BENNY INDARSO
Selama mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), saya mendapatkan banyak pengalaman berharga yang sangat membantu dalam memperluas wawasan dan keterampilan sosial. Salah satu kegiatan yang paling berkesan bagi saya adalah keterlibatan langsung dalam pendampingan kesehatan calon jamaah haji (CJH). Dalam kegiatan ini, saya bersama tim membantu proses edukasi kesehatan, pengecekan kondisi fisik, serta memberikan pendampingan ringan kepada calon jamaah haji agar lebih siap secara jasmani dan rohani sebelum keberangkatan. Interaksi langsung dengan para calon jamaah memberikan pengalaman nyata tentang pentingnya peran mahasiswa dalam pengabdian masyarakat, khususnya di bidang kesehatan preventif. Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa persiapan haji bukan hanya soal administrasi, tetapi juga kesiapan fisik dan pemahaman kesehatan yang matang. Edukasi sederhana seperti menjaga pola makan, rutin berolahraga ringan, serta memahami dampak kebiasaan tertentu terhadap kesehatan sangat membantu kelancaran proses keberangkatan calon jamaah haji. Pengalaman ini tidak hanya menambah pengetahuan saya, tetapi juga melatih empati, komunikasi, dan tanggung jawab sosial. Kegiatan KKM ini menjadi momen penting yang mengajarkan bahwa kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat dapat memberikan manfaat nyata, sekaligus menjadi bekal berharga bagi pengembangan diri di masa depan.
AIDA SALIS KAMIILA
Salah satu momen berkesan selama kegiatan KKM bagi saya adalah saat melakukan pertemuan dan intervensi kesehatan bersama calon jemaah haji. Pada pertemuan ini, kami memberikan beberapa media edukasi kesehatan, di antaranya poster "Isi Piringku" sebagai panduan pola makan sehat, leaflet DAGUSIBU obat untuk meningkatkan pemahaman penggunaan obat yang benar, serta booklet journaling kesehatan yang berisi catatan aktivitas fisik, pola makan, dan pemantauan konsumsi obat. Selain itu, kami juga memberikan kotak obat praktis yang dapat dibawa ke mana saja untuk memudahkan penyimpanan obat harian. Calon jemaah haji yang kami temui menunjukkan antusiasme yang tinggi, bersikap kooperatif, dan sangat terbuka selama kegiatan berlangsung. Mereka aktif bertanya, berbagi pengalaman, serta dengan senang hati menerima setiap edukasi yang kami sampaikan. Bahkan, beliau-beliau sudah menganggap kami seperti anak sendiri, sehingga interaksi yang terjalin terasa akrab dan penuh kekeluargaan. Hal yang membuat pertemuan ini semakin berkesan adalah cerita-cerita beliau terkait pengalaman ibadah haji. Calon jemaah haji bercerita bahwa beliau telah menunaikan ibadah haji pertamanya pada tahun 1999. Dari cerita tersebut, kami banyak belajar mengenai persiapan fisik, mental, serta pentingnya menjaga kesehatan agar ibadah haji dapat berjalan dengan lancar dan khusyuk. Melalui kegiatan ini, saya menyadari bahwa edukasi kesehatan tidak hanya tentang menyampaikan materi, tetapi juga tentang membangun hubungan, saling mendengarkan, dan belajar dari pengalaman orang lain. Pertemuan ini menjadi pengalaman yang sangat berarti dan memberikan kesan mendalam selama pelaksanaan KKM.
