengetahuan, tetapi juga membawa semangat baru bagi warga untuk terus menjaga warisan leluhur sekaligus menghadapi tantangan lingkungan di era modern.   Keberhasilan giat ini menjadi bukti bahwa upaya menjaga budaya dan lingkungan tidak dapat dipisahkan. Punden Dusun Busu, sebagai simbol sakral dan identitas lokal, kini semakin kuat posisinya sebagai pusat pelestarian budaya dan ekologi. Dengan kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat terus menjaga kekayaan budaya dan lingkungan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka.   Melalui inisiatif ini, generasi muda, baik mahasiswa maupun masyarakat setempat, telah menunjukkan bahwa mereka siap menjadi penjaga kelestarian alam dan budaya demi masa depan yang lebih baik. Kegiatan seperti Bumi Wekasan patut menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk melibatkan berbagai elemen masyarakat dalam melestarikan kekayaan budaya dan lingkungan lokal.

Thumbnail
2 years ago
Sosialisasi Parenting dan Cegah Stunting Di Desa Sumberpetung: Program Kolaborasi Kelompok KKM 126 dan 56 UIN Malang

SUKMA AYU LESTARI

Kelompok KKM 126 dan 56 UIN Malang sukses menggelar sosialisasi dengan tema Parenting dan Stunting di Balai Dusun Banduarjo, Desa Sumberpetung, Kecamatan Kalipare. Sosialisasi tersebut berlangsung tepat setelah agenda rutinan PKK berupa pelayanan posyandu. Tidak hanya dihadiri oleh para ibu di desa Sumberpetung, namun kegiatan sosialisasi tersebut juga turut dihadiri langsung oleh kepala desa Sumberpetung, Bapak Hamim Achmad, beserta perangkat desa lainnya. Kegaitan sosialisasi dibuka dengan hangat oleh sambutan dari Kepala Desa selaku tamu undangan. Dalam sambutannya, Hamim memaparkan terkait urgensi dari diadakannya sosialisasi tersebut di Desa Sumberpetung, khususnya. Walaupun fenomena stunting tidak banyak terjadi di desa tersebut, namun pencegahan dini tetap diperlukan. Sosialisasi tersebut juga mengundang dua pemateri yang menguasai bidang pola asuh dan pola makan anak. Materi terkait pola asuh anak atau parenting disampaikan oleh Yully Astutik sebagai pemateri pertama. Penyampaiannya yang interaktif berhasil membangunkan antusias audiens. Melalui sosialisasi tersebut, Yully menegaskan pentingnya pola asuh seorang ibu sebagai sekolah pertama bagi anak. Tak berhenti disitu, materi cegah stunting selanjutnya disampaikan oleh ahli gizi Ayu C. Hermawati sebagai pemateri kedua. Materi ini cukup unik dikarenakan pemateri tidak hanya berbagi ilmu terkait stunting saja, namun juga berbagi menu-menu makanan untuk anak yang bervariasi tapi tetap sehat. Lebih dari itu, Ayu langsung mempraktikan proses dan cara memasak beberapa menu dengan bahan yang sama. Ayu juga tak sungkan untuk mempersilakan siapapun diantara para ibu yang ingin mencoba memasaknya secara langsung di hadapan para audiens lainnya. Hal tersebut pun tentu memantik semangat mereka yang tertarik untuk mencobanya. Kegiatan sosialisasi berlangsung dengan lancar sampai waktu menjelang tengah hari. Pembawa acara berinisiatif untuk mengakhiri acara dengan sesi tanya jawab berhadiah. Untuk kesekian kalinya, para audiens tergugah untuk menyimak sisa kegiatan tersebut. Tak disangka, banyak diantara audiens yang berhasil menjawab pertanyaan dari pembawa acara dengan cepat dan tepat. Hal ini menunjukkan bahwa para ibu yang hadir di dalam sosialisasi telah menyimak materi yang disampaikan dengan baik. Melalui kegiatan sosialisasi Parenting dan Stunting yang diadakan oleh kelompok KKM 126 dan 56 di Desa Sumberpetung, diharapkan adanya penurunan angka stunting dan krisis parenting pada anak-anak bangsa ini. Karena bangsa yang hebat dimulai dari generasi yang sehat dan kuat.    

