Thumbnail
8 months ago
Mahasiswa KKM Kelompok 54 Laksanakan Penanaman Bibit di Dusun Bendrong

AISSYA MEIDINA PUTRI

   Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 54 mengikuti salah satu program kerja berupa kegiatan penanaman bibit yang berlokasi di Dusun Bendrong, Desa Argosari, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung pelestarian lingkungan, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem hutan, serta mendukung program pemerintah di bidang pertanian dan lingkungan hidup. Kegiatan penanaman bibit ini dilaksanakan bekerja sama dengan berbagai pihak, antara lain Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kecamatan Jabung, Yayasan Rodhotul Mutolibin Argosari, LAZISNU Ranting Dusun Bendrong, serta didukung oleh pemerintah desa, Muspika Kecamatan Jabung, Perhutani, Koramil, dan perwakilan DPRD Kabupaten Malang. Bibit yang ditanam pada kegiatan ini adalah kopi robusta varietas prolifikatif yang berasal dari Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balitkopan) Jember. Pemilihan bibit ini disesuaikan dengan kondisi geografis Dusun Bendrong yang berada pada ketinggian sekitar 750 meter di atas permukaan laut (MDPL). Jumlah bibit yang ditanam pada kegiatan ini mencapai sekitar 1.500 bibit, sebagai bagian dari program peremajaan kopi robusta di kecamatan jabung

Thumbnail
8 months ago
Menggerakkan Potensi Lokal: KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh dengan Pendekatan ABCD

