MUHAMMAD FAIQ AD DZIKRI
Kenongo, (26/12/2024) -- Dalam upaya pengembangan potensi wisata alam di Desa Kenongo, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Malang bersama Kepala Desa Kenongo melakukan survei lokasi untuk rencana pembangunan area wisata camping ground. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja mahasiswa KKM untuk mendukung pengembangan desa berbasis pariwisata. Survei dilakukan di salah satu kawasan yang memiliki pemandangan alam indah dan strategis untuk dijadikan area camping ground. Kepala Desa Kenongo, Bapak Sugiarto, menyampaikan bahwa rencana pembangunan wisata ini sebenarnya telah lama dirancang oleh pemerintah desa, namun hingga kini belum terealisasi. "Wisata camping ground ini adalah salah satu potensi besar yang bisa mengangkat perekonomian warga. Kami sudah lama memiliki rencana ini, tetapi masih membutuhkan bantuan dari berbagai pihak, termasuk mahasiswa yang memiliki wawasan dan ide-ide segar," ungkap Kepala Desa. Mahasiswa KKM UIN Malang diberi kesempatan untuk membantu mendesain konsep pembangunan wisata tersebut, mulai dari tata letak fasilitas hingga ide promosi yang berkelanjutan. Mereka juga diminta memberikan masukan mengenai bagaimana area ini bisa menjadi destinasi wisata yang menarik tanpa merusak ekosistem alam yang ada. Kami sangat senang bisa terlibat dalam proyek ini. Selain mendukung program desa, ini juga menjadi pengalaman berharga bagi kami untuk belajar langsung tentang pengembangan wisata berbasis masyarakat," ujar salah satu mahasiswa KKM. Survei ini diakhiri dengan foto bersama antara mahasiswa, perangkat desa Kenongo. Keterlibatan mahasiswa KKM diharapkan dapat mempercepat terwujudnya wisata camping ground di Desa Kenongo, sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Dengan adanya kolaborasi ini, Desa Kenongo optimis bahwa wisata camping ground dapat segera menjadi salah satu daya tarik utama di wilayah tersebut.
WAHYU NISA`UL KHARIMAH
Wonosari, 22 Januari 2025 – Upaya mencegah pernikahan dini terus dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya melalui seminar bertajuk "Mimpi Dulu, Nikah Nanti" yang diadakan di SMPN Wonosari. Kegiatan ini diselenggarakan untuk memberikan pemahaman kepada siswa kelas 9 tentang pentingnya pendidikan dan kesiapan diri sejak dini sebelum memutuskan untuk menikah Seminar ini menghadirkan Kak Lia, Duta Pelajar Kreatif 2024, sebagai pemateri utama. Dengan pengalaman dan dedikasinya dalam bidang pendidikan serta pengembangan remaja, Kak Lia memberikan materi yang menggugah tentang pentingnya meraih mimpi dan memprioritaskan pendidikan sebelum menikah. Acara ini dimoderatori oleh Kak Zahra, mahasiswa KKM UIN Malang, yang turut membangun suasana diskusi yang interaktif dan menyenangkan. Dalam paparannya, Kak Lia menekankan bahwa pernikahan dini sering kali menjadi penghalang bagi remaja untuk mewujudkan potensi terbaik mereka. “Setiap dari kalian memiliki mimpi besar. Jangan biarkan keputusan terburu-buru seperti pernikahan dini menghalangi kalian untuk meraihnya. Pendidikan adalah kunci utama untuk membuka pintu masa depan yang lebih baik,” ujar Kak Lia dengan semangat. Seminar ini juga diisi dengan sesi diskusi interaktif, di mana siswa diberikan kesempatan untuk bertanya dan berbagi pendapat. Dari 210 peserta yang hadir, tiga siswa berani mengajukan pertanyaan menarik, seperti cara membagi fokus antara pendidikan dan persiapan hidup mandiri, hingga pandangan tentang pernikahan usia matang. Sebagai apresiasi, mereka masing-masing mendapatkan hadiah dari