UTARI IKA HABSARI
Kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) tidak hanya menjadi sarana pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa dalam memahami realitas kesehatan di tingkat individu dan keluarga. Hal tersebut tercermin dalam pendampingan kesehatan calon jamaah haji yang dilakukan selama program KKM fakultatif, salah satunya bersama Bu Alminah. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengenal calon jamaah haji secara lebih dekat, tidak hanya dari aspek klinis, tetapi juga dari keseharian dan kondisi sosial yang melingkupinya. Proses pendampingan memungkinkan mahasiswa memahami bagaimana rutinitas harian, keterbatasan waktu, serta kebiasaan hidup memengaruhi penerimaan dan keberhasilan intervensi kesehatan. Bu Alminah dan keluarga menyambut kegiatan pendampingan dengan sikap terbuka dan kooperatif. Sambutan yang hangat tersebut menjadi faktor penting dalam membangun hubungan yang baik antara mahasiswa dan calon jamaah haji. Hubungan yang terjalin secara personal dan kekeluargaan membuat proses edukasi kesehatan berjalan lebih efektif dan komunikatif. Selama pendampingan, mahasiswa memberikan edukasi kesehatan serta melakukan pemantauan kondisi fisik secara berkala. Hasil yang diperoleh menunjukkan capaian yang positif, salah satunya berupa penurunan berat badan pada Bu Alminah. Meskipun capaian ini masih memerlukan pemantauan lanjutan agar berkelanjutan, hasil tersebut menjadi indikator bahwa intervensi yang diberikan dapat diterima dan dijalankan dengan baik sesuai kemampuan dan kondisi sehari-hari calon jamaah haji. Lebih dari sekadar hasil numerik, keberhasilan pendampingan tercermin dari kesediaan Bu Alminah untuk menerima edukasi, menerapkan anjuran kesehatan, serta berpartisipasi aktif dalam proses monitoring. Kegiatan KKM ini memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa, bahwa pendampingan kesehatan tidak hanya berfokus pada pemberian intervensi, tetapi juga pada upaya membangun kepercayaan dan hubungan yang berkelanjutan. Melalui pendekatan tersebut, perubahan perilaku kesehatan dapat tercapai secara bertahap dan bermakna. Pendampingan terhadap Bu Alminah menjadi gambaran bahwa sinergi antara edukasi, pemantauan, dan hubungan yang baik dapat mendukung kesiapan kesehatan calon jamaah haji, sekaligus menjadi pembelajaran penting bagi mahasiswa dalam menjalankan peran sebagai calon tenaga kesehatan yang humanis dan berorientasi pada kebutuhan individu.
AQUILA WANGIPRATIWI
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan KKM HIPE Kelompok 37, kami melaksanakan monitoring rutin kepada Calon Jamaah Haji (CJH) di wilayah Sisir, Batu. Kegiatan ini merupakan bentuk pendampingan berkelanjutan untuk memastikan kesiapan kesehatan dan kesejahteraan CJH menjelang pelaksanaan ibadah haji. Pada kunjungan pertama ini, kami melakukan pemantauan kondisi umum calon jamaah, sekaligus menjalin komunikasi dan silaturahmi agar terbangun hubungan yang lebih dekat dan nyaman. Monitoring dilakukan secara langsung di rumah CJH. Selain pemantauan, di akhir kegiatan kunjungan, Ibu Alifiah yakni CJH kami mempersilahkan kami untuk makan siang. Setiap kali kami berkunjung ke rumah Bu Alifiah, beliau selalu memasakkan kami makanan yang enak. Hal tersebut membuat kami tersentuh sekaligus merasa tidak enak. Pada kunjungan kami yang terakhir, kami membawakan ibu alifiah sedikit buah-buah an, minyak, susu, dan oat meal. Hal tersebut tentu sebagai bentuk sukur kami atas kebaikan ibu alifiah. Melalui kunjungan dan monitoring rutin ini, kami berharap calon jamaah haji dapat menjalani persiapan ibadah dengan kondisi yang lebih optimal, baik secara fisik maupun mental. Kegiatan ini juga menjadi pengalaman berharga bagi kami dalam mengaplikasikan peran sebagai pendamping kesehatan di masyarakat.