BAGAS ADI SAPUTRA

Menggerakkan Potensi Lokal: KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh dengan Pendekatan ABCD Pembangunan desa selama ini masih sering dipahami dari sudut pandang kekurangan. Desa kerap digambarkan sebagai wilayah dengan fasilitas terbatas, sumber daya manusia yang belum optimal, serta keterbatasan akses terhadap program pemberdayaan dan peluang ekonomi. Cara pandang tersebut secara tidak langsung menempatkan desa sebagai objek pembangunan yang pasif dan bergantung pada bantuan dari luar. Akibatnya, potensi yang sebenarnya telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat sering kali luput dari perhatian. Padahal, setiap desa memiliki kekuatan lokal yang lahir dari aktivitas warganya sehari-hari, hubungan sosial yang terjalin, lembaga-lembaga komunitas yang terus berjalan, serta berbagai bentuk usaha ekonomi yang tumbuh secara mandiri. Potensi tersebut tidak selalu terlihat dalam bentuk fasilitas fisik yang besar, melainkan tersimpan dalam keterampilan warga, kebiasaan gotong royong, semangat belajar anak-anak, kepedulian keluarga terhadap kesehatan, serta kreativitas pelaku usaha lokal. Apabila potensi ini dikenali, dipetakan, dan dikembangkan secara bersama, desa memiliki modal sosial dan ekonomi yang kuat untuk membangun kesejahteraan warganya secara berkelanjutan. Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, memperlihatkan bahwa pembangunan berbasis potensi lokal dapat diwujudkan melalui pendekatan yang tepat. Melalui kerangka Asset Based Community Development (ABCD) yang dikembangkan oleh LP2M, mahasiswa hadir bukan untuk membawa program siap pakai, melainkan memfasilitasi proses pengenalan dan penguatan aset yang telah dimiliki desa. Pendekatan ABCD memandang masyarakat sebagai pemilik utama sumber daya dan pengetahuan lokal. Dalam praktiknya, mahasiswa KKM berperan sebagai mitra dan fasilitator yang membantu warga menggali potensi, menghubungkan antar kelompok masyarakat, serta mendorong terbangunnya kolaborasi lintas sektor desa. Proses ini diawali dengan pengenalan kondisi desa, interaksi langsung dengan warga, diskusi bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, pengelola lembaga pendidikan, kader posyandu, pemuda Karang Taruna, serta pelaku UMKM. Melalui dialog dan keterlibatan langsung, mahasiswa memperoleh gambaran bahwa Desa Sengguruh memiliki banyak aset sosial, pendidikan, kesehatan, budaya, dan ekonomi yang dapat saling mendukung apabila dikelola secara terpadu. Pendidikan Anak dan TPQ sebagai Aset Sosial yang Hidup Salah satu aset penting yang dimiliki Desa Sengguruh adalah keberadaan lembaga pendidikan formal dan nonformal yang aktif dan mendapatkan dukungan masyarakat. Kegiatan asistensi mengajar yang dilaksanakan di SDN Sengguruh menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kreativitas, dan kepercayaan diri anak-anak. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa mendampingi guru dalam proses pembelajaran dengan menerapkan metode yang lebih interaktif, seperti diskusi kelompok, permainan edukatif, dan praktik sederhana yang melibatkan siswa secara langsung. Anak-anak terlihat antusias mengikuti setiap kegiatan, berani bertanya, serta aktif menyampaikan pendapat. Respons positif ini menunjukkan bahwa minat belajar dan rasa ingin tahu anak-anak di Desa Sengguruh merupakan aset sosial yang sangat berharga. Selain di sekolah, kegiatan pendampingan juga dilaksanakan di TPQ Nurul Huda. TPQ berperan sebagai ruang pendidikan keagamaan sekaligus pembentukan sikap disiplin, kebersamaan, dan tanggung jawab. Anak-anak mengikuti kegiatan mengaji dengan penuh semangat, sementara mahasiswa membantu dalam penguatan bacaan, hafalan, serta penyampaian nilai-nilai akhlak sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Keberadaan SDN Sengguruh dan TPQ Nurul Huda memperlihatkan bahwa lembaga pendidikan di desa tidak hanya berfungsi sebagai penyelenggara pembelajaran, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial anak-anak dan orang tua. Sekolah dan TPQ menjadi titik temu antara pendidik, keluarga, dan masyarakat. Dengan pendampingan yang berkelanjutan serta dukungan dari berbagai pihak desa, lembaga pendidikan ini berpotensi menjadi pusat pengembangan generasi muda yang kreatif, berkarakter, religius, dan adaptif terhadap perubahan. Posyandu dan Edukasi Keluarga sebagai Aset Kesehatan yang Efektif Di bidang kesehatan, Desa Sengguruh memiliki jaringan posyandu yang aktif dan didukung oleh kader-kader yang berperan langsung dalam pelayanan masyarakat. Pelaksanaan kegiatan posyandu selama empat hari menunjukkan tingginya partisipasi warga, khususnya ibu-ibu yang membawa balita untuk melakukan penimbangan, pemantauan tumbuh kembang, serta konsultasi kesehatan. Selain pelayanan rutin, mahasiswa KKM turut berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi kesehatan dan edukasi parenting. Materi yang disampaikan meliputi pentingnya pemenuhan gizi seimbang, pola asuh yang mendukung perkembangan anak, pencegahan penyakit ringan di lingkungan keluarga, serta peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental dan emosional anak. Penyampaian dilakukan secara komunikatif dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat, sehingga lebih mudah dipahami dan diterima. Posyandu di Desa Sengguruh tidak hanya berfungsi sebagai layanan kesehatan dasar, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama bagi keluarga. Interaksi antara kader, mahasiswa, dan warga membentuk proses pertukaran pengetahuan yang sederhana namun bermakna. Melalui pendekatan ABCD, keberadaan kader posyandu, PKK, serta jaringan ibu-ibu desa dipandang sebagai aset sosial yang mampu menyebarluaskan informasi kesehatan secara berkelanjutan. Dengan