panitia.Salah satu siswa yang bertanya, Bima, mengatakan bahwa seminar ini membuka wawasannya tentang pentingnya memiliki visi hidup. “Saya jadi lebih paham kenapa pendidikan itu penting. Saya ingin fokus belajar dulu sebelum memikirkan menikah,” ujarnya. Kepala SMPN Wonosari, Moh. Munif, S.Pd.,M.M.Pd, menyambut baik kegiatan ini. “Kami sangat berterima kasih kepada pemateri dan mahasiswa KKM UIN Malang yang telah menyelenggarakan acara ini. Edukasi seperti ini sangat penting untuk menanamkan pola pikir yang sehat kepada siswa,” tuturnya. Melalui seminar ini, diharapkan siswa SMPN Wonosari dapat memahami pentingnya mempersiapkan masa depan dengan baik, meraih mimpi mereka terlebih dahulu, dan memprioritaskan pendidikan sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Link Kompasiana: https://www.kompasiana.com/kkm62066/679f973ded6415068120d5d3/mencegah-pernikahan-dini-seminar-mimpi-dulu-nikah-nanti-di-smpn-wonosari
IMATUL HIMMAH
Wonosari, 22 Januari 2025 – Upaya mencegah pernikahan dini terus dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya melalui seminar bertajuk "Mimpi Dulu, Nikah Nanti" yang diadakan di SMPN Wonosari. Kegiatan ini diselenggarakan untuk memberikan pemahaman kepada siswa kelas 9 tentang pentingnya pendidikan dan kesiapan diri sejak dini sebelum memutuskan untuk menikah Seminar ini menghadirkan Kak Lia, Duta Pelajar Kreatif 2024, sebagai pemateri utama. Dengan pengalaman dan dedikasinya dalam bidang pendidikan serta pengembangan remaja, Kak Lia memberikan materi yang menggugah tentang pentingnya meraih mimpi dan memprioritaskan pendidikan sebelum menikah. Acara ini dimoderatori oleh Kak Zahra, mahasiswa KKM UIN Malang, yang turut membangun suasana diskusi yang interaktif dan menyenangkan. Dalam paparannya, Kak Lia menekankan bahwa pernikahan dini sering kali menjadi penghalang bagi remaja untuk mewujudkan potensi terbaik mereka. “Setiap dari kalian memiliki mimpi besar. Jangan biarkan keputusan terburu-buru seperti pernikahan dini menghalangi kalian untuk meraihnya. Pendidikan adalah kunci utama untuk membuka pintu masa depan yang lebih baik,” ujar Kak Lia dengan semangat. Seminar ini juga diisi dengan sesi diskusi interaktif, di mana siswa diberikan kesempatan untuk bertanya dan berbagi pendapat. Dari 210 peserta yang hadir, tiga siswa berani mengajukan pertanyaan menarik, seperti cara membagi fokus antara pendidikan dan persiapan hidup mandiri, hingga pandangan tentang pernikahan usia matang. Sebagai apresiasi, mereka masing-masing mendapatkan hadiah dari panitia.Salah satu siswa yang bertanya, Bima, mengatakan bahwa seminar ini membuka wawasannya tentang pentingnya memiliki visi hidup. “Saya jadi lebih paham kenapa pendidikan itu penting. Saya ingin fokus belajar dulu sebelum memikirkan menikah,” ujarnya. Kepala SMPN Wonosari, Moh. Munif, S.Pd.,M.M.Pd, menyambut baik kegiatan ini. “Kami sangat berterima kasih kepada pemateri dan mahasiswa KKM UIN Malang yang telah menyelenggarakan acara ini. Edukasi seperti ini sangat penting untuk menanamkan pola pikir yang sehat kepada siswa,” tuturnya. Melalui seminar ini, diharapkan siswa SMPN Wonosari dapat memahami pentingnya mempersiapkan masa depan dengan baik, meraih mimpi mereka terlebih dahulu, dan memprioritaskan pendidikan sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Link Kompasiana: https://www.kompasiana.com/kkm62066/679f973ded6415068120d5d3/mencegah-pernikahan-dini-seminar-mimpi-dulu-nikah-nanti-di-smpn-wonosari
ALIVIA AZ ZAHRA