Thumbnail
2 years ago
Mahasiswa KKM UIN Malang Bersama Kepala Desa Kenongo Lakukan Survey Lokasi Perencanaan Pembangunan Wisata Camping Ground

AHMAD ALI MANSUR

Kenongo, (26/12/2024) -- Dalam upaya pengembangan potensi wisata alam di Desa Kenongo, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Malang bersama Kepala Desa Kenongo melakukan survei lokasi untuk rencana pembangunan area wisata camping ground. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja mahasiswa KKM untuk mendukung pengembangan desa berbasis pariwisata.   Survei dilakukan di salah satu kawasan yang memiliki pemandangan alam indah dan strategis untuk dijadikan area camping ground. Kepala Desa Kenongo, Bapak Sugiarto, menyampaikan bahwa rencana pembangunan wisata ini sebenarnya telah lama dirancang oleh pemerintah desa, namun hingga kini belum terealisasi.   "Wisata camping ground ini adalah salah satu potensi besar yang bisa mengangkat perekonomian warga. Kami sudah lama memiliki rencana ini, tetapi masih membutuhkan bantuan dari berbagai pihak, termasuk mahasiswa yang memiliki wawasan dan ide-ide segar," ungkap Kepala Desa.   Mahasiswa KKM UIN Malang diberi kesempatan untuk membantu mendesain konsep pembangunan wisata tersebut, mulai dari tata letak fasilitas hingga ide promosi yang berkelanjutan. Mereka juga diminta memberikan masukan mengenai bagaimana area ini bisa menjadi destinasi wisata yang menarik tanpa merusak ekosistem alam yang ada.   Kami sangat senang bisa terlibat dalam proyek ini. Selain mendukung program desa, ini juga menjadi pengalaman berharga bagi kami untuk belajar langsung tentang pengembangan wisata berbasis masyarakat," ujar salah satu mahasiswa KKM.   Survei ini diakhiri dengan foto bersama antara mahasiswa, perangkat desa Kenongo. Keterlibatan mahasiswa KKM diharapkan dapat mempercepat terwujudnya wisata camping ground di Desa Kenongo, sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Dengan adanya kolaborasi ini, Desa Kenongo optimis bahwa wisata camping ground dapat segera menjadi salah satu daya tarik utama di wilayah tersebut.

Thumbnail
2 years ago
Keripik Tempe: Camilan Murah Meriah Pembawa Rezeki Warga Desa Situ Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kota Bogor

DITA SHAFA QUTRATU`AIN

Bogor, 28 Desember 2024_ Keripik tempe yang selalu menjadi camilan favorit sebagian orang ternyata memberikan dampak positif bagi perekonomian warga Desa Situ Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Usaha UMKM yang didirikan oleh Pak Arga menjadi sumber rezeki baru bagi masyarakat sekitar, berkat inovasi dan niat tulusnya menciptakan lapangan pekerjaan. Mulanya beliau berprofesi sebagai reseller di salah satu market place hingga akhirnya memberanikan diri memulai usaha keripik tempe setelah terinspirasi video-video Youtube yang ia tonton. "Saya banyak belajar dari video-video yang saya tonton. Mulai dari coba-coba dan berhasil, akhirnya terciptalah pabrik keripik tempe ini hehehe" ujarnya. Dengan tekad dan semangat, Pak Arga pun mulai memproduksi keripik tempe yang kini dikenal luas di desa dan sekitarnya. Keripik tempe hasil produksi Pak Arga memiliki dua varian, keripik tempe sagu dan keripik tempe crispy. Dinamakan keripik tempe sagu karena menggunakan campuran tepung sagu, yang memberikan tekstur lebih renyah serta tampilan putih yang sangat menggiurkan. Sementara keripik tempe crispy memiliki rasa yang gurih dengan teksturnya yang sedikit lumayan tebal. Kedua varian ini menjadi pilihan yang disukai berbagai kalangan, karena selain rasanya enak, harga yang ditawarkan juga sangat terjangkau. Meski usaha ini terus berkembang, cuaca menjadi faktor yang sangat memengaruhi proses pengolahan keripik tempe. Proses peragian tempe, yang menjadi tahap penting pembuatan keripik terkadang terhambat oleh cuaca yang sering berubah. "Kalau sekarang kan lagi musim hujan toh, nah itu bisa nunggu sampai 3 harian hingga akhirnya tempe bisa diolah menjadi keripik” jelas bapak berperawakan tegap itu. Selain sebagai usaha pribadi, motivasi Pak Arga mendirikan UMKM juga perlu diapresiasi. Beliau ingin memberikan kontribusi bagi masyarakat desa dengan membuka lapangan pekerjaan. "Melalui usaha ini, saya harap dapat membantu warga sekitar yang membutuhkan pekerjaan. Banyak warga Desa Situ Ilir yang kini bekerja bersama saya dalam proses produksi, terkhususnya para Ibu Rumah Tangga yang ingin menambah pemasukan membantu para suaminya" ujar Pak Arga. Kini, usaha keripik tempe yang didirikan oleh Pak Arga berkembang pesat dan memberikan manfaat ekonomi bagi banyak orang. Selain membuka lapangan kerja, produk keripik tempe ini juga semakin dikenal oleh masyarakat luar desa, sehingga memberikan potensi pasar yang lebih luas. Dengan usaha yang dimulai dari menonton video, modal pribadi, dan semangat membantu sesama, Pak Arga telah berhasil menunjukkan bahwa usaha kecil seperti keripik tempe bisa menjadi sumber rezeki yang membawa manfaat besar bagi masyarakat Desa Situ Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Thumbnail
2 years ago
Keripik Tempe: Camilan Murah Meriah Pembawa Rezeki Warga Desa Situ Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kota Bogor