memanfaatkan jejaring yang sudah ada, edukasi kesehatan tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi dapat diteruskan melalui pertemuan rutin, kegiatan PKK, dan interaksi informal antarwarga. Dampaknya dirasakan langsung oleh unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sebagai fondasi utama pembangunan kualitas sumber daya manusia desa. UMKM Lokal dan Penguatan Ekonomi Desa Desa Sengguruh memiliki potensi ekonomi lokal yang cukup beragam. Beberapa UMKM telah berjalan secara mandiri, seperti usaha batik, produksi keripik tempe, dan pembuatan sepatu. Usaha-usaha ini menunjukkan kemampuan warga dalam mengelola keterampilan, bahan lokal, dan jaringan pemasaran sederhana. Namun, salah satu aset ekonomi sekaligus budaya yang paling menonjol adalah Rumah Topeng Desa Sengguruh. Rumah Topeng tidak hanya berperan sebagai tempat produksi topeng tradisional, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya desa yang merepresentasikan nilai seni, sejarah, dan kearifan lokal. Keberadaan Rumah Topeng menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar desa, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Mahasiswa KKM mendampingi pengelola UMKM, khususnya Rumah Topeng, melalui kegiatan penataan ruang produksi, perbaikan tampilan visual, serta diskusi mengenai strategi promosi sederhana. Pendampingan ini menekankan bahwa penguatan usaha tidak selalu membutuhkan modal besar, tetapi dapat dimulai dari perbaikan tata ruang, dokumentasi produk yang lebih menarik, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Melalui proses tersebut, pengelola UMKM memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya tampilan produk, cerita di balik produk lokal, serta potensi pasar yang dapat dijangkau secara lebih luas. Dengan dukungan berbasis aset dan kreativitas lokal, UMKM di Desa Sengguruh memiliki peluang untuk meningkatkan daya saing, memperluas jaringan pemasaran, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Kohesi Sosial dan Balai Desa sebagai Pusat Aktivitas Masyarakat Selain aset pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, Desa Sengguruh juga memiliki kekuatan sosial yang tercermin melalui aktivitas pemuda dan keberfungsian balai desa. Kegiatan kerja bakti yang melibatkan pemuda Karang Taruna menjadi contoh nyata semangat gotong royong yang masih terjaga. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi ruang interaksi antarwarga lintas usia. Pemuda desa menunjukkan peran aktif dalam mendukung berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan. Keterlibatan mereka menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan program desa, sekaligus sebagai calon penggerak pembangunan desa di masa depan. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi berbagai kegiatan masyarakat. Berbagai program KKM, seperti sosialisasi kesehatan, pertemuan UMKM, diskusi bersama perangkat desa, hingga kegiatan komunitas pemuda, dilaksanakan di balai desa. Keberadaan balai desa sebagai ruang publik memungkinkan terbangunnya komunikasi yang terbuka, partisipasi warga, serta proses pengambilan keputusan yang lebih inklusif. Pemanfaatan balai desa dan jejaring sosial yang telah terbentuk membuat setiap kegiatan saling terhubung dan berjalan lebih efektif. Rasa memiliki terhadap program desa pun semakin kuat, sehingga ketergantungan terhadap bantuan eksternal dapat secara perlahan dikurangi. ABCD sebagai Kerangka Pemberdayaan Desa Pendekatan ABCD dari LP2M menjadi landasan utama bagi KKM Reguler Kelompok 82 dalam merancang seluruh kegiatan di Desa Sengguruh. Fokus utama pendekatan ini adalah mengidentifikasi dan mengoptimalkan aset yang sudah ada, baik berupa aset individu, kelompok, lembaga, maupun fasilitas desa. Mahasiswa berperan sebagai penghubung antar aset agar dapat saling mendukung. Edukasi parenting di posyandu dapat dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran karakter di sekolah dan TPQ. Promosi UMKM dan Rumah Topeng dapat terintegrasi dengan pemanfaatan balai desa sebagai pusat informasi dan ruang pamer. Kegiatan kerja bakti dan peran pemuda Karang Taruna memperkuat kohesi sosial yang menjadi landasan keberlanjutan program-program tersebut. Melalui integrasi ini, masyarakat mulai melihat bahwa setiap kelompok dan lembaga di desa memiliki peran yang saling melengkapi. Desa Sengguruh tidak lagi diposisikan sebagai penerima program, tetapi sebagai subjek pembangunan yang memiliki kapasitas untuk menentukan arah, prioritas, dan bentuk pengembangan desanya sendiri. Penutup Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi menunjukkan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan berangkat dari kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengelola, dan merawat potensi yang telah dimiliki. Desa Sengguruh membuktikan bahwa aset manusia, sosial, ekonomi, budaya, dan kelembagaan dapat saling terhubung untuk menghasilkan perubahan yang nyata. Anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi, ibu-ibu yang semakin peduli terhadap kesehatan keluarga, UMKM kreatif terutama Rumah Topeng sebagai ikon budaya desa, pemuda yang aktif dalam kegiatan sosial, serta balai desa yang berfungsi sebagai pusat aktivitas masyarakat, menjadi fondasi penting bagi masa depan Desa Sengguruh yang mandiri dan berdaya. Pembangunan desa tidak lagi semata-mata dipahami sebagai upaya memperbaiki kekurangan, tetapi sebagai proses menggerakkan, menghubungkan, dan mengembangkan kekuatan lokal agar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Melalui kolaborasi antara warga, pemerintah desa, dan mahasiswa KKM, Desa Sengguruh memiliki modal sosial yang kuat untuk melanjutkan praktik pembangunan yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan.

