Thumbnail
8 months ago
Eco Brick Sebagai Solusi Sampah Desa: Kolaborasi KKM Arutala Pratista dan SDN 1 Srigading

MUHAMMAD HABIB AL FIRDAUS

SRIGADING, LAWANG - Berawal  dari Masalah Sampah Desa Permasalahan sampah plastik seringkali menjadi tantangan utama di wilayah pedesaan yang belum memiliki sistem pengelolaan limbah terpadu. Hal ini pula yang ditemui oleh kelompok KKN "Arutala Pratista" dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang saat mengabdi di Desa Srigading, Kecamatan Lawang. Tumpukan sampah plastik, baik dari rumah tangga maupun aktivitas warga, masih belum terkelola dengan optimal. Melihat kondisi tersebut, kelompok KKN merancang sebuah program kerja berbasis lingkungan dengan metode Eco Brick. Metode ini dipilih karena kemampuannya menyerap volume sampah plastik dalam jumlah besar untuk diubah menjadi material yang keras dan tahan lama. Mengingat adanya potensi wisata lokal, output dari program ini diarahkan menjadi sebuah instalasi hiasan berbentuk hati (Love) yang ditempatkan di Rest Area Srigading, sebuah lokasi strategis yang membutuhkan sentuhan estetika. Kolaborasi Strategis dengan SDN 1 Srigading Keberhasilan program Eco Brick sangat bergantung pada ketersediaan material sampah kering. Untuk itu, mahasiswa KKN menginisiasi kerja sama dengan SDN 1 Srigading. Langkah ini bukan sekadar pengumpulan sampah, melainkan juga bentuk edukasi dini mengenai pemilahan sampah. Mahasiswa menyediakan tempat sampah khusus di setiap kelas (dari kelas 1 hingga kelas 6) dan mengedukasi siswa untuk membuang sampah plastik kering ke wadah tersebut. Sampah yang terkumpul diambil secara berkala setiap pulang sekolah. Selain sampah dari sekolah, mahasiswa juga memungut sampah di lingkungan desa dan rumah tangga setiap harinya. Untuk kebutuhan wadah eco brick, siswa diinstruksikan membawa botol air mineral kosong berukuran 1,5 liter pada tanggal 27 Januari 2026. Kerja sama ini didasarkan pada prinsip mutual benefit (saling menguntungkan). Sebagai timbal balik atas partisipasi sekolah, logo SDN 1 Srigading turut disematkan pada instalasi akhir, dan kelebihan hasil eco brick diserahkan kembali ke sekolah untuk program keberlanjutan mereka. Dari Pemilahan hingga Pengecatan Puncak pelaksanaan program dilakukan pada 27 Januari 2026. Proses dimulai dengan memotong sampah plastik yang telah dikumpulkan menjadi bagian-bagian kecil (mencacah) untuk memadatkan isi botol. Kegiatan pengisian botol dilakukan secara serentak di SDN 1 Srigading pada jam istirahat pertama, tepat setelah sesi Makan Bergizi Gratis (MBG). Mahasiswa membawa sampah plastik yang telah dipotong, kemudian bersama para siswa memasukkannya ke dalam botol-botol yang telah disiapkan. Dari kegiatan tersebut, terkumpul sekitar 90 botol eco brick yang padat dan keras. Langkah selanjutnya adalah pewarnaan. Botol-botol tersebut dicat menggunakan warna merah cabai (red chili) untuk memberikan kesan visual yang kuat dan menarik perhatian. Hasil Akhir Setelah cat kering, tahap perakitan dilakukan di Rest Area Srigading. Sekitar 45 botol disusun dan ditempelkan pada kerangka besi berbentuk hati (Love) menggunakan kawat. Mengingat lokasi Rest Area yang terbuka dan rawan angin kencang, struktur besi diberikan penyangga tambahan agar kokoh dan tidak goyah. Hasil akhir ini dilengkapi dengan watermark berupa logo UIN Malang, logo kelompok KKN "Arutala Pratista", dan logo SDN 1 Srigading sebagai penanda kolaborasi tiga pihak.