Selobekiti, sebuah dusun kecil dengan potensi besar pada kerajinan anyaman bambu, kini menjadi sorotan berkat upaya Adhikari Dwidasa yang berkomitmen mengangkat nama para pekerja kreatif lokal. Dengan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, para pengrajin di desa ini menawarkan berbagai produk unik berbasis kearifan lokal yang khas. Pada hari Sabtu dan Minggu, tanggal 4 dan 5 Januari 2025, Adhikari Dwidasa berkesampatan untuk mengunjungi dua pengrajin lokal yang terkenal dan telah sukses di pasaran, bu Malika dan pak Win. Dalam kunjungan tersebut, para peserta diajak untuk melihat langsung proses produksi kerajinan bambu, berbagi ilmu dan tips, serta berdiskusi dengan para pengrajin mengenai tantangan dan peluang bisnis yang ada. Bu Malika merupakan salah satu pengrajin senior yang telah meneruskan usaha kerajinan ini selama beberapa keturunan. Beliau memproduksi berbagai macam kerajinan tangan berbahan bambu, seperti tempe, tedok, piring, topi, dan kipas. Semua proses pengerjaan dilakukan secara manual dengan metode tradisional. Bahan baku utama kerajinan Bu Malika adalah bambu jenis pring apus yang dibeli dari Jatisari, Kecamatan Ngajum, dengan kisaran harga Rp15.000 per batang. Dari satu batang bambu, dapat dihasilkan 30-40 produk kerajinan. Pembuatan kerajinan bambu dilakukan dalam berbagai tahapan seperti pemotongan bambu, pemotongan, penghalusan, pengeringan, penganyaman, dan yang terakhir finishing. Untuk pembuatan 1 kerajinan tangan, hanya membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari, tergantung jenis kerajinan tangan yang diproduksi. Sementara itu, untuk proses pengeringan sendiri memerlukan waktu selama satu hari saat cuaca cerah, namun jika hujan, pengeringan dilakukan dengan memanggang. Produk Bu Malika sering menjadi favorit pelanggan terutama tempe, tedok, dan capil. Selain itu, ia kerap mengikuti lomba kerajinan dan pernah meraih juara pertama tingkat kabupaten. Untuk saat ini, bu Malika hanya memanfaatkan pemasaran secara offline dan dipromosikan dari mulut ke mulut. “Kami memasarkan produk secara langsung ke berbagai daerah, seperti ke pesarean Gunung Kawi, Malang, Cirebon, hingga Kalimantan.”, ujarnya. “Banyak pelanggan datang langsung ke sini,” ujar Bu Malika. Dengan produk yang dihargai antara tiga ribu rupiah hingga dua puluh lima ribu rupiah, bu Malika bisa mencapai omset hingga empat juta rupiah per bulannya. Sementara itu, pengrajin kedua, Pak Win, merupakan salah satu pengrajin yang cukup sukses dan terkenal di dusun Selobekiti. Beliau memulai usahanya pada tahun 2021 yang mana, beliau hanya memfokuskan usaha kerajinan tangan pada pembuatan besek. Berbeda dengan Bu Malika, Pak Win memanfaatkan platform digital, yaitu Shopee yang telah dirintisnya selama kurang lebih tiga tahun, untuk memasarkan produknya. Dengan akun bernama abidzar083, toko onlinenya telah meraih rating 4.7 dari para pelanggannya. Ia telah mengembangkan sistem penjualan berbasis pre-order karena kerajinan besek cukup rentan jika diamkan dalam waktu yang lama. “Minimal pembelian empat produk dan maksimal dua puluh produk per pesanan. Penjualan kami meningkat terutama dalam dua tahun terakhir,” jelas Pak Win. Besek produksi Pak Win dapat dipesan dengan berbagai ukuran dan warna sesuai permintaan pelanggan. Proses pembuatan kerajinan besek pak Win juga memiliki langkah yang hampir sama dengan kerjinan bu Malika. Hanya saja, sebelum tahap finishing, terdapat tahap pewarnaan pada produk apa pun. Proses pewarnaan ini dilakukan dengan mencelupkan produk secara menyeluruh ke dalam panci yang berisi air panas dan telah