Thumbnail
8 months ago
Mengabdi dengan Hati: Perjalanan KKM 74 Sukma Warih Bersama Masyarakat Wonosari

M. FAIQ RAFII WAHYUDI

Program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 74 Sukma Warih Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dilaksanakan di Desa Wonosari, Kabupaten Malang, sebagai bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Kegiatan ini dirancang secara sistematis, dimulai dari tahap persiapan, survei, perencanaan, hingga pelaksanaan dan penutupan program. Seluruh rangkaian kegiatan berfokus pada pengembangan potensi desa, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan nilai pendidikan, sosial, keagamaan, kesehatan, lingkungan, dan ekonomi secara berkelanjutan. Tahap awal kegiatan KKM diawali dengan meet perdana kelompok yang dilaksanakan secara offline pada 5 Desember 2025. Pertemuan ini menjadi momentum awal bagi seluruh anggota untuk membangun komunikasi, kekompakan, serta menyamakan visi dan tujuan KKM. Dalam pertemuan tersebut, kelompok menetapkan struktur kepengurusan, pembagian tugas setiap divisi, serta menyepakati nama kelompok KKM 74 Sukma Warih. Selain itu, dibahas pula rencana kerja awal, persiapan administrasi, pembuatan atribut KKM, serta pembentukan media komunikasi dan media sosial sebagai identitas kelompok. Sebagai tindak lanjut persiapan, kelompok KKM melaksanakan pertemuan dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Bapak Romi, pada 9 Desember 2025. Dalam pertemuan tersebut, DPL memberikan arahan penting agar mahasiswa tidak merancang program yang sepenuhnya baru, melainkan mengembangkan potensi desa yang telah ada agar lebih berkelanjutan. Arahan ini menjadi landasan utama dalam penyusunan seluruh program kerja KKM. Mahasiswa juga diarahkan untuk melakukan survei lapangan secara bertahap guna mengenal kondisi desa, tokoh masyarakat, serta potensi yang dapat dikembangkan. Survei pertama dilaksanakan pada 13 Desember 2025 di Kantor Desa Wonosari. Dalam kegiatan ini, mahasiswa melakukan koordinasi awal dengan staf desa untuk memperoleh gambaran umum mengenai kondisi desa, jumlah dusun, keberadaan TPQ, potensi pendidikan dan ekonomi, serta riwayat program KKM sebelumnya. Meskipun kepala desa dan kepala dusun berhalangan hadir, koordinasi berjalan dengan baik dan menghasilkan berbagai informasi penting sebagai dasar penyusunan program kerja yang realistis dan sesuai kebutuhan masyarakat. Hasil survei kemudian dibahas dalam rapat koordinasi online pada 14 Desember 2025. Rapat ini membahas penentuan dusun fokus KKM, pemilihan lokasi posko putra dan putri, progres persuratan ke lembaga pendidikan dan masyarakat, serta perumusan gambaran awal program kerja. Dalam rapat ini juga dirancang program-program utama KKM yang meliputi bidang pendidikan, kesehatan, keagamaan, sosial, lingkungan, UMKM, dan digitalisasi desa. Survei kedua dilaksanakan pada 18 Desember 2025 dengan melibatkan Kepala Dusun Wonosari. Dalam pertemuan ini, disepakati bahwa pelaksanaan KKM difokuskan pada satu dusun agar program dapat berjalan lebih efektif dan berdampak nyata. Berbagai program kerja diajukan dan disetujui, antara lain pendampingan posyandu dan pencegahan stunting, kegiatan pendidikan di SD dan TPQ, kegiatan keagamaan, pendampingan UMKM dan sertifikasi halal, pengelolaan lingkungan, serta pengaktifan website desa dan pembaruan database. Pada hari yang sama, mahasiswa juga melakukan survei ke SD Islam Kyai Zakariya untuk mengurus perizinan mengajar serta melakukan pencarian posko KKM. Setelah seluruh persiapan matang, mahasiswa KKM 74 mengikuti kegiatan pelepasan KKM Gelombang I Tahun Akademik 2025/2026 pada 23 Desember 2025 di Kampus UIN Malang. Kegiatan ini menjadi simbol dimulainya pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat. Usai pelepasan, mahasiswa langsung berangkat menuju Desa Wonosari untuk memulai seluruh rangkaian kegiatan KKM. Sebagai langkah awal di desa, mahasiswa melaksanakan sowan dan koordinasi dengan Kepala Dusun Wonosari untuk membahas teknis pembukaan KKM serta pemetaan lanjutan program kerja. Hasil koordinasi ini menghasilkan kesepakatan terkait jadwal pembukaan, pihak-pihak yang akan diundang, serta penguatan kerja sama dengan tokoh agama, PKK, TPQ, dan lembaga desa lainnya. Kegiatan ini menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan yang harmonis antara mahasiswa