JELITA QUEENTASARI
Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk memperkuat fondasi spiritual keluarga. Hal tersebut tergambar dalam kegiatan peringatan Isra Mi’raj yang digelar Takmir Masjid Shirothol Mustaqim Tlogomas, Kota Malang, Jumat (16/1) malam. Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut berlangsung khidmat dan dihadiri ratusan jamaah serta warga sekitar di Masjid Shirothol Mustaqim Tlogomas. Tahun ini, panitia mengangkat tema “Isra Mi’raj sebagai Fondasi Spiritual dalam Membangun Keluarga Sakinah.” Peringatan Isra Mi’raj menghadirkan penceramah Ustad Dr. H. Miftahul Huda, SHI., M.H., dosen Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kegiatan ini juga merupakan kolaborasi dengan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) LP2M UIN Malang Kelompok 123 Bhakti Satya, sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan penguatan keimanan menjelang bulan suci Ramadan. Wakil Ketua Takmir Masjid Shirothol Mustaqim, Ir. H. Haris Nasrullah, mengapresiasi peran aktif mahasiswa KKM UIN Malang yang dinilai mampu menghidupkan kembali kegiatan keagamaan di masjid. Ustad Dr H.Miftahul Huda, SHI ,M.H bersama pengurus masjid dan mahasiswa KKM UIN Malang. “Isra Mi’raj mengingatkan kita pada perintah salat sebagai ibadah utama dan fondasi ketakwaan. Dari salat inilah akan tumbuh kekuatan iman yang menopang amal ibadah lainnya,” ujar Ustad Haris dalam sambutannya. Apresiasi serupa juga disampaikan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok 123 Bhakti Satya, Rochmawati, M.Pd. Ia menilai kegiatan tersebut berjalan sukses dan mendapat antusiasme tinggi dari jamaah. “Acaranya sangat bagus sekali jamaah antusias jamaah dari awal hingga penutupan, dan bisa berdampak kepada masyarakat luas karena mengingatkan dan mengajak jama’ah untuk menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai pondasi keluarga yang sakinah mawadah warohmah,” ujarnya. Sementara itu, dalam tausiyahnya, Ustad Miftah menegaskan bahwa peringatan Isra Mi’raj tidak sekadar ritual tahunan, melainkan momentum penting untuk memperkuat ketahanan keluarga sebagai fondasi utama pembangunan masyarakat. Menurutnya dalam konteks keluarga, Isra Mi’raj tidak hanya menjadi bukti kebesaran Allah, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang penguatan spiritual, tanggung jawab, dan nilai kebersamaan dalam menghadapi tantangan hidup. “Peristiwa ini menggambarkan bagaimana Rasulullah menghadapi kesedihan yang mendalam setelah kehilangan dua orang tercinta, Khadijah RA, istri yang setia, dan Abu Thalib, paman yang melindungi. Allah memberikan penghiburan dengan peristiwa agung ini, mengajarkan bahwa di balik setiap kesulitan, ada kemudahan dan pertolongan,” ujarnya. Ustad Miftah menegaskan bahwa pesan utama Isra Mi’raj adalah menjadikan seluruh ruang kehidupan sebagai ruang ibadah, termasuk rumah dan lingkungan keluarga. Ia menekankan bahwa kualitas sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kekuatan keluarga sebagai unit sosial terkecil yang memiliki nilai keagamaan yang kokoh. “Rumah kita harus menjadi masjid, artinya menjadi tempat tumbuhnya nilai ibadah, akhlak, dan keteladanan. Ini bukan berarti rumah harus menjadi bangunan fisik masjid, melainkan harus berfungsi secara metaforis sebagai pusat spiritual dan moral,” tutur Ustad Miftah. Ia menambahkan bahwa salat yang diwajibkan melalui peristiwa Isra Mi’raj merupakan mi’raj bagi orang beriman. Menjadi sarana utama untuk naik mendekat kepada Allah, menguatkan spiritualitas, dan membangun karakter, yang dampaknya harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di keluarga, dengan mendidik anak, menciptakan keteladanan, serta