Thumbnail
8 months ago
Menggerakkan Potensi Lokal: KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh dengan Pendekatan ABCD

FARIS ALMAS FAHREZI

Menggerakkan Potensi Lokal: KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh dengan Pendekatan ABCD Pembangunan desa selama ini masih sering dipahami dari sudut pandang kekurangan. Desa kerap digambarkan sebagai wilayah dengan fasilitas terbatas, sumber daya manusia yang belum optimal, serta keterbatasan akses terhadap program pemberdayaan dan peluang ekonomi. Cara pandang tersebut secara tidak langsung menempatkan desa sebagai objek pembangunan yang pasif dan bergantung pada bantuan dari luar. Akibatnya, potensi yang sebenarnya telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat sering kali luput dari perhatian. Padahal, setiap desa memiliki kekuatan lokal yang lahir dari aktivitas warganya sehari-hari, hubungan sosial yang terjalin, lembaga-lembaga komunitas yang terus berjalan, serta berbagai bentuk usaha ekonomi yang tumbuh secara mandiri. Potensi tersebut tidak selalu terlihat dalam bentuk fasilitas fisik yang besar, melainkan tersimpan dalam keterampilan warga, kebiasaan gotong royong, semangat belajar anak-anak, kepedulian keluarga terhadap kesehatan, serta kreativitas pelaku usaha lokal. Apabila potensi ini dikenali, dipetakan, dan dikembangkan secara bersama, desa memiliki modal sosial dan ekonomi yang kuat untuk membangun kesejahteraan warganya secara berkelanjutan. Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, memperlihatkan bahwa pembangunan berbasis potensi lokal dapat diwujudkan melalui pendekatan yang tepat. Melalui kerangka Asset Based Community Development (ABCD) yang dikembangkan oleh LP2M, mahasiswa hadir bukan untuk membawa program siap pakai, melainkan memfasilitasi proses pengenalan dan penguatan aset yang telah dimiliki desa. Pendekatan ABCD memandang masyarakat sebagai pemilik utama sumber daya dan pengetahuan lokal. Dalam praktiknya, mahasiswa KKM berperan sebagai mitra dan fasilitator yang membantu warga menggali potensi, menghubungkan antar kelompok masyarakat, serta mendorong terbangunnya kolaborasi lintas sektor desa. Proses ini diawali dengan pengenalan kondisi desa, interaksi langsung dengan warga, diskusi bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, pengelola lembaga pendidikan, kader posyandu, pemuda Karang Taruna, serta pelaku UMKM. Melalui dialog dan keterlibatan langsung, mahasiswa memperoleh gambaran bahwa Desa Sengguruh memiliki banyak aset sosial, pendidikan, kesehatan, budaya, dan ekonomi yang dapat saling mendukung apabila dikelola secara terpadu. Pendidikan Anak dan TPQ sebagai Aset Sosial yang Hidup Salah satu aset penting yang dimiliki Desa Sengguruh adalah keberadaan lembaga pendidikan formal dan nonformal yang aktif dan mendapatkan dukungan masyarakat. Kegiatan asistensi mengajar yang dilaksanakan di SDN Sengguruh menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kreativitas, dan kepercayaan diri anak-anak. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa mendampingi guru dalam proses pembelajaran dengan menerapkan metode yang lebih interaktif, seperti diskusi kelompok, permainan edukatif, dan praktik sederhana yang melibatkan siswa secara langsung. Anak-anak terlihat antusias mengikuti setiap kegiatan, berani bertanya, serta aktif menyampaikan pendapat. Respons positif ini menunjukkan bahwa minat belajar dan rasa ingin tahu anak-anak di Desa Sengguruh merupakan aset sosial yang sangat berharga. Selain di sekolah, kegiatan pendampingan juga dilaksanakan di TPQ Nurul Huda. TPQ berperan sebagai ruang pendidikan keagamaan sekaligus pembentukan sikap disiplin, kebersamaan, dan tanggung jawab. Anak-anak mengikuti kegiatan mengaji dengan penuh semangat, sementara mahasiswa membantu dalam penguatan bacaan, hafalan, serta penyampaian nilai-nilai akhlak sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Keberadaan SDN Sengguruh dan TPQ Nurul Huda memperlihatkan bahwa lembaga pendidikan di desa tidak hanya berfungsi sebagai penyelenggara pembelajaran, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial anak-anak dan orang tua. Sekolah dan TPQ menjadi titik temu antara pendidik, keluarga, dan masyarakat. Dengan pendampingan yang berkelanjutan serta dukungan dari berbagai pihak desa, lembaga pendidikan ini berpotensi menjadi pusat pengembangan generasi muda yang kreatif, berkarakter, religius, dan adaptif terhadap perubahan. Posyandu dan Edukasi Keluarga sebagai Aset Kesehatan yang Efektif Di bidang kesehatan, Desa Sengguruh memiliki jaringan posyandu yang aktif dan didukung oleh kader-kader yang berperan langsung dalam pelayanan masyarakat. Pelaksanaan kegiatan posyandu selama empat hari menunjukkan tingginya partisipasi warga, khususnya ibu-ibu yang membawa balita untuk melakukan penimbangan, pemantauan tumbuh kembang, serta konsultasi kesehatan. Selain pelayanan rutin, mahasiswa KKM turut berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi kesehatan dan edukasi parenting. Materi yang disampaikan meliputi pentingnya pemenuhan gizi seimbang, pola asuh yang mendukung perkembangan anak, pencegahan penyakit ringan di lingkungan keluarga, serta peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental dan emosional anak. Penyampaian dilakukan secara komunikatif dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat, sehingga lebih mudah dipahami dan diterima. Posyandu di Desa Sengguruh tidak hanya berfungsi sebagai layanan kesehatan dasar, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama bagi keluarga. Interaksi antara kader, mahasiswa, dan warga membentuk proses pertukaran pengetahuan yang sederhana namun bermakna. Melalui pendekatan ABCD, keberadaan kader posyandu, PKK, serta jaringan ibu-ibu desa dipandang sebagai aset sosial yang mampu menyebarluaskan informasi kesehatan secara berkelanjutan. Dengan memanfaatkan jejaring yang sudah ada, edukasi kesehatan tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi dapat diteruskan melalui pertemuan rutin, kegiatan PKK, dan interaksi informal antarwarga. Dampaknya dirasakan langsung oleh unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sebagai fondasi utama pembangunan kualitas sumber daya manusia desa. UMKM Lokal dan Penguatan Ekonomi Desa Desa Sengguruh memiliki potensi ekonomi lokal yang cukup beragam. Beberapa UMKM telah berjalan secara mandiri, seperti usaha batik, produksi keripik tempe, dan pembuatan sepatu. Usaha-usaha ini menunjukkan kemampuan warga dalam mengelola keterampilan, bahan lokal, dan jaringan pemasaran sederhana. Namun, salah satu aset ekonomi sekaligus budaya yang paling menonjol adalah Rumah Topeng Desa Sengguruh. Rumah Topeng tidak hanya berperan sebagai tempat produksi topeng tradisional, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya desa yang merepresentasikan nilai seni, sejarah, dan kearifan lokal. Keberadaan Rumah Topeng menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar desa, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Mahasiswa KKM mendampingi pengelola UMKM, khususnya Rumah Topeng, melalui kegiatan penataan ruang produksi, perbaikan tampilan visual, serta diskusi mengenai strategi promosi sederhana. Pendampingan ini menekankan bahwa penguatan usaha tidak selalu membutuhkan modal besar, tetapi dapat dimulai dari perbaikan tata ruang, dokumentasi produk yang lebih menarik, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Melalui proses tersebut, pengelola UMKM memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya tampilan produk, cerita di balik produk lokal, serta potensi pasar yang dapat dijangkau secara lebih luas. Dengan dukungan berbasis aset dan kreativitas lokal, UMKM di Desa Sengguruh memiliki peluang untuk meningkatkan daya saing, memperluas jaringan pemasaran, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Kohesi Sosial dan Balai Desa sebagai Pusat Aktivitas Masyarakat Selain aset pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, Desa Sengguruh juga memiliki kekuatan sosial yang tercermin melalui aktivitas pemuda dan keberfungsian balai desa. Kegiatan kerja bakti yang melibatkan pemuda Karang Taruna menjadi contoh nyata semangat gotong royong yang masih terjaga. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi ruang interaksi antarwarga lintas usia. Pemuda desa menunjukkan peran aktif dalam mendukung berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan. Keterlibatan mereka menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan program desa, sekaligus sebagai calon penggerak pembangunan desa di masa depan. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi berbagai kegiatan masyarakat. Berbagai program KKM, seperti sosialisasi kesehatan, pertemuan UMKM, diskusi bersama perangkat desa, hingga kegiatan komunitas pemuda, dilaksanakan di balai desa. Keberadaan balai desa sebagai ruang publik memungkinkan terbangunnya komunikasi yang terbuka, partisipasi warga, serta proses pengambilan keputusan yang lebih inklusif. Pemanfaatan balai desa dan jejaring sosial yang telah terbentuk membuat setiap kegiatan saling terhubung dan berjalan lebih efektif. Rasa memiliki terhadap program desa pun semakin kuat, sehingga ketergantungan terhadap bantuan eksternal dapat secara perlahan dikurangi. ABCD sebagai Kerangka Pemberdayaan Desa Pendekatan ABCD dari LP2M menjadi landasan utama bagi KKM Reguler Kelompok 82 dalam merancang seluruh kegiatan di Desa Sengguruh. Fokus utama pendekatan ini adalah mengidentifikasi dan mengoptimalkan aset yang sudah ada, baik berupa aset individu, kelompok, lembaga, maupun fasilitas desa. Mahasiswa berperan sebagai penghubung antar aset agar dapat saling mendukung. Edukasi parenting di posyandu dapat dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran karakter di sekolah dan TPQ. Promosi UMKM dan Rumah Topeng dapat terintegrasi dengan pemanfaatan balai desa sebagai pusat informasi dan ruang pamer. Kegiatan kerja bakti dan peran pemuda Karang Taruna memperkuat kohesi sosial yang menjadi landasan keberlanjutan program-program tersebut. Melalui integrasi ini, masyarakat mulai melihat bahwa setiap kelompok dan lembaga di desa memiliki peran yang saling melengkapi. Desa Sengguruh tidak lagi diposisikan sebagai penerima program, tetapi sebagai subjek pembangunan yang memiliki kapasitas untuk menentukan arah, prioritas, dan bentuk pengembangan desanya sendiri. Penutup Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi menunjukkan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan berangkat dari kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengelola, dan merawat potensi yang telah dimiliki. Desa Sengguruh membuktikan bahwa aset manusia, sosial, ekonomi, budaya, dan kelembagaan dapat saling terhubung untuk menghasilkan perubahan yang nyata. Anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi, ibu-ibu yang semakin peduli terhadap kesehatan keluarga, UMKM kreatif terutama Rumah Topeng sebagai ikon budaya desa, pemuda yang aktif dalam kegiatan sosial, serta balai desa yang berfungsi sebagai pusat aktivitas masyarakat, menjadi fondasi penting bagi masa depan Desa Sengguruh yang mandiri dan berdaya. Pembangunan desa tidak lagi semata-mata dipahami sebagai upaya memperbaiki kekurangan, tetapi sebagai proses menggerakkan, menghubungkan, dan mengembangkan kekuatan lokal agar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Melalui kolaborasi antara warga, pemerintah desa, dan mahasiswa KKM, Desa Sengguruh memiliki modal sosial yang kuat untuk melanjutkan praktik pembangunan yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan.