dan masyarakat. Kegiatan pembukaan KKM secara resmi dilaksanakan pada 29 Desember 2025 di Balai Desa Wonosari. Acara berlangsung khidmat dan dihadiri oleh perangkat desa, Kepala Dusun, Dosen Pembimbing Lapangan, serta mahasiswa KKM. Dalam sambutannya, pihak desa menyampaikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan KKM, sementara DPL menekankan pentingnya menjaga etika, memahami budaya lokal, serta menyesuaikan program dengan kondisi masyarakat desa. Dalam pelaksanaan program kerja, mahasiswa KKM 74 Sukma Warih aktif di berbagai bidang. Di bidang pendidikan, mahasiswa mengajar di SD Islam Kyai Zakariya dan TPQ Nurul Hidayah. Kegiatan meliputi pendampingan belajar di kelas, bimbingan membaca Al-Qur’an, hafalan surat pendek, pembelajaran tajwid, serta bimbingan belajar tambahan. Selain itu, mahasiswa juga melakukan penataan ulang perpustakaan sekolah agar lebih rapi dan mudah diakses, meluncurkan mading 3D bertema Stop Bullying, serta membantu pembuatan website sekolah dan sistem pendaftaran siswa secara online. Mahasiswa juga melaksanakan kegiatan sosialisasi bullying dan edukasi seksual di SD Islam Kyai Zakariya. Kegiatan ini diawali dengan senam bersama, dilanjutkan dengan edukasi interaktif mengenai bahaya bullying, pentingnya saling menghargai, serta pemahaman batasan tubuh dan pergaulan yang disesuaikan dengan usia siswa. Kegiatan ini mendapat respons positif dari siswa dan guru karena disampaikan dengan metode yang komunikatif dan menyenangkan. Di bidang kesehatan, mahasiswa KKM terlibat aktif dalam berbagai kegiatan posyandu di wilayah Sumbersari, Urek-Urek, dan Depok. Mahasiswa membantu pemeriksaan kesehatan balita, ibu hamil, dan lansia, seperti pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar lengan, tensi darah, dan pemeriksaan gula darah. Selain itu, mahasiswa turut mendukung program pencegahan stunting melalui edukasi gizi dan pemberian makanan tambahan kepada warga. Dalam bidang keagamaan dan sosial budaya, mahasiswa KKM mengikuti kegiatan tahlilan rutin, istighotsah, serta berbagai kegiatan keagamaan masyarakat. Mahasiswa juga menyelenggarakan Semarak Lomba Isra’ Mi’raj di TPQ Nurul Hidayah sebagai upaya menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap nilai-nilai keislaman. Selain itu, mahasiswa terlibat dalam kegiatan budaya di Padepokan Eyang Djoego dan Pesarean Gunung Kawi, termasuk kegiatan Senin Pahing, bincang budaya bersama juru kunci, serta partisipasi dalam perayaan Tahun Baru dan Imlek. Pada bidang lingkungan, mahasiswa melaksanakan program pembuatan dan pembagian tempat sampah organik dan anorganik di SD Islam Kyai Zakariya serta memberikan edukasi pemilahan sampah kepada siswa. Mahasiswa juga berkontribusi dalam kerja bakti lingkungan, pengelolaan sampah, serta pembuatan fasilitas publik berupa plang dan tiang lampu multifungsi sebagai penunjuk arah dan penerangan desa. Dalam upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat, mahasiswa KKM menyelenggarakan sosialisasi dan pendampingan pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) serta sertifikasi halal bekerja sama dengan Halal Center UIN Malang. Selain itu, mahasiswa melakukan kunjungan dan pendampingan langsung ke beberapa UMKM, seperti usaha jamu tradisional dan Bolen 88, untuk membantu persiapan sertifikasi halal serta memberikan wawasan terkait pengembangan usaha. Menjelang akhir kegiatan, mahasiswa melaksanakan sowan dan pamitan ke berbagai tokoh masyarakat, lembaga desa, PKK, TPQ, posyandu, dan yayasan sebagai bentuk silaturahmi dan ucapan terima kasih. Mahasiswa juga mengikuti tahlilan dan istighotsah terakhir bersama warga. Seluruh rangkaian KKM kemudian ditutup secara resmi dalam acara penutupan KKM di Balai Desa Wonosari pada 3 Februari 2026, yang dihadiri oleh perangkat desa, DPL, dan masyarakat. Sebagai penutup kegiatan, mahasiswa KKM 74 Sukma Warih melaksanakan penutupan mandiri berupa kegiatan kebersamaan sebagai refleksi dan penguatan ikatan antaranggota. Seluruh rangkaian kegiatan KKM ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam belajar hidup bermasyarakat, menumbuhkan empati, serta mengimplementasikan ilmu pengetahuan secara nyata. Diharapkan seluruh program yang telah dilaksanakan dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Desa Wonosari serta menjadi bekal berharga bagi mahasiswa di masa mendatang.