dicampur dengan pewarna Wantex. Jenis pewarnaan ini aman digunakan untuk menjamin makanan sudah benar-benar kering. Proses pengeringan pada pewarnaan itu sendiri hanya memerlukan waktu sekitar 1-2 jam di musim panas, namun saat musim hujan memakan waktu hingga dua hari. Untuk memenuhi pesanan yang masuk, pak Win juga bekerja sama dengan pengrajin lain, seperti Ibu Ida dengan pembagian keuntungan dengan perhitungan persen yang telah ditentukan oleh pak Win. Selama usaha ini berjalan, Pak Win telah melayani beberapa klien besar, seperti Ms. Glow dan Djoragan 99, bahkan produknya dikirim hingga ke Luar Kota seperti Jakarta, Lumajang, dan Nganjuk. Beliau juga telah melayani bebrapa konsumen luar negeri dari Selangor, Malaysia. Dengan harga besek yang dipatok mulai lima ribu rupiah hingga lima belas ribu rupiah, beliau pernah mencapai omset sebesar Rp9 juta per tahun, dengan sistem pembagian keuntungan berdasarkan tahap produksi: 40% untuk produk yang masih perlu pembersihan serabut dan 25% untuk produk yang sudah bersih. Upaya Adhikari Dwidasa untuk mempromosikan kerajinan lokal Selobekiti berhasil membuka peluang ekonomi bagi para pengrajin. Dengan kombinasi pemasaran tradisional dan digital, produk mereka mampu bersaing di pasar yang lebih luas. “Kami ingin produk Selobekiti dikenal lebih luas, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan semangat inovasi, kami yakin dusun ini dapat menjadi pusat kerajinan yang mendunia,” ujar ketua Adhikari Dwidasa, Rizqi Diana Putra.
NAFI ANBIYAA
Wonosari, 22 Januari 2025 – Upaya mencegah pernikahan dini terus dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya melalui seminar bertajuk "Mimpi Dulu, Nikah Nanti" yang diadakan di SMPN Wonosari. Kegiatan ini diselenggarakan untuk memberikan pemahaman kepada siswa kelas 9 tentang pentingnya pendidikan dan kesiapan diri sejak dini sebelum memutuskan untuk menikah Seminar ini menghadirkan Kak Lia, Duta Pelajar Kreatif 2024, sebagai pemateri utama. Dengan pengalaman dan dedikasinya dalam bidang pendidikan serta pengembangan remaja, Kak Lia memberikan materi yang menggugah tentang pentingnya meraih mimpi dan memprioritaskan pendidikan sebelum menikah. Acara ini dimoderatori oleh Kak Zahra, mahasiswa KKM UIN Malang, yang turut membangun suasana diskusi yang interaktif dan menyenangkan. Dalam paparannya, Kak Lia menekankan bahwa pernikahan dini sering kali menjadi penghalang bagi remaja untuk mewujudkan potensi terbaik mereka. “Setiap dari kalian memiliki mimpi besar. Jangan biarkan keputusan terburu-buru seperti pernikahan dini menghalangi kalian untuk meraihnya. Pendidikan adalah kunci utama untuk membuka pintu masa depan yang lebih baik,” ujar Kak Lia dengan semangat. Seminar ini juga diisi dengan sesi diskusi interaktif, di mana siswa diberikan kesempatan untuk bertanya dan berbagi pendapat. Dari 210 peserta yang hadir, tiga siswa berani mengajukan pertanyaan menarik, seperti cara membagi fokus antara pendidikan dan persiapan hidup mandiri, hingga pandangan tentang pernikahan usia matang. Sebagai apresiasi, mereka masing-masing mendapatkan hadiah dari panitia.Salah satu siswa yang bertanya, Bima, mengatakan bahwa seminar ini membuka wawasannya tentang pentingnya memiliki visi hidup. “Saya jadi lebih paham kenapa pendidikan itu penting. Saya ingin fokus belajar dulu sebelum memikirkan menikah,” ujarnya. Kepala SMPN Wonosari, Moh. Munif, S.Pd.,M.M.Pd, menyambut baik kegiatan ini. “Kami sangat berterima kasih kepada pemateri dan mahasiswa KKM UIN Malang yang telah menyelenggarakan acara ini. Edukasi seperti ini sangat penting untuk menanamkan pola pikir yang sehat kepada siswa,” tuturnya. Melalui seminar ini, diharapkan siswa SMPN Wonosari dapat memahami pentingnya mempersiapkan masa depan dengan baik, meraih mimpi mereka terlebih dahulu, dan memprioritaskan pendidikan sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Link Kompasiana: https://www.kompasiana.com/kkm62066/679f973ded6415068120d5d3/mencegah-pernikahan-dini-seminar-mimpi-dulu-nikah-nanti-di-smpn-wonosari