Thumbnail
8 months ago
Pelatihan penyuluhan Jenazah

IRFAN NAWAWI

Kegiatan penyuluhan perawatan jenazah diselenggarakan oleh Kelompok KKM Sarimi Adhiyaksa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bersama ibu-ibu Muslimat Kelurahan Jodipan pada Minggu, 11 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung di Masjid Roisiyah Kelurahan Jodipan, Kota Malang. Penyuluhan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai tata cara perawatan jenazah sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Materi yang disampaikan meliputi tahapan memandikan, mengkafani, hingga menshalatkan jenazah. Pelaksanaan kegiatan berlangsung secara interaktif melalui pemaparan materi dan sesi diskusi. Para peserta tidak hanya menyimak penjelasan, tetapi juga aktif mengajukan pertanyaan terkait praktik perawatan jenazah yang kerap dijumpai di lingkungan sekitar.  

Thumbnail
8 months ago
CJH yang baik dan ramah bagi kami 1 kelompok

ABD HAFID

pada minggu pertama kami disambut hangat sama cjh bapak dan ibu,mereka sangat ramah dan tamah,selalu nurut apa yang kami minta,entah itu terkait pemeriksaan kesehatan yang kami minta buat data dan buat mengontrol kesehatan calon jamaah haji dan membantu mempersiapkan isthitaah dan selalu memberikan kami makan ketika berkunjung di rumah cjh.pada hari kedua juga sama kami memberikan sebuah edukasi kecil yaitu berupa poster,buku saku serta boklet kournaling buat membantu minum obat secara konsisten,kami juga disuguhi makanan dan minuman serta suasana yang hangat.pada hari ketiga pun sama kami melakukan olahraga jalan di pagi hari dengan menghitunng jaraknya berapa km dengan cjh bapak dan ibu terlihat mereka sangat senang melakukannya,serta kami lagi-lagi disuguhi makanan lagi.minggu ke empat kami berkunjung sekalian berolahraga jalan sehat lagi kali ini lebih jauh jaraknya dan lebih lama waktunya,kami dibelikan susu kedelai di jalan dan diberikan cemilan waktu sampai di rumah calon jamaah hajinya,kami melakukan pemeriksaan kesehatan yang terakhir dan melakukan post tes utnu melihat bagaimana pengetahuan CJH selama dipantau kami,kami disana juga diberika makanan dan minuman.pada minggu kelima kami kunjungan,kami melakukan wawancara kesan pesan terhadap cjh bapak dan ibu dalam KKM yang kami lakukan selama 4 kali pertemuan dan sekaligus pamitan kepada calon jamaah haji bapak dan ibu.terimakasih kepada calon jamaah haji dan ibu telah menerima kami dengan hangat dan baik

Thumbnail
8 months ago
Mengenal Tradisi Nyongkolan di Lombok: Prosesi Pernikahan Adat Suku Sasak