Thumbnail
8 months ago
Rumah Belajar KKM Ganiswara 64: Datang Bawa Tugas, Pulang Bawa Ilmu Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Rumah Belajar KKM Ganiswara 64: Datang Bawa Tugas, Pulang Bawa Ilmu", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/ganiswara0838/

BAHREVY AHMAD NUR HAZIMI

Program kerja Rumah Belajar merupakan salah satu bentuk pengabdian KKM Ganiswara Kelompok 64 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam bidang pendidikan. Program ini dirancang sebagai wadah bimbingan belajar bagi anak-anak sekolah dasar di lingkungan sekitar posko KKM. Rumah Belajar hadir untuk membantu anak-anak dalam memahami materi pelajaran sekolah sekaligus menumbuhkan semangat belajar yang berkelanjutan. Kegiatan Rumah Belajar dilaksanakan secara rutin setiap malam di posko KKM. Anak-anak datang dengan penuh antusias sambil membawa buku pelajaran, tugas sekolah, maupun materi yang belum mereka pahami. Suasana belajar dibuat santai namun tetap kondusif, sehingga anak-anak merasa nyaman dan tidak tertekan dalam proses pembelajaran. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM berperan sebagai pendamping belajar yang membantu menjelaskan materi pelajaran secara sederhana dan mudah dipahami. Mahasiswa membimbing anak-anak satu per satu sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pemahaman masing-masing. Pendekatan ini dilakukan agar setiap anak dapat mengikuti pembelajaran dengan baik dan tidak merasa tertinggal. Selain membantu mengerjakan tugas sekolah, mahasiswa KKM juga memberikan arahan mengenai materi yang akan dipelajari di sekolah pada keesokan harinya. Anak-anak dibimbing untuk memahami konsep dasar terlebih dahulu, sehingga mereka lebih siap dan percaya diri saat mengikuti pelajaran di kelas. Dengan demikian, Rumah Belajar tidak hanya berfokus pada penyelesaian tugas, tetapi juga pada persiapan belajar jangka pendek. Program Rumah Belajar ini juga bertujuan untuk menanamkan kebiasaan belajar yang positif sejak dini. Anak-anak diajak untuk disiplin waktu, berani bertanya, dan aktif dalam proses belajar. Melalui interaksi yang intens antara mahasiswa dan anak-anak, terjalin hubungan yang hangat dan penuh motivasi, sehingga kegiatan belajar terasa lebih menyenangkan. Antusiasme anak-anak dan dukungan dari orang tua menjadi faktor penting dalam keberlangsungan program ini. Banyak orang tua merasa terbantu dengan adanya Rumah Belajar karena anak-anak mendapatkan pendampingan belajar di luar jam sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa program tersebut mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar posko KKM. Melalui program kerja Rumah Belajar, KKM Ganiswara Kelompok 64 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berharap dapat berkontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak sekolah dasar. Program ini menjadi wujud kepedulian mahasiswa terhadap dunia pendidikan serta sarana untuk mengaplikasikan ilmu yang dimiliki dalam kehidupan bermasyarakat. Diharapkan, Rumah Belajar dapat meninggalkan kesan dan manfaat yang berkelanjutan bagi anak-anak dan masyarakat setempat.