membangun dialog iman untuk membentuk generasi saleh dan berakhlak mulia, menjadikannya pondasi kuat bagi ketahanan keluarga Muslim “Salat bukan sekadar ritual, tetapi mi’rajnya orang beriman, yang membentuk kesadaran batin dan karakter dalam kehidupan sehari-hari, menjadi simbol ketaatan tertinggi dan fondasi keimanan keluarga,” jelasnya. Hikmah Isra Mi’raj dalam konteks keluarga di tahun 2026, Ustad Miftah menekankan pada penguatan spiritual dan ketahanan mental untuk menghadapi tantangan zaman modern. Ia secara khusus menyinggung kondisi di Kabupaten Malang dan Kota Malang yang masih menghadapi angka perceraian relatif tinggi “Masalah kesehatan mental yang berdampak langsung pada keharmonisan rumah tangga utamanya terkait dengan tekanan ekonomi, ketidakstabilan emosional, kesulitan mendidik anak di era digital dan kesulitan komunikasi yang diperparah oleh stres pasca-pandemi dan tuntutan sosial-ekonomi. Inilah tantangan keluarga di era modern yang semuanya menguji keharmonisan keluarga dan menuntut adaptasi serta penguatan nilai agama dan sosial,” jelas Ustad Miftah yang juga fasilitator Bimwin Kementerian Agama. Ustad Miftah juga menyinggung family corner berbasis masjid. Seperti Masjid Shirothol Mustaqim Tlogomas ini sudah ada family corner (layanan konseling dan pendampingan keluarga) yang harus didukung oleh jamaah. Ia menegaskan besarnya potensi masjid sebagai pusat pelayanan umat, termasuk dalam penguatan keluarga, yang harus dikelola secara terstruktur dan kolaboratif. Ditegaskannya fungsi masjid tidak hanya sebatas tempat ibadah ritual, melainkan juga memiliki peran strategis dalam penguatan sosial kemasyarakatan. “Banyak sekali persoalan yang muncul dalam keluarga, dan inilah peran masjid sebagai pusat solusi,” ujarnya. Menurutnya, family corner membuat masjid lebih hidup dan fungsional, sekaligus mendorong partisipasi jamaah lintas usia. Terlebih, letak Masjid Shirothol Mustaqim yang strategis di jalur utama lintas kabupaten dinilai sangat potensial untuk pengembangan layanan berbasis masyarakat. “Pengurus family corner masjid harus mensosialisasikan kepada jamaah dan masyarakat sekitar,” pesannya. Menjelang penutupan tausiyah, Ustad Miftah mengingatkan jamaah bahwa kurang dari satu bulan lagi umat Islam akan memasuki bulan suci Ramadan. Ia mengajak jamaah menjadikan bulan Rajab dan Syaban sebagai fase persiapan spiritual dan penguatan keluarga. “Rajab dan Syaban adalah masa pemanasan spiritual. Mari kita gunakan untuk taubat, memperbaiki ibadah, dan memperkuat hubungan keluarga, kita evaluasi hubungan kita dengan Allah dengan memperbaiki sholat lima waktu, sholat tahajud, membaca Al Qur’an, berbakti kepada kedua orang tua dan membangun suasana rumah tangga yang lebih religius. Mari jadikan Isra Mi’raj sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas ibadah,” pungkasnya yang menutup acara ini dengan pembacaan doa.
YUMNA SELMA SAKANTI
Bulan Januari tahun 2026 ini menjadi saksi betapa hangatnya proses KKN yang Kelompok 22 jalani. Sejak awal hingga akhir kegiatan, kami tidak hanya diterima sebagai mahasiswa yang menjalankan program, tetapi diperlakukan layaknya anak sendiri. Bapak dan Ibu dengan penuh ketulusan memberikan perhatian, kepercayaan, serta dukungan tanpa batas kepada kami. Pengalaman ini mengajarkan bahwa KKN bukan hanya tentang mengabdi dan menjalankan proyek, tetapi juga tentang membangun ikatan kemanusiaan. Di tempat ini, kami belajar arti diterima, dipercaya, dan disayangi. Kenangan bersama Bapak dan Ibu akan selalu kami simpan sebagai bagian paling berharga dari perjalanan KKN kami. Dari dalam hati saya senantiasa mendoakan kesehatan dan kebahagiaan Bapak dan Ibu CJH