DAFFA ZAKI FIRMANSYAH

*KKM 164 Mengenal Tradisi Nyongkolan di Lombok: Prosesi Pernikahan Adat Suku Sasak*   Lombok bukan hanya terkenal dengan pantai-pantainya yang indah atau keanggunan Gunung Rinjani. Ketika kamu mengunjungi Pulau Seribu Masjid dan menemukan kemacetan karena iring-iringan pengantin yang disertai musik tradisional yang meriah, selamat! Kamu sedang melihat Nyongkolan.   Nyongkolan merupakan puncak dari serangkaian upacara pernikahan adat suku Sasak yang penuh warna, suara ,dan filosofi mendalam. Mari kita eksplorasi lebih lanjut tentang tradisi yang menarik ini.   Secara harfiah, istilah Nyongkolan berasal dari kata "songkol" yang berarti mengantar atau mendatangi. Ini adalah acara di mana pengantin pria (Silaq) mendampingi pengantin wanita (Dende) kembali ke rumah orang tuanya setelah beberapa hari proses "penculikan" yang disebut Merariq. Tujuan dari prosesi ini sangat mulia: untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat bahwa kedua mempelai telah sah sebagai suami istri, serta menjadi kesempatan bersilaturahmi antar keluarga besar.   Tahapan dan Elemen Unik dalam Nyongkolan 1. Iring-iringan Budaya Kedua mempelai berjalan layaknya raja dan ratu (Datu dan Putri). Mereka mengenakan pakaian tradisional Sasak yang disebut Lambung untuk wanita dan Sapuk (ikat kepala) untuk pria. 2. Gendang Beleq Ini adalah inti dari kemeriahan Nyongkolan. Gendang Beleq adalah ansambel musik perkusi tradisional yang dimainkan oleh sekelompok pemuda. Suaranya yang penuh energi menambah semarak dan kesan megah pada acara tersebut. 3. Iringan Keluarga dan Tokoh Adat Di belakang mempelai, terdapat barisan keluarga besar dan tokoh masyarakat setempat. Para wanita sering menjunjung beberie (seserahan atau makanan) di atas kepala mereka dengan keseimbangan yang mengagumkan.   Nyongkolan mencerminkan kekayaan budaya Indonesia. Tradisi ini bukan sekadar upacara, tetapi juga penghubung antara dua keluarga melalui musik, tarian, dan langkah yang serasi. Jika kamu berkunjung ke Lombok, jangan lupa untuk menyaksikan prosesi ini secara langsung!

Thumbnail
8 months ago
Mengenal Tradisi Nyongkolan di Lombok: Prosesi Pernikahan Adat Suku Sasak

MUHAMMAD ABDILLAH RODHI

KKM 164 Mengenal Tradisi Nyongkolan di Lombok: Prosesi Pernikahan Adat Suku Sasak Lombok bukan hanya terkenal dengan pantai-pantainya yang indah atau keanggunan Gunung Rinjani. Ketika kamu mengunjungi Pulau Seribu Masjid dan menemukan kemacetan karena iring-iringan pengantin yang disertai musik tradisional yang meriah, selamat! Kamu sedang melihat Nyongkolan. Nyongkolan merupakan puncak dari serangkaian upacara pernikahan adat suku Sasak yang penuh warna, suara ,dan filosofi mendalam. Mari kita eksplorasi lebih lanjut tentang tradisi yang menarik ini. Secara harfiah, istilah Nyongkolan berasal dari kata "songkol" yang berarti mengantar atau mendatangi. Ini adalah acara di mana pengantin pria (Silaq) mendampingi pengantin wanita (Dende) kembali ke rumah orang tuanya setelah beberapa hari proses "penculikan" yang disebut Merariq. Tujuan dari prosesi ini sangat mulia: untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat bahwa kedua mempelai telah sah sebagai suami istri, serta menjadi kesempatan bersilaturahmi antar keluarga besar. Tahapan dan Elemen Unik dalam Nyongkolan 1. Iring-iringan Budaya Kedua mempelai berjalan layaknya raja dan ratu (Datu dan Putri). Mereka mengenakan pakaian tradisional Sasak yang disebut Lambung untuk wanita dan Sapuk (ikat kepala) untuk pria. 2. Gendang Beleq Ini adalah inti dari kemeriahan Nyongkolan. Gendang Beleq adalah ansambel musik perkusi tradisional yang dimainkan oleh sekelompok pemuda. Suaranya yang penuh energi menambah semarak dan kesan megah pada acara tersebut. 3. Iringan Keluarga dan Tokoh Adat Di belakang mempelai, terdapat barisan keluarga besar dan tokoh masyarakat setempat. Para wanita sering menjunjung beberie (seserahan atau makanan) di atas kepala mereka dengan keseimbangan yang mengagumkan. Nyongkolan mencerminkan kekayaan budaya Indonesia. Tradisi ini bukan sekadar upacara, tetapi juga penghubung antara dua keluarga melalui musik, tarian, dan langkah yang serasi. Jika kamu berkunjung ke Lombok, jangan lupa untuk menyaksikan prosesi ini secara langsung!