LIYAH ANIQOH ARIFIN
Dusun Drigu, yang terletak di Desa Poncokusumo, Kabupaten Malang, tidak hanya menawarkan pesona alam yang memikat, tetapi juga menjadi tempat pelestarian tradisi budaya yang kaya akan nilai-nilai luhur. Salah satu tradisi yang sangat khas dan penuh makna adalah mberot, sebuah kegiatan yang merefleksikan semangat gotong-royong, kebersamaan, serta warisan budaya dari para leluhur. Tradisi ini merupakan bagian dari seni pertunjukan bantengan yang berasal dari Jawa Timur. Dalam seni bantengan, mberot mengacu pada peran individu yang mengendalikan kepala banteng selama pertunjukan berlangsung. Istilah ini berasal dari bahasa Jawa Timuran, yang berarti marah, berontak, atau mengamuk. Dalam konteks pertunjukan, mberot menggambarkan luapan energi dan amukan seekor banteng yang penuh semangat. Biasanya, peran banteng dimainkan oleh dua orang; satu berfungsi sebagai kaki depan, sedangkan yang lain menjadi kaki belakang. Kolaborasi ini tidak hanya menampilkan kekompakan, tetapi juga simbol kebersamaan dan harmoni yang menjadi inti dari seni bantengan. Sebelum kegiatan mberot dimulai, seluruh warga Dusun Drigu bergotong-royong membersihkan area yang akan digunakan untuk pertunjukan. Persiapan ini menunjukkan semangat kebersamaan masyarakat, di mana semua orang berpartisipasi untuk memastikan acara berjalan lancar. Setelah lokasi siap, kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh para sesepuh desa. Suasana doa berlangsung khusyuk, ditandai dengan prosesi pembakaran dupa oleh sesepuh. Keharuman dupa menciptakan nuansa sakral yang semakin menguatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya tradisi ini. Tidak hanya para sesepuh desa yang terlibat dalam prosesi doa, tetapi juga para ketua dari empat kelompok mberot yang ada di Dusun Drigu. Setiap kelompok memiliki anggota yang terdiri dari berbagai kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa, yang turut berperan aktif dalam melestarikan tradisi ini. Setelah doa selesai, musik khas bantengan mulai dimainkan. Alunan musik tersebut membangkitkan semangat dan kegembiraan di kalangan masyarakat. Baik anak-anak maupun orang tua tampak antusias menyaksikan pertunjukan yang penuh energi ini. Ketika mberot berlangsung, suasana meriah semakin terasa. Para pemain bantengan menampilkan gerakan yang dinamis dan penuh semangat, mencerminkan energi amukan banteng yang menjadi inti dari pertunjukan ini. Penonton terpukau oleh kekompakan para pemain serta keindahan gerakan yang diiringi musik tradisional. Kesuksesan acara ini tidak lepas dari peran aktif babinsa dan linmas yang membantu menjaga keamanan selama pertunjukan berlangsung. Kehadiran mereka memastikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan tertib. Tradisi mberot di Dusun Drigu tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga wujud pelestarian budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini menggambarkan harmoni antara masyarakat, seni, dan alam, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan budaya untuk generasi mendatang