Thumbnail
8 months ago
Jejak Isra Mi’raj, Semangat Ibadah Menggema di Anak Soleh

APRILIA FIRDANI

Meski bel tanda pulang sudah berbunyi, semangat para siswa Sekolah Anak Soleh Full Day tak lantas meredup. Aula sekolah justru dipenuhi antusiasme saat peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW digelar dengan khidmat dan penuh keceriaan. Kegiatan peringatan Isra Mi'raj ini dilaksanakan pada tanggal 15 Januari 2026 pukul 14.00 WIB di Aula Sekolah Anak Soleh Full Day. Acara tersebut diikuti oleh siswa SD hingga SMP Anak Soleh Full Day, guru dan staf sekolah, serta siswa KKM UIN Malang Kelompok 128 yang ikut berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan. Peringatan ini menjadi bagian dari agenda rutin tahunan sekolah yang bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai keislaman, khususnya mengenalkan kembali perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menerima perintah shalat. Melalui kegiatan ini, sekolah berharap dapat menumbuhkan keimanan siswa serta membangun kebiasaan beribadah yang lebih disiplin sejak usia dini. Pelaksanaan kegiatan sengaja diadakan setelah kegiatan belajar mengajar (KBM) selesai, sehingga tidak mengganggu proses pembelajaran. Meski dilaksanakan pada sore hari, para siswa tetap menunjukkan semangat tinggi dan mengikuti seluruh rangkaian acara dengan penuh perhatian. Acara dibuka oleh Ustadzah Yhasmin selaku pembawa acara yang juga merupakan salah satu guru di sekolah tersebut. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh salah satu siswa SD Anak Soleh Full Day, menciptakan suasana khidmat sejak awal acara. Lebih lanjut, Ustadz Zhein, selaku Kepala Sekolah SMP Anak Soleh Full Day, menyampaikan berbagai tekanan pentingnya meneladani perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW sebagai penguat semangat ibadah, khususnya shalat lima waktu. Suasana kemudian semakin semarak dengan penampilan Dai Cilik oleh Tristan Alif, siswa kelas 4 SD, yang menyampaikan pesan keislaman dengan gaya polos namun penuh makna. Acara dilanjutkan dengan penampilan tim hadrah siswa SD, yang menghadirkan lantunan shalawat dan menambah kekhidmatan peringatan Isra Mi'raj. Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama, menandai berakhirnya acara yang sarat nilai spiritual dan edukatif. Melalui peringatan Isra Mi'raj ini, Sekolah Anak Soleh Full Day berharap semangat berdoa para siswa terus bertumbuh, seiring dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang makna perjalanan suci Nabi Muhammad SAW.

Thumbnail
8 months ago
Penutupan Kegiatan Mengajar KKM Nawasena 97 UIN Malang di SDN 1 Dengkol Dirangkai dengan Sosialisasi Gizi Seimbang bersama Yayasan Mandiri

MENTARI FATHIYAH RAMADHANI FAUZIE

Penutupan kegiatan mengajar di SD Negeri 1 Dengkol berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Kegiatan ini menjadi penanda berakhirnya rangkaian pendampingan pembelajaran yang telah dilaksanakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Nawasena 97 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Acara penutupan tersebut dirangkai dengan kegiatan sosialisasi gizi seimbang sebagai bentuk edukasi kesehatan bagi siswa sekolah dasar.   Kegiatan ini diikuti oleh siswa-siswi SDN 1 Dengkol, para guru, mahasiswa KKM Nawasena 97, serta relawan dari Yayasan Mandiri. Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan lancar dan mendapat sambutan positif dari pihak sekolah. Momen kebersamaan semakin terasa melalui sesi foto bersama yang menjadi simbol kolaborasi dan sinergi antarpihak yang terlibat. Selain sebagai penutup kegiatan mengajar, acara ini juga diisi dengan sosialisasi gizi seimbang yang bertujuan untuk menanamkan kesadaran pentingnya pola makan sehat sejak usia dini. Materi disampaikan secara sederhana dan interaktif, sehingga mudah dipahami oleh siswa. Anak-anak tampak antusias mengikuti kegiatan, terutama saat diajak berdiskusi mengenai kebiasaan makan sehat dan pentingnya menjaga kesehatan tubuh. Melalui kegiatan sosialisasi ini, siswa diharapkan dapat memahami dasar-dasar gizi seimbang serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Edukasi kesehatan menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak, sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan sekolah. Kolaborasi antara mahasiswa KKM Nawasena 97 dan Yayasan Mandiri dalam kegiatan ini menjadi wujud nyata kontribusi bersama dalam mendukung dunia pendidikan dan kesehatan anak. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai upaya berkelanjutan dalam menciptakan generasi yang cerdas, sehat, dan berkarakter.