BILQIS NAFISYAH ATJIM ROA

Bogor, 28 Desember 2024_ Keripik tempe yang selalu menjadi camilan favorit sebagian orang ternyata memberikan dampak positif bagi perekonomian warga Desa Situ Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Usaha UMKM yang didirikan oleh Pak Arga menjadi sumber rezeki baru bagi masyarakat sekitar, berkat inovasi dan niat tulusnya menciptakan lapangan pekerjaan. Mulanya beliau berprofesi sebagai reseller di salah satu market place hingga akhirnya memberanikan diri memulai usaha keripik tempe setelah terinspirasi video-video Youtube yang ia tonton. "Saya banyak belajar dari video-video yang saya tonton. Mulai dari coba-coba dan berhasil, akhirnya terciptalah pabrik keripik tempe ini hehehe" ujarnya. Dengan tekad dan semangat, Pak Arga pun mulai memproduksi keripik tempe yang kini dikenal luas di desa dan sekitarnya. Keripik tempe hasil produksi Pak Arga memiliki dua varian, keripik tempe sagu dan keripik tempe crispy. Dinamakan keripik tempe sagu karena menggunakan campuran tepung sagu, yang memberikan tekstur lebih renyah serta tampilan putih yang sangat menggiurkan. Sementara keripik tempe crispy memiliki rasa yang gurih dengan teksturnya yang sedikit lumayan tebal. Kedua varian ini menjadi pilihan yang disukai berbagai kalangan, karena selain rasanya enak, harga yang ditawarkan juga sangat terjangkau. Meski usaha ini terus berkembang, cuaca menjadi faktor yang sangat memengaruhi proses pengolahan keripik tempe. Proses peragian tempe, yang menjadi tahap penting pembuatan keripik terkadang terhambat oleh cuaca yang sering berubah. "Kalau sekarang kan lagi musim hujan toh, nah itu bisa nunggu sampai 3 harian hingga akhirnya tempe bisa diolah menjadi keripik” jelas bapak berperawakan tegap itu. Selain sebagai usaha pribadi, motivasi Pak Arga mendirikan UMKM juga perlu diapresiasi. Beliau ingin memberikan kontribusi bagi masyarakat desa dengan membuka lapangan pekerjaan. "Melalui usaha ini, saya harap dapat membantu warga sekitar yang membutuhkan pekerjaan. Banyak warga Desa Situ Ilir yang kini bekerja bersama saya dalam proses produksi, terkhususnya para Ibu Rumah Tangga yang ingin menambah pemasukan membantu para suaminya" ujar Pak Arga. Kini, usaha keripik tempe yang didirikan oleh Pak Arga berkembang pesat dan memberikan manfaat ekonomi bagi banyak orang. Selain membuka lapangan kerja, produk keripik tempe ini juga semakin dikenal oleh masyarakat luar desa, sehingga memberikan potensi pasar yang lebih luas. Dengan usaha yang dimulai dari menonton video, modal pribadi, dan semangat membantu sesama, Pak Arga telah berhasil menunjukkan bahwa usaha kecil seperti keripik tempe bisa menjadi sumber rezeki yang membawa manfaat besar bagi masyarakat